Merayakan Kepedulian Allah Pada Manusia

(Lukas 2 : 1 – 14)

Yang Ilahi sering digambarkan sebagai sosok yang jauh dari manusia, memang tinggi dan mahakuasa, maha menentukan nasib tetapi dia tidak terhampiri, sekali mengambil keputusan tidak bisa salah dan tidak bisa diubah lagi. Dia tidak peduli lagi bahwa mahluk ciptaannya jungkir balik menjalani nasib yang sudah ditentukannya bagi mereka. Yang Ilahi itu tidak punya hati, dan tidak bisa menyesal. Ini berbeda dengan Allah yang diberitakan oleh Alkitab. Apa keunikan Allah yang diberitakan oleh Alkitab dibandingkan dengan para ilah? Ia punya hati, bisa berprihatin, bisa bersimpati, dan tidak menyimpan perasaan-Nya itu. Ia melakukan sesuatu. Perhatikan Keluaran 3:7-8 berikut : Dan TUHAN berfirman: “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.

Allah tidak cool, berdarah dingin serta merasa nasib bani Yakub di Mesir yang ditindas dan mengalami kerja paksa yang kejam oleh Firaun serta bersikap acuh tak acuh. Emangnya gue pikirin?! Allah seperti diingatkan kembali pada perjanjian yang telah dibuat-Nya dengan nenek moyang bangsa tadi ; dengan Abraham, Ishak, dan Yakub. Ia merasa iba, berbelas-kasihan, bersimpati dan tergerak hati. Ia tidak menyimpan perasaan-Nya ini. Ia melakukan tindakan yang nanti menjadi ciri unik bagi penyataan Ilahi di sepanjang Alkitab. ALLAH TURUN dan bertindak. ALLAH MEMBEBASKAN ! Allah peduli dan Allah turun! Dari Perjanjian Lama sampai nanti puncaknya di Perjanjian Baru – ada dinamika kontinyuitas dan diskontinyuitas.

Allah turun, ini sudah kontroversial tetapi menjadi bentuk kesinambungan penyataan diri Allah di PL. Bukan hanya Dia turun tetapi Dia menjadi manusia ; ini yang ketidak sinambungannya. Sikap radikal dan revolusionel yang sungguh sulit dijelaskan dan menimbulkan perbantahan sampai masa kini. Meski pun demikian hal ini sudah menjadi realitas atau kenyataan bahkan menjadi kebenaran. Allah tidak pernah lupa pada mahluk ciptaan-Nya sendiri tetapi setia kepada mereka dan terus menghargai serta menghormati mereka. Itu sebabnya Dia tidak merasa hina untuk menjadi sama dengan ciptaan-Nya meski pun tetap ilahi. Ia selalu berprihatin, menolong, membantu, dan menyatakan rasa setia-kawan yang full terhadap nasib hidup mereka. Perayaan Natal memperingati dan mengenang tindakan hebat ini serta mendorong orang yang mengimani Kristus untuk juga mengambil sikap dan tindak yang sama dengan dengan Sang Junjungan, Tuhan Yesus Kristus

24 Desember 2023
Pdt. Em. Samuel Santoso
*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only

Memurnikan Hati Menyambut Pengharapan

Yohanes 1:6-8, 19-28

Tuhan tidak berputus asa melihat mahluk ciptaan-Nya, terutama manusia, tidak melaksanakan amanat yang menyertai penciptaan mereka bahkan memberontak melawan Sang Pencipta. Yang Dia tahu tanpa Tuhan Penciptanya kehidupan, dengan hidup duniawi yang sifatnya egois dan egosentris, dunia akan kacau balau, tidak sejahtera, menuju kebinasaan dan tanpa harapan.

Allah tidak membiarkan dunia ini, dan kehidupan manusia di dalamnya hancur berantakan. Ia melakukan tindakan yang radikal dan revolusioner. Dengan motif tunggal kasih – agapè – Dia mengorbankan Anak-Nya sendiri menjadi korban penebusan yang sempurna. Yesus, Anak-Nya, menggantikan manusia berdosa menerima konsekuensinya yakni hukuman mati! Kepada mereka yang menerima dan mengimani Sang Anak yang menyatakan kasih yang berkorban adalah hidup yang kekal.

Hidup kekal bukan, terutama, secara kuantitatif, unlimited – tidak ada akhirnya (!) – tetapi terutama KUALITATIF. Hidup yang berguna, bermakna, mendatangkan damai sejahtera, dan mencerminkan kehadiran dan karya Tuhan dengan motif tunggal kasih. Apakah kita sudah menerima hidup kekal ini indikatornya justru sudah bisa dilihat dari kehidupan kita masa kini. Apakah kita hidup seperti Yesus hidup. Apakah semangat Yesus ini menjadi semangat kita. Semoga hati kita sudah dimurnikan lebih dulu agar kasih Kristus itulah yang meluap keluar dari hidup kita dan dengan demikian membuat hidup lebih bermakna, serta berpengharapan.

17 Desember 2023
Pdt. Em. Samuel Santoso
*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only

Ia Datang Karena Cintanya

(Markus 1:1-8)
Allah yang diperkenalkan oleh Alkitab bukanlah allah yang berada di tempat sangat tinggi sehingga tidak dapat dijangkau oleh manusia. Dia bukan sejenis dewa yang sesudah menentukan nasib manusia dan sesudah itu tidak peduli sama sekali.
Allah Alkitab dikenal sebagai Allah yang punya hati, bersedia berurusan dengan manusia bahkan berprihatin terhadap kehidupan manusia. Allah ini tidak menyembunyikan keinginan untuk mengasihi manusia. Dia wujudnyatakan niat-Nya itu. Cinta itu Dia wujudkan melalui tindakan yang radikal revolusioner, dalam pribadi Yesus Kristus dengan semua karakter, dan sifat luhur-Nya, serta firman dan karya-Nya yang manusiawi serta sempurna.


Keputusan untuk nanti turun, dan menjadi manusia seperti diberitakan oleh Yohanes Pembaptis dan untuk itu ia menjadi pembuka jalan bagi-Nya (Mrk 1:1-8). Cintakasih Ilahi diwujud-nyatakan dengan sikap menjadi sama dan masuk sepenuhnya dalam kehidupan manusia.


Hal ini menyatakan penghargaan atas eksistensi manusia. Cintakasih itu menyatakan juga penerimaan kembali manusia berdosa melalui kesabaran Ilahi (2Pet 3:8-15) dan pengampunan atas segala dosa (Yes 40:1-11). Dengan begitu orang yang mestinya sudah dibuang mendapat kesempatan untuk menjalani hidup yang baru dalam damai sejahtera.

10 Desember 2023
Pdt. Em. Samuel Santoso
*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only

Menjadi Domba Dari Kristus Sang Raja

(Matius 25: 31-46)
Hari ini gereja Tuhan merayakan Minggu Kristus Raja yang merupakan Minggu terakhir dalam Tahun Liturgi (A) sebelum memasuki masa Adven dan memasuki Tahun Liturgi (B) yang baru. Di minggu terakhir ini, umat diajak untuk mengingat kembali penghayatan iman kepada Kristus yang adalah Raja dan menilik keberadaan dirinya dalam relasi dengan sesamanya.


Yesus Kristus adalah Raja yang akan datang dalam kemuliaan-Nya. Raja itu akan datang sebagai Hakim yang Agung. Sang Hakim Agung ini ternyata menghakimi dengan ukuran yang tidak lazim.
Sang Raja itu menggembala, memilih dan memilah manusia bak kambing dan domba berdasar pada kehidupan yang memberi dan peduli kepada yang terkecil sebagai yang lemah dan tak berdaya.


Di tengah kehidupan yang serba individualistis ini, umat dipanggil hidup sebagai domba dari Kristus Sang Raja yang nampak dari kehidupan yang penuh kasih dan kepedulian dengan melakukan tindakan-tindakan bagi mereka yang terkecil seperti melakukannya untuk Kristus. Dalam melakukan semua tindakan kasih dan kepeduliaan itu, umat mesti mengingat bahwa tindakannya haruslah tepat sasaran supaya tidak salah ditujukan bagi mereka yang menipu dan mempermainkan belas kasihan sesama. Dan yang terutama, umat bersedia untuk melatih hidupnya untuk memiliki hati Kristus yang penuh kasih, supaya dengan hati Kristus, umat dituntun meniru tindakan Kristus yang juga selalu tepat sasaran menyatakan pertolongan sesuai kebutuhan.


26 November 2023
Pdt. Sari Haswaraningtyas
*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only

Bijak Berselancar dalam Waktu

(Matius 25:14-30)
Berbicara tentang kisah perbudakan, kita pasti akan banyak berjumpa dengan hal-hal memilukan. Betapa tidak, manusia yang diperjualbelikan itu, tidak memiliki hak atas hidupnya sendiri. Hidup mereka tunduk di bawah kendali sang tuan, bahkan nyawa mereka ada dalam kuasa sang tuan yang memilikinya. Betapa tidak berharganya hidup manusia yang dijadikan budak dalam realita yang terjadi.


Bacaan Injil pada Minggu Biasa yang terakhir ini berkisah tentang relasi antara tuan dan hamba-hambanya. Sang Tuan hendak berpergian ke luar negeri dalam waktu tertentu dan akan kembali tetapi tidak diketahui waktunya. Selama sang tuan pergi, para hamba itu dipercaya dengan sejumlah uang yang bernilai besar yakni talenta. Paling sedikit adalah 1 talenta. 1 talenta adalah nilai yang besar, karena 1 talenta sama dengan 6000 dinar. Jika 1 dinar adalah upah orang bekerja 1 hari, maka 1 talenta adalah upah orang bekerja 6000 hari atau selama kurang lebih 16 tahun. Para hamba yang diberi kepercayaan yang besar itu merespon secara berbeda, hamba yang pertama dan kedua menggunakan waktu dengan bertanggung jawab dan dengan setia dan tekun mengerjakan tanggung jawabnya, sementara hamba yang ketiga hanya menggali dan menyimpan kepercayaan yang besar itu.


Firman Tuhan mengajak kita untuk menggunakan waktu yang ada untuk menjad seorang Kristen yang tidak hanya menunggu sang Tuan kembali tanpa melakukan apa-apa Kita belajar dari 2 hamba yang dipuji sebagai hamba yang baik dan setia karena mereka melakukan bagian yang terbaik dan menggunakan waktunya dengan baik. Marilah kita mengisi waktu kita dengan penuh kesetiaan dan ketekunan menggunakan kepercayaan Tuhan dalam hidup kita sehingga hidup kita berkenan di hadapan Tuhan. Amin.


19 November 2023
Pdt. Sari Haswaraningtyas
*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only