(Markus 1: 29-39)
Di tengah jaman yang serba digital seperti sekarang ini, ada banyak orang yang bersukacita karena berbagai kemudahan dan efektifitas yang dirasakan. Semua dapat dijangkau dalam genggaman tangan saja. Namun, terlepas dari semua kepraktisan dan kemudahan yang dirasakan oleh banyak orang, terselip juga dampak negatif yang seringkali tak disadari, yaitu semakin minimnya perjumpaan dan sentuhan nyata. Ditambah dengan pandemi yang sekian tahun sempat (dan masih) menghantui relasi manusia, sentuhan dan perjumpaan menjadi sesuatu yang semakin jauh dari keseharian kita.
Hari ini kita hendak belajar dari firman Tuhan tentang keajaiban sentuhan kasih sejati yang bukan saja memulihkan tetapi juga memampukan seorang dapat berkarya. Dikisahkan bahwa saat itu, sesudah Tuhan Yesus keluar dari rumah ibadat, Ia dan murid-murid-Nya pergi ke rumah Simon dan Andreas. Di sana ada ibu mertua Petrus yang sedang tak berdaya karena sakit. Ketika diberitahukan hal tersebut kepada Tuhan Yesus, Ia kemudian pergi mendatangi ibu tersebut dan tanpa banyak bicara Ia memegang tangannya serta membangunkan ibu yang sedang tak berdaya karena demam tersebut.
Demam ibu mertua Petrus hilang dan ia segera melayani mereka. Bukan hanya itu, berita pemulihan ibu mertua Petrus itu ternyata juga didengar oleh orang banyak, dan saat malam tiba (sesudah Sabat usai) berdatanganlah banyak orang sakit kepada Tuhan Yesus. Dan mereka semua disembuhkan! Dari kisah tersebut kita dapat menyaksikan tentang sentuhan kasih Tuhan Yesus kepada ibu mertua Petrus tersebut telah memulihkan serta memampukannya untuk bangkit dan melayani. Pemulihan yang kemudian juga menjadi jalan bagi banyak orang datang kepada Tuhan Yesus. Dari sentuhan kasih yang dinyatakan Tuhan, ada karya pelayanan, karya pelayanan yang membuka jalan bagi mereka yang memerlukan kasih Tuhan mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Sebagai gereja, kitapun sesungguhnya adalah orang-orang yang telah terlebih dahulu menerima sentuhan kasih Tuhan. Oleh karenanya kitapun dipanggil untuk meneruskan sentuhan kasih Tuhan tersebut kepada sesama kita di dunia. Gereja dipanggil untuk ramah dan terbuka bagi mereka yang memerlukan, dipanggil untuk ada bersama dengan dunia yang membutuhkan Tuhan.
4 Februari 2024
Pdt. Diah Nooraini K.
*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only
