SUDAHKAH KITA RENDAH HATI, DI TENGAH WABAH SAAT INI?

Bacaan: Matius 21:5

Photo by Ben White on Unsplash

Di sebuah gereja diadakanlah perlombaan “rendah hati”. Perlombaan itu diadakan untuk
mengetahui siapakah orang yang paling rendah hati di gereja tersebut. Setelah melalui
persaingan yang sangat ketat, akhirnya Pak Hambel menjadi juara pertama orang yang paling
rendah hati di gereja tersebut. Selain mendapatkan piala, pak Hambel juga mendapatkan plakat
dengan tulisan “Inilah Orang yang Paling Rendah Hati”. Sejak menjadi juara orang yang paling
rendah hati, setiap mengikuti ibadah hari minggu pak Hambel selalu memakai plakat tersebut
sambil berjalan memasuki gereja dengan kepala mendongak ke atas, untuk menunjukkan
bahwa dia adalah orang yang paling rendah hati. Dengan juara yang dis andangnya, ternyata
membuat pak Hambel bukannya menjadi humble atau menjadi orang yang semakin rendah hati,
tapi justru menjadi orang yang semakin sombong. Akhirnya, gelar orang paling rendah hati itu
dicabut dari pak Hambel.

Kisah diatas mengajarkan kepada kita, bahw a menjadi orang yang rendah hati bukanlah
perkara yang mudah. Tapi, w alau tidak mudah kita harus terus berjuang untuk memiliki sikap
rendah hati, karena rendah hati adalah kunci bagi kita untuk dapat menyelamatkan kehidupan
ini. Bukan hanya hidup kita sendir i tapi juga kehidupan orang lain, bahkan alam semesta ini. Bukankah kehancuran yang terjadi di dalam kehidupan ini, karena ulah orang-orang yang tinggi
hati? Bukankah dosa merasuk di dalam kehidupan manusia, juga karena hilangnya kerendahan
hati?

Allah tahu bahwa jalan untuk menyelamatkan kehidupan manusia adalah dengan jalan
kerendahan hati bukan dan tinggi hati. Peristiw a Palmarum (Minggu Palem) adalah peristiw a
Allah di dalam Yesus Kristus yang merendahkan diri-Nya dengan berjalan menuju ke
Yerusalem. Yesus tahu bahwa Yerusalem adalah kota penuh darah. Sudah banyak nabi yang
dibunuh kota itu (Matius 23:37). Yesus tahu ketika Dia berjalan memasuki Yerusalem, berarti
Dia berjalan menuju kematian di kayu salib. Sebenarnya Yesus punya kekuatan untuk
menghentikan langkah-Nya menuju Yerusalem. Tapi Dia tidak lakukan itu. Karena Dia tahu
kalau Dia berhenti, maka kuasa dosa tidak akan pernah berhenti untuk membinasakan
kehidupan manusia.

Karena Ia lemah lembut itulah yang mendorong Yesus untuk terus berjalan menuju ke
Yerusalem. Kata “lemah lembut” sama artinya dengan rendah hati (humble). Kerendahan hati-
Nya mendorong Yesus memikirkan keselamatan umat manusia dari dosa. Hati dan pikiran
orang yang rendah hati adalah bagaimana hidupnya bisa menyelamatkan kehidupan ini.

Mungkin perjalanan hidup kita di tengah wabah corona saat ini, seperti perjalanan Yesus
menuju ke Yerusalem. Wabah corona membuat kita seperti orang yang “tersalib”, kita tak
berdaya menghadapinya. Jangan putus asa! Jangan berhenti. Teruslah jalani kondisi pandemi
Covid 19 ini dengan kerendahan hati. Maka kerendahan hatimu itu, akan menghentikan virus
corona ini. Dan engkau dapat menyelamatkan kehidupan ini. Sebaliknya, kalau engkau
melaw annya dengan tinggi hati, merasa diri kuat, dengan mengabaikan protokol kesehatan
Covid 19, maka virus corona itu akan semakin menghancurkan kehidupan kita.

erjalanan dalam kerendahan hati memang tidak mudah. Perlu penyangkalan dan
pengendalian diri. Tapi ingatlah, bahw a perjalanan kerendahan hati Yesus menuju Yerusalem
tidak hanya berujung kepada kematian tetapi juga kepada kebangkitan. Akhir dari kerendahan
hati adalah kebangkitan dan kemenangan. Bukankah Saudara juga ingin mengalami
kemenangan dalam kehidupan ini? Pertanyaannya: “Sudahkah engkau rendah hati, di tengah
wabah ini?” Amin.

SELAMAT HARI MINGGU, TUHAN YESUS MEMBERKATI

(Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only)

Mata Yang Dicelikkan

520px-Healing_of_the_Blind_Man_by_Jesus_Christ

Bacaan: Yohanes 9 : 1 – 14

Ngomel! Itulah yang terjadi ketika orang buta sejak lahir disembuhkan Yesus (Yohanes 9:1-41). Si buta itu terlihat dalam pembicaraan dengan orang banyak. Ketika mereka melihatnya tidak buta lagi, muncul perdebatan pendapat diantara orang-orang itu. Ada yang mengatakan bahwa memang ia si buta yang biasa mengemis. Ada yang mengatakan bahwa dia bukanlah si buta yang dimaksud melainkan orang yang mirip dengannya. Ketika mereka sedang mempergunjingkan siapakah dia, orang yang sedang mereka bicarakan itu pun menyatakan diri, “Benar, akulah itu!” (Yoh. 9:9). Sekarang tidak ada lagi yang perlu dipergunjingkan. Namun, apakah cukup? Ternyata tidak!

Masih ada episode berikutnya. Para tetangga membawa orang buta yang sudah melihat itu kepada orang-orang Farisi (Yoh. 9:13). Mereka masih mempersoalkan peristiwa penyembuhan itu. Apa persoalannya? Persoalannya adalah pada hari Yesus mengaduk tanah dan mengoleskannya kepada orang buta tersebut adalah hari Sabat. Mengaduk tanah dan mengoleskan adalah dua tindakan pelanggaran terhadap aturan Sabat. Selain itu Yesus menyuruh orang buta itu membersihkan diri di kolam Siloam. Berarti Ia juga telah menyuruh orang lain untuk melanggar kesucian Sabat itu. Menurut mereka, karena Yesus melakukan pelanggaran itu maka Ia adalah orang berdosa, Yesus bukan berasal dari Allah!

Sementara itu, sebagian yang lain justru mempertanyakan anggapan itu. “Bagaimana seorang berdosa dapat membuat mujizat yang demikian?” (Yoh.9:16). Mereka tentu berpendapat bahwa hanya orang benar yang dapat melakukan itu. Dua pendapat ini memaksa mereka kepada pertentangan. Maka kali ini orang tua si buta dipanggil untuk didengar kesaksiannya. Orang itu menegaskan bahwa memang benar ia itu anaknya dan lahir dalam keadaan buta. Mereka masih berpegang pada pendirian mereka bahwa Yesus adalah orang berdosa yang melanggar kekudusan Sabat.

Si buta yang sudah sembuh tidak mau mengubah pendiriannya. Ia menilai Yesus berdasarkan apa yang telah Yesus perbuat kepadanya. Tidak mungkin Yesus orang berdosa karena orang berdosa tidak akan bisa melakukan mujizat seperti yang dilakukan kepadanya.

Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Terang dunia. Ia telah menerangi si buta, bukan saja secara fisik, melainkan mata hatinya melihat Terang itu. Yesus mengatakan, “Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia.”(Yoh.9:5) Melalui karya Yesus orang mengenal Allah. Dia telah membawa terang itu sehingga manusia dapat membedakan mana kehendak Allah dan mana yang bukan. Kini, Yesus telah kembali ke pangkuan Bapa yang mengutus-Nya. Kini, misi menjadi terang dunia itu Ia percayakan kepada para pengikut-Nya, Anda dan saya. Sudahkah kita menjadi terang dalam lingkungan kita? Amin

SELAMAT HARI MINGGU TUHAN YESUS MEMBERKATI

(UNTUK KALANGAN SENDIRI – Non-Moslem only)

Iman Di Persimpangan Jalan

Bacaan: Matius 4:1-11

Umat Tuhan terkasih, hari ini adalah Minggu pra Paskah I. Selama minggu-minggu pra Paskah, Gereja memberi perhatian khusus pada ajaran tentang sejarah keselamatan. Kisah yang menceritakan tentang kejatuhan manusia dalam dosa yang terus diikuti oleh  belas kasih dan kepedulian Allah yang menyelamatkan. 

Kehendak bebas manusia yang terpikat iming-iming dari si jahat ini berujung pada ketidaktaatan manusia pada ketetapan Ilahi. Tanda-tandanya terlihat ketika manusia sudah mulai kehilangan fokus pada Sabda Kehidupan kekal. Akibatnya hatinya tidak lagi mengarah kepada Tuhan. Ketika hati manusia tidak lagi mengarah kepada Tuhan di sinilah dosa pun lahir dengan riang ria. Akhirnya, jatuhlah manusia itu ke dalam perangkap dosa. 

Jejak ketaatan Kristus yang selanjutnya menjadi pusat perhatian kita, diperlihatkan dalam bacaan Injil. Kisah pencobaan di padang gurun memperlihatkan ketaatan Tuhan pada tradisi kenabian, sebagaimana dilakukan Elia dan Musa. Sebelum dicobai iblis, Tuhan Yesus berpuasa selama 40 hari 40 malam. Kisah Injil Matius 4:1-11 memberikan arah bagi orang beriman untuk menghadapi pencobaan. Kunci kemenangan Tuhan Yesus atas pencobaan adalah fokus pada kekuatan Sabda Allah yang menyatu dalam diri-Nya. Ia yang adalah Sabda Kehidupan itu sendiri menjelaskan seterang-terangnya kepada kita tentang kuasa Sabda Allah itu. Ketika disuruh memerintahkan batu menjadi roti, Tuhan bersabda: “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah”. Kata-kata ini menjelaskan tentang sabda yang ke uar dari mulut Allah adalah sumber kekuatan. Ketika iblis mengacaukan dengan mengutip isi Kitab Suci, Tuhan Yesus tetap fokus kepada Allah, sehingga bersabda: “Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” Ketika dibujuk rayu dengan segala iming-iming duniawi, sekali lagi kekuatan fokus pada Sabda Ilahi sungguh luar biasa. “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” Berkat tetap fokus kepada kekuatan Sabda Ilahi, iblispun lari terbirit-birit. Itulah wujud kepedulian Allah yang terus bersabda.

Selama masa pra-paskah, tentu orientasi hidup beriman sebagaimana ditunjukkan Tuhan Yesus pantas menjadi perhatian. 40 hari pra Paskah adalah saat gladhi rohani demi menguatnya daya-daya adikodrati dalam diri orang beriman. Hanya dengan mendengarkan Kristus dan mau mengikuti jejak-Nya di dunia, kita bisa mengerti tentang kepedulian Allah yang menghapuskan pelanggaran kita. Amin.

Melampaui Kata, Menemukan Makna

Bacaan: Matius 5 : 21 – 37

Setiap kata memberikan gambaran tentang sesuatu. Namun dalam berbagai peristiwa orang berhenti pada kata tersebut secara literal. Apa yang tertulis saja yang digunakan sebagai acuan. Padahal dalam berbagai situasi apa yang tertulis atau terkatakan hanya mewakili sebagian kecil dari yang sebenarnya hendak diungkapkan. Oleh karena itu pada kesempatan ini kita diajak untuk menggali secara mendalam melampaui kata untuk menemukan makna yang hendak disampaikan.

Sebelumnya Yesus mengatakan bahwa Dia datang untuk melengkapi Taurat. Pada kotbah ini Yesus menunjukkan dalam kupasannya terhadap beberapa hukum yang ditulis dalam Taurat. Perintah jangan membunuh dan jangan berzinah digali secara mendalam melampaui kata yang tersurat. Pada umumnya perintah ini dipahami sebagaimana yang tertulis bahwa mereka diminta menjauhkan diri dari pembunuhan dan perzinahan, namun yang dilakukan Yesus melampaui kata untuk menemukan makna. Tindakan membunuh dan berzinah memang bisa muncul begitu saja namun yang sering terjadi tindakan ini diawali dengan hal yang lebih mendasar yaitu dari dalam diri pelakunya. Pembunuhan banyak yang berawal dari kemarahan dan perzinahan berawal dari menginginkan pasangan orang lain dalam hatinya. Hal ini yang perlu diwaspadai dan bahkan dijadikan peringatan dini supaya membunuh dan berzinah bisa dihindari. Bersumpah juga disoroti bahwa dulu orang menggunakannya untuk meyakinkan orang lain. Namun Yesus mengajak untuk melihat bahwa manusia tidak berhak menggunakan nama Tuhan, ciptaannya atau bahkan dirinya sendiri untuk meyakinkan orang lain. Yesus mengajak bertindak melampaui sumpah dengan kejujuran yang tulus dari dalam diri.

Dengan melihat hal-hal yang disoroti Yesus tersebut kita diajak untuk menggali melampaui kata dan menemukan makna yang terkandung didalamnya, terutama dalam menerima perintah-perintah dan firman Tuhan. Apa yang tersirat perlu dipahami melampaui yang tersurat sehingga hidup kita menjadi lebih bermakna. Dalam hidup sehari-hari pun kita juga didorong untuk terus peka terhadap apa yang tersirat daripada apa yang tersurat terutama dari orang-orang di sekitar kita. Kita didorong untuk selalu berusaha memahami sesama dengan melampaui kata dan menemukan makna yang terkandung di dalamnya. Kiranya Tuhan memampukan kita semua. Amin. (Pdt. Yussac CK)

SELAMAT HARI MINGGU TUHAN YESUS MEMBERKATI

Beragama Dengan Akal Sehat

Kata agama bisa dirunut dari berbagai bahasa. Dalam bahasa jawa orang mengarahkan pada kata ageman yang berarti pakaian, agama menjadi sesuatu yang dipakai dalam membawa diri pada kehidupan ini, baik secara pribadi maupun bersama. Agama bisa juga berarti tidak kacau, agama diharapkan membawa hidup lebih teratur. Dalam bahasa sanskerta agama berhubungan dengan filosofi dan tata cara dalam menyembah dewa dan ritual dalam melakukannya. Dengan demikian orang yang beragama diharapkan memiliki hidup yang baik dan melakukan berbagai ritus untuk menjalaninya.

Tema beragama dengan akal sehat diangkat terkait dengan maraknya hidup beragama yang justru bertentangan dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam membawa kebaikan bagi dunia. Saat ini banyak orang membenarkan diri dengan seolah melakukan ajaran agamanya namun justru membawa kerusakan dalam kehidupan bermasyarakat. Melakukan tindakan destruktif atas nama agama dan itu menunjukkan bahwa ada yang meleset dari tujuan hidup beragamanya. Orang percaya diharapkan selalu mengevaluasi diri dengan hidup beragamanya, sudahkah hidup beragamanya membawa dampak yang baik bagi diri sendiri dan masyarakat disekitarnya?

Tuhan Yesus mengarahkan murid-muridnya untuk memberi dampak baik bagi semua orang. Identitas yang diberikan pada para murid adalah sebagai garam dan terang dunia. Garam pada waktu itu merupakan barang sangat berharga dan memberi pengaruh yang baik bagi sekeliling. Ia menyedapkan rasa dan mengawetkan. Dia berfungsi saat bercampur dengan yang lainnya. Sementara terang merupakan tanda kehadiran yang membawa hal-hal baik. Terang mengalahkan kegelapan. Terang dibutuhkan supaya hidup berjalan dengan baik. Terang memberi dampak saat dia ditunjukkan pada banyak orang. Identitas ini selalu mengikuti setiap kita yang percaya kepada-Nya. Selain itu Yesus juga menekankan pentingnya melakukan ritual keagamaan yang baik. Saat banyak orang melakukan ritual dengan baik namun dampak positifnya meredup, Yesus mendorong para muridnya memiliki ritual beragama yang baik sekaligus dampak baik yang signifikan. Dalam hal inilah hidup orang percaya sungguh menjadi berkat.

Dengan melihat yang diinginkan Yesus kita bisa melihat bahwa dalam beragama dibutuhkan akal sehat. Jika hanya berhenti pada ritualnya saja maka dia tak lebih dari upacara fisik semata. Jika hanya mengamalkan nilai tanpa ritus maka agama berhenti pada konsep dan tidak bisa menjadi saksi bagi sesama. Antara nilai-nilai dan ritual perlu ada keselarasan sehingga bisa menjadi saksi yang efektif bagi sesama. Akal sehatlah yang bisa menyelaraskan keduanya dan membawa berkat bagi sesama.

Kiranya kita dimampukan melakukannya. Amin

SELAMAT HARI MINGGU TUHAN YESUS MEMBERKATI