Arif dan istri memiliki seorang anak lelaki bernama Tobat. Mereka mendidik Tobat untuk sungguh-sungguh memahami pentingnya membuat pilihan dan melakukan apa yang benar. Untuk itu setiap kali Tobat mengambil pilihan yang buruk atau keputusan yang salah ia harus memakukan sebatang paku di papan yang dinamai Papan Penyesalan yang ditempelkan di dinding di belakang rumah mereka.
Sebaliknya, jika Tobat menjalani hari-hari hidupnya dengan mengambil pilihan yang baik, membuat keputusan yang benar, maka Tobat diijinkan mencabut salah satu paku dari Papan Penyesalan itu. Sampai Tobat beranjak menjadi seorang pemuda selalu saja ada 2 atau 3 paku di Papan Penyesalan itu. Rupanya Tobat menancapkan pakupaku baru sesering ia mencabut paku-paku lama. Tobat yang sudah menjadi pemuda dewasa makin mampu mengambil pilihan yang baik, keputusan yang benar, sehingga suatu hari tidak ada lagi paku tertancap di Papan Penyesalan itu. Saat itulah Pak Arif dan istrinya memanggil Tobat, mengajaknya ke belakang rumah dan bercakap-cakap . “Tobat, kami ingin kau mengamati Papan Penyesalan ini”, kata Pak Arif. “Ayah-ibu senang kan bahwa sekarang tidak ada lagi paku tertancap di papan itu”, ujar Tobat. “Tentu saja kami senang nak. Kami senang bahwa kau semakin mampu memilih yang baik dan mengambil keputusan yang benar”, sahut ibunya sambil tersenyum, “Tapi lihatlah apa yang terjadi dengan papan itu”. Tobat memperhatikan lagi Papan Penyesalan itu.
Ia menyadari bahwa semua paku yang pernah ditancapkan dan kemudian dicabut itu telah meninggalkan lubanglubang kecil di papan itu. Lalu pak Arif berkata: “Kami hendak mengatakan sesuatu mengenai pilihan-pilihan atau keputusan-keputusan yang tidak baik, yang salah. Meskipun engkau mungkin benar-benar menyesalinya dan engkaupun telah dimaafkan, namun ingatlah bahwa tetap akan ada dampak yang tersisa, sama seperti lubang-lubang di Papan Penyesalan ini. Benar sekarang tidak ada lagi paku yang tertancap di sana, namun lubang bekas paku-paku itu masih tetap ada”. Ibunya menyambung, “Mungkin kita bisa mengisi dan menutup lubang-lubang itu dengan dempul serta meratakannya, tapi papan itu tidak lagi sama seperti sebelum dipaku”. Bukankah itu yang terjadi dalam kenyataan hidup?
Mungkin kita melakukan pilihan dan keputusan yang buruk dan salah. Oleh karena itu kita telah mendukakan Tuhan serta melukai hati orang lain. Kemudian kita sadar, kita menyesal, kita mohon ampun pada Tuhan dan meminta maaf pada orang yang kita lukai hatinya. Itu bisa terjadi dalam relasi antara suami-istri, orang tua-anak, anak-saudara sebagai satu keluarga. Karena kemurahan dan belas kasihannya Tuhan mengampuni kita, sangat boleh jadi Dia tidak mengingat-ingat kesalahan kita. Namun bagaimana dengan orang yang telah kita lukai, kita sakiti hatinya? Sekalipun dia telah memaafkan kita tapi tidak berarti urusannya tuntas selesai. Luka hatinya belum tentu segera sembuh, bahkan mungkin luka itu akan tetap membekas. Kalau begitu apakah tidak ada kemungkinan untuk terjadi pemulihan? Ulangan 30:2-3 mengatakan: “dan apabila engkau berbalik kepada TUHAN, Allahmu, dan mendengarkan suara-Nya sesuai dengan segala yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, baik engkau maupun anak-anakmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, maka TUHAN, Allahmu, akan memulihkan keadaanmu dan akan menyayangi engkau. Ia akan mengumpulkan engkau kembali dari segala bangsa, ke mana TUHAN, Allahmu, telah menyerakkan engkau.” Pemulihan sejati dimungkinkan terjadi hanya ketika kita mau ”berbalik” kepada Tuhan Allah.
Baik orang yang sungguh-sungguh mau bertobat, tapi juga orang yang terlukai hatinya namun sungguh-sungguh ingin memaafkan dan tersembuhkan dari luka hatinya. Kuasa pemulihan hanya ada di dalam Tuhan. Orang yang pernah melakukan pilihan dan keputusan yang salah akan dipulihkan, dimampukan untuk sungguh-sungguh menjalani pertobatan sejati hanya ketika ia mau mengandalkan Tuhan dan hanya Tuhan. Orang yang pernah mengalami luka hati juga dimungkinkan untuk bisa mengalami pemulihan hanya ketika ia mau mengandalkan Tuhan dan hanya Tuhan.
Sebab hanya di dalam kekuatan kasih Tuhan orang akan dimampukan mengampuni dan menerima orang lain sebagaimana Tuhan sudah menerima setiap orang yang mau menyambut anugerah pengampunan-Nya. Di dalam kekuatan kasih Tuhan jugalah orang yang tersakiti dan terluka hatinya bisa mengalami pemulihan. Selamat menyambut dan merawat karya pemulihan Tuhan Allah bagi keluarga-keluarga kita.
27 Oktober 2024
Pdt. Em. Ronny Nathanael
*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only