Apa Katamu Tentang Aku

Markus 8:27-38

Karena tokoh-tokoh ini diyakini sebagai perintis jalan dan pembawa berita dari Mesias. Ia akan memulihkan keadaan dan membawa keteraturan di tengah kekacauan untuk menyiapkan jalan bagi Mesias. Dengan jawaban di atas, mereka meyakini bahwa Yesus bukanlah Mesias. Itu berarti mereka masih tetap menunggu kedatangan Mesias.Pengertian Mesias yang diajarkan Yesus berbeda dengan pemahaman orang banyak, bukan sebagai raja yang berkuasa, tapi anak manusia yang menanggung banyak penderitaan, ditolak, dibunuh dan bangkit pada hari yang ketiga.

Yesus akan ditangkap dan mati di kayu salib dan Allah yang membangkitkanNya dari kematian. Banyak orang tidak siap menerima konsep ini, mereka masih mengharapkan pemimpin yang membebaskan mereka dari kesakitan, bukan seorang yang mengalami kesakitan dan kematian.Kita harus mengenal Yesus dengan benar, agar menemukan panggilan-Nya dalam hidup kita.Pengenalan kita akan Yesus terkait tiga hal, yaitu relasi, konsekuensi dan tugas kita sebagai pengikut Kristus.Relasi.

Tujuan kita mengenal seseorang akan menentukan relasi kita dengannya. Sebagai contoh relasi kita dengan pasangan tidak mungkin sama dengan seorang teman biasa. Relasi kita dengan Kristus bertujuan untuk membawa kita menjadi pengikut-Nya, sehingga kita harus sungguh-sungguh mengenalNya bahkan setia kepada-Nya. Jika kita malu mengaku sebagai pengikut-Nya, Dia juga berhak untuk tidak mengakui kita sebagai murid-Nya.Konsekuensi. Mengenal Kristus membawa konsekuensi untuk memahami makna kehadiran-Nya didunia. Pengenalan ini membawa konsekuensi untuk merespon karya keselamatan-Nya bagi kita. Respon ini kemudian berlanjut dengan konsekuensi untuk memberitakan karya keselamatan Kristus kepada sesama yang kita jumpai dalam kehidupan kita.

Jika pengenalan kita benar, maka konsekuensi ini tidak akan menjadi tekanan, sebaliknya justru rasa syukur yang disertai kasih kepada sesama.Tugas. Pengenalan yang benar akan Kristus membuat kita menyadari tugas panggilan hidup kita. Tugas ini merupakan tindak lanjut atau wujud nyata dari konsekuensi tadi. Bedanya adalah kita menyadarinya sebagai bagian dari pengutusan Kristus kepada kita.

Tugas kita ada 2, yaitu: Menjadi pengikut Kristus dan memberitakan Injil Kristus.

(1) Menjadi pengikut Kristus membuat kita menyangkal diri, karena arah hidup yang harus kita ikuti berbeda dengan keinginan daging kita. Di samping itu kita harus memikul salib, atau tanggung-jawab yang Kristus berikan kepada kita. Kita harus memberi diri untuk dibentuk dan diubah menurut kehendak Kristus.

(2) Untuk memberitakan Injil Kristus, kita harus memahami dan mengalaminya. Injil itu harus hidup dalam hidup kita. Tanpa memahaminya, kita takkan tahu arti dan tujuan hidup kita.

Pemberitaan Injil akan menjadi tugas menggembirakan, karena kita telah menerima anugerah keselamatan, dan kita sedang dipertemukan dengan seorang yang akan diselamatkan. Peran kita sebagai bagian dari karya keselamatan Allah, menjadi sebuah sukacita tersendiri.

12 September 2021

Pdt. Samuel Christiono

*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only

Ketabahan Dalam Berharap

Markus 7 : 24 – 37

Firman Tuhan hari ini menampilkan sosok wanita Siro-Fenisia, serta seorang yang tuli dan gagap (bisu), yang berjuang untuk memperoleh kesembuhan dari Tuhan Yesus. Dibutuhkan upaya keras dan pengharapan yang teguh, hingga mereka memperolehnya dari Yesus.Seperti kedua tokoh di atas, kitapun nyaris tumbang di tengah pandemi ini, jika tidak memiliki ketabahan dan pengharapan yang teguh dalam Kristus. Paul G. Stoltz meneliti daya juang seseorang ketika menghadapi kesulitan hidupnya.

Ada 4 dimensi yang mempengaruhi kadar kemampuan (Adversity Quotient) seseorang dalam mengatasi kesulitan untuk bertahan hidup, yaitu CO2RE, dan beberapa unsur ini muncul pada wanita Siro-Fenesia dan orang yang bisu dan tuli.Keempat dimensi itu:

(1) Control [C]: Berapa besar seseorang mampu mengendalikan diri dan kesulitan yang dihadapinya.

(2) Origin: & Ownership [O2]. Origin: Sejauh mana seseorang mengenali siapa yang jadi sumber masalah. Ownership: Keberanian seseorang untuk bertanggung-jawab dan fokus kepada penyelesaian masalah.

(3) Reach [R]: Sejauh mana kesulitan yang dihadapi akan mempengaruhi bagian/sisi kehidupannya.

(4) Endurance [E]: ketahanan seseorang dalam menghadapi situasi sulit yang tak terprediksi lama waktunya.Respon rendah hati wanita Siro-Fenesia terhadap kata-kata Yesus sangat menyakitkan, menunjukkan tingginya kontrol diri [C]. Kepedulian terhadap anaknya yang dirasuk setan, membuatnya bertanggungjawab dan memperjuangkan kesembuhannya [O2].

Kata-kata pedas Tuhan Yesus tidak membuat wanita Siro-Fenesia itu meledak, karena pengalaman merawat anak yang dirasuk setan itu justru membuatnya lebih sabar dan sayang kepada anaknya [R]. Dia tak pernah tahu kapan setan itu bisa diusir keluar dari anaknya, namun ia tahu bahwa ia sedang berjumpa dengan Yesus yang diyakini dapat menyembuhkan anaknya [E].

Mari kita bergandengan untuk saling menopang dan menguatkan, hanya dengan ketabahan dan pengharapan yang teguh dalam Yesus, kita akan sanggup menghadapi pandemi dan segala kesulitannya dengan kemenangan.

5 September 2021

Pdt. Samuel Christiono

*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only

Hidup Beriman Yang Benar

Markus 7:1-8, 14-15, 21-23

Dalam kenyataan bisa dibedakan ada berbagai kelompok pemeluk agama Kristen berdasarkan waktu: yang tahunan, yang semesteran, yang triwulanan, yang bulanan, yang mingguan. Paling banyak masih yang mingguan. Yaitu pemeluk agama Kristen yang menunjukkan kekristenannya seminggu sekali di gereja. Kita dipanggil untuk menjadi orang Kristen, pengikut Kristus, bukan sekedar pemeluk agama Kristen. Orang Kristen adalah pengikut Kristus yang setia dan tekun senantiasa mewujudkan hidup beriman yang benar dalam keseharian yang dijalaninya, di mana pun, kapan pun.

Rombongan orang Farisi dan ahli Taurat menyoal ketidaktaatan para murid Yesus pada adat istiadat nenek moyang orang Yahudi, yaitu ritual pembasuhan tangan. Ritual itu adalah bagian dari tradisi diseputar meja makan yang mrpk perluasan dari peraturan dalam kitab Imamat. Detail yang dikembangan itu akhirnya memiliki nilai yang sejajar dengan identitas orang Yahudi sebagai umat perjanjian. Kasarnya, kalau kamu adalah seorg Yahudi ya kamu harus mempraktikkan ritual pembasuhan tangan ini karena itu adalah salah satu bukti bahwa benar kamu adalah umat perjanjian. Maka pelanggaran terhadap aturan ini dianggap menciderai jati diri sebagai Umat Tuhan.

Praktik-praktik ritualisme seperti itu ujungnya makin mengokohkan eksklusivisme kelompok-kelompok tertentu di kalangan orang Yahudi sendiri. Bahwa ada kelompok eksklusif, kelas atas yang mempraktikkan seluruh ritual keagamaan dengan tekun. Dan hal itu menjadi kebanggaan mereka, sehingga mereka memandang rendah kelompok lain yang tidak selalu atau bahkan tidak mempraktikkan ritual itu. Ini esensi permasalahan yang mau dipersaksikan oleh Injil Markus.Mari kita lihat bagaimana Yesus merespons hal ini.Bagi Yesus apa yang dipraktikkan orang Yahudi, khususnya oleh kelompok eksklusif yang sangat menekankan ritual, ketaatan pada peraturan yang adalah rekaan manusia itu BUKAN menunjukkan sikap beriman yang benar, melainkan kemunafikan. “…memuliakan Tuhan dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada Tuhan”. Munafik karena tidak ada integritas.

Kritik Yesus yang kedua: “Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia”. Itu adalah dampak dari kemunafikan yang mereka praktikkan. Ritual yang dipraktikkan seolah-olah menunjukkan ibadah mereka kepada Tuhan. Namun apa yang mereka ajarkan adalah pikiran mereka sendiri. Lebih celaka lagi lalu memakai nama Tuhan untuk mengotorisasi, mengabsahkan pemikiran yang mereka ajarkan.

Kritik yang ketiga kita jumpai dalam ayat 8: “Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia”. Ini kecenderungan sikap legalistik yang dipraktikkan oleh orang-orang Farisi dan ahli taurat. Bahwa yang diutamakan, yang dipandang paling penting adalah ketaatan harfiah pada berbagai aturan yang telah menjadi bagian dari adat istiadat. Seperti komplain mereka di awal “tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita”.Bahwa akhirnya memang perintah Allah malah diabaikan demi ketaatan pada adat istiadat. Maka tidak heran kalau kemudian Yesus menukik pada apa itu esensi beriman yang benar. Beriman yang benar pada intinya adalah urusan hati.

Dalam keutuhan kesaksian Alkitab hati adalah istilah yang dipakai untuk menunjuk pada: pusat kehidupan manusia, meliputi bukan cuma perasaan tapi juga pertimbangan dan kehendak. Oleh karena itu hati adalah juga daya yang mendorong orang memilih dan melakukan sesuatu.Maka apa yang ada di dalam hati menjadi sangat penting. Dengan tegas dan keras Yesus mengingatkan: “…dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.”Beriman yang benar adalah urusan kesungguhan mengarahkan dan melekatkan hati pada Tuhan dan segala kehendak-Nya. Dengan arah dan kemelekatan hati yang seperti itu beriman adalah mengatakan NO, TIDAK pada segala sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Dan sebaliknya mengatakan YES, YA, pada semua yang Tuhan kehendaki.

Dengan begitu beriman yang benar menjadi sesuatu yang integral dalam praktik keseharian hidup yang kita jalani. Kita tidak menjadi Kristen tahunan, triwulanan, bulanan, mingguan, melainkan menjadi orang Kristen, pengikut Kristus all the time, setiap saat, di mana pun kita berada. Tuhan menolong kita. AMIN. (RN)

29 Agustus 2021

Pdt. Ronny Nathanael

*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only

Berderap Dalam Persekutuan Kasih dan Karya

Yohanes 6 : 56 – 69

Ada berbagai alasan, motif dan tujuan mengapa orang mau menggabungkan diri dengan sebuah komunitas tertentu. Bisa karena kesamaan minat, kesamaan tujuan, kesamaan kepentingan dan yang seterusnya.Tapi ada juga yang dalam sosiologi kita kenal dengan istilah primordialisme. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, primordialisme diartikan sebagai pandangan yang memegang teguh hal-hal yang dibawa sejak kecil, baik tradisi, adat istiadat, kepercayaan, maupun segala sesuatu yang ada di dalam lingkungan pertama.Menurut sosiolog Robuskha dan Shepsle, primordialisme merupakan loyalitas yang berlebihan terhadap suatu budaya subnasional, yakni seperti suku bangsa, agama, ras, kedaerahan, dan keluarga.

Secara disadari maupun tanpa disadari primordialisme dengan kadar yang berbeda-beda ada dalam diri manusia pada umumnya. Bahwa orang merasa lebih aman dan nyaman kalau berada di antara orang-orang yang memiliki makin banyak kesamaan dengan kita. Sama bangsanya, sama etnisnya, sama sukunya, sama agamanya, dan yang seterusnya. Tapi kita harus hati-hati.Sebab kalau kecenderungan itu makin kuat maka kita bisa terjebak pada eksklusivisme, yaitu sikap yang menganggap kelompok kami lebih baik, lebih benar, lebih suci, dan yang sejenisnya. Jadi kalau bicara kelompok suku bangsa, maka eksklusivisme akan membuat orang dari suku X akan memandang orang dari suku lain lebih rendah ketimbang sesama suku X. Kalau bicara kelompok agama, maka eksklusivisme akan mendorong orang yang beragama A akan memandang orang yang beragama B lebih rendah ketimbangkelompok agama A.

Jangankan beda agama, satu agama beda aliran saja bisa saling meninggikan diri dan merendahkan yang lain. Di dalam kekristenan pun bukankah itu terjadi? Entah secara terbuka atau tersamar di sana-sini masih ada sikap seperti itu kalau kita bicara denominasi yang beragam.Pada dirinya sendiri mayoritas anggota jemaat GKBI-KL adalah orang-orang Indonesia yang berasal dari berbagai denominasi. Setiap denominasi punya keunikan sendiri, oleh karena itu bukan tidak mungkin tradisi bergereja di gereja asal masih membekas Seandainya kecenderungan primordialisme masih kuat mewarnai mindset kita, maka bisa kita bayangkan apa yang akan terjadi. Betapa sulitnya untuk berderap dalam kesatuan sebagai satu tubuh Kristus.Kerinduan dan kesungguhan untuk menghadirkan diri sebagai gereja yang esa, juga di negeri Malaysia ini, tidak menghilangkan keragaman yang ada.

GKBI bersama gereja-gereja lain berkarya sesuai dengan keunikan yang Tuhan anugerahkan kepada masing-masing Gereja namun terbebas dari primordialisme apalagi eksklusivisme. Keunikan diri tidak membuat si aku menganggap dirikulah yang paling baik, paling benar, paling istimewa dan yang seterusnyaApa yang harus ada pada gereja agar hal itu bisa mewujud nyata dan terpelihara?Teks Injil Yohanes mengatakan kuncinya adalah: “…, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.” Mengapa begitu? Karena kita tahu bahwa Yesus ketika menyerahkan diri-Nya menjadi makanan dan minuman sejati seperti tema Minggu lalu, Ia telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, seperti dipersaksikan dalam Efesus 2:14-16.

Perseteruan yang dimaksudkan di sini adalah permusuhan yang bersumber pada pementingan diri sendiri, egoisme. Bukankah akar primordialisme, eksklusivisme adalah pementingan diri sendiri, egoisme? Maka benarlah bahwa hanya ketika kita tinggal di dalam Dia dan Dia di dalam kita maka tembok-tembok pemisah di antara kita, diantara sesama anggota GKBI, antar denominasi, DAPAT DIRUBUHKAN dan kita bisa berderap bersama dalam persekutuan kasih dan karya. Lalu semangat itu dengan kekuatan dan hikmat Allah terus diperluas, hingga merubuhkan juga tembok pemisah agama, antar suku bangsa dan yang seterusnyaKalau membayangkan urusan “kita tinggal di dalam Yesus dan Yesus tinggal di dalam kita” maka saya segera membayangkan seperti kita hubungan kita dengan udara dan kandungan oksigennya. Kita baru bisa hidup hanya jika kita “tinggal” di dalam udara dengan kandungan oksigennya dan udara, persisnya oksigen, “tinggal” di dalam kita.

Saya membayangkan kondisi kesulitan bernafas yg dialami orang yang terpapar covid itu adalah seperti orang yang gagal menyambut Yesus untuk tinggal di dalam dirinya. Seumpama udara dengan kandungan oksigennya, Yesus nya ada di luar tubuh kita, tapi ada kendala yang membuat Dia tidak bisa masuk dan menghidupi kita Dan kalau kendala itu tidak diatasi maka kita akan kehilangan kehidupan sejati.Kendalanya bahwa sebagian orang mau menyandang nama Kristus namun tidak bersedia menundukkan diri, pikiran dan kehendak kepada-Nya: “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” (ay 60) “Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia” (ay 66).Kendalanya adalah karena apa yang aku harapkan, aku inginkan untuk dilakukan, dinyatakan, diajarkan Yesus tidak sama dng apa yang Yesus lakukan, nyatakan, ajarkan. Lalu bukannya menundukkan diri, pikiran dan kehendak kepada-Nya, sebagian orang malah memilih jalannya sendiriMaka harus ada keyakinan penuh seperti didemonstrasikan Petrus saat itu: “… kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.” Percaya yang berarti menerima Yesus sebagaimana adanya Dia, bukan menjadikan Dia seperti maunya kita, sekalipun dengan akal pikiran yang ada pada kita, kita tidak selalu mengerti apa yang sebenarnya Ia lakukan, nyatakan dan ajarkan. Mari dengan penuh sukacita dan ketulusan kita menyambut Allah Trinitas yang di dalam Yesus memanggil kita untuk hidup di dalam-Nya, menyambut anugerah yang Ia sediakan, yaitu kesediaan-Nya untuk hidup di dalam kita.

Agar dengan demikian keragaman yang ada di diantara kita tidak menjadi tembok pemisah melainkan menjadi kekayaan untuk berderap bersama dalam persekutuan kasih dan karya agar nama Tuhan makin dipermuliakan. Tuhan menolong kita. AMIN. (RN)

22 Agustus 2021

Pdt. Ronny Nathanael

*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only

Makanan Dan Minuman Sejati

Yohanes 6 : 51 – 58

Manusia membutuhkan makanan dan minuman untuk bisa bertahan hidup. Yesus mengatakan: “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” Apa reaksi orang-orang Yahudi? Yoh 6:52 mencatat, “Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan.” Lagi-lagi soal miss-persepsi, miss-konsepsi. Banyak hal dari pengajaran Yesus, atau apa yang dipersaksikan Alkitab pada umumnya, yang memang perlu dipahami dengan iman yang rasional dan sekaligus supra-rasional namun bukan irasional.

Yesus dengan tegas menyatakan: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.” (Yoh 6:54-55). Jadi yang Yesus katakan itu khan begini: supaya bisa mempunyai hidup, agar bisa mempunyai hidup kekal dan dibangkitkan pada akhir zaman maka syaratnya orang harus makan daging dan darah Yesus.

Kata hidup, zoe, yang digunakan dalam teks kita ini menunjuk pada kehidupan yg sejati, hidup dalam kepenuhannya. Yaitu kepenuhan hidup sebagaimana rancangan Allah ketika menjadikan manusia menurut ”gambar dan rupa-Nya” Kepenuhan hidup yang dirusak oleh manusia ketia memberi diri dikuasai oleh dosa.Manusia gagal untuk memenuhi hakikat fungsionalnya sebagai gambar dan rupa Allah, gagal menghadirkan kasih Allah, kebenaran Allah, keadilan Allah dan yang seterusnya. Nah kepenuhan hidup inilah yang akan dipulihkan ketika orang mau menerima kehadiran dan karya Yesus seperti orang mau menerima makanan, minuman yang diperlukan untuk tetap hidup.

Dan Yesus memberikan diri-Nya, hidup-Nya secara total supaya kita bisa mendapatkan kepenuhan hidup itu.Daging-Nya adalah benar-benar makanan dan darah-Nya adalah benar-benar minuman karena sengsara dan kematian yang dialami Yesus adalah sengsara dan kematian yang sesungguhnya.

Yesus benar-benar menderita sengsara dan benar-benar mati, bukan pura-pura sengsara dan pura-pura mati.Dalam sejarah gereja dicatat pernah ada pengajaran yang disebut DOKETISME, Docetism, yang menolak aspek kemanusiaan Yesus, menolak prinsip inkarnasi. Ajaran ini mengatakan Yesus cuma 100% ilahi. Dia Cuma menampakkan diri seperti manusia, tapi tidak pernah sungguh-sungguh menjadi manusia. Oleh karena itu Yesus tidak pernah benar-benar menderita sengsara dan tidak pernah benar-benar mati.

Ajaran yang menyesatkan ini sangat menarik dan bisa menyelesaikan pertanyaan eksistensial yang masih suka diajukan sebagian orang: Bagaimana mungkin Yesus yang 100% ilahi itu menderita sengsara dan mati? Namun kita harus sungguh-sungguh hati-hati, sebab ajaran ini dampaknya luar biasa. Kalau Yesus cuma pura-pura menderita sengsara dan pura-pura mati maka celakalah kita, karena kalau benar demikian maka penebusan belum lagi terjadi.

Yesus harus benar-benar menderita sengsara dan benar-benar mati agar bisa menjadi tebusan atas dosa manusia dan dunia. Itu sebabnya Yesus berkata: “daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benarbenar minuman.” Itu juga sebabnya benarlah apa yang dikatakan Yesus: “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.” Sekarang persoalan adalah bagaimana cara kita menyambut “Makanan dan Minuman Sejati” itu?Dalam ayat 56 Yesus berkata: Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Kuncinya menurut saya adalah kata kerja “TINGGAL” Kata ini diterjemahkan dari kata kerja meno. Kata kerja aktif ini punya beberapa arti pokok: tinggal dalam arti tidak memisahkan diri, terus menerus hadir bersama, tidak berubah. Seperti makanan dan minuman ketika kita memakannya maka sari-sarinya menjadi satu dengan diri kita demikianlah juga yang semestinya terjadi ketika kita “makan daging Yesus, minum darah Yesus” sebagaimana dilambangkan lewat SPK.

Ketika Yesus tinggal di dalam kita dan kita tinggal di dalam dia maka yang seharusnya dan sepatutnya terjadi bahwa kita terus berproses untuk memiliki “pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” Sederhananya begini: dalam semua relasi yang kita jalin (lingkungan keluarga, pekerjaan, gereja, masyarakat) dalam setiap peristiwa yang kita alami, kita selalu akan mempertanyakan apakah yang aku pikirkan ini, apakah perasaanku ini, bersesuaian, cocok, compatible dengan pikiran dan perasaan Yesus Tuhanku? Kalau jawabannya NO, TIDAK, maka jangan dilanjutkan, karena pasti salah. Kalau proses seperti itu terjadi maka kita berarti sedang berproses mencerna dengan baik “makanan dan minuman sejati” itu agar Dia tinggal di dalam aku dan aku tinggal di dalam Dia.“Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapayang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.”

15 Agustus 2021

Pdt. Ronny Nathanael

*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only