Siapkanlah Minyakmu

(Matius 25 : 1-13)
Setiap kita pasti selalu mengharapkan segala yang baik terjadi dalam hidup kita. Tidak ada yang salah dan aneh dengan itu, semua orang pastilah demikian. Hanya saja, di sisi lain, kita kerap menjadi orang-orang yang kemudian tidak pernah mempersiapkan diri ketika berhadapan dengan situasi di luar harapan dan serba tidak terduga.


Seperti Injil lainnya, Matius dengan jelas memberi pesan tentang Yesus yang akan datang kembali namun tidak diketahui dengan pasti waktu maupun saatnya. Salah satunya lewat perumpaan tentang gadis-gadis bijaksana yang dipertentangkan dengan gadis-gadis bodoh yang nampak dalam sikap mereka yang mampu dan tidak mampu mengantisipasi situasi di luar harapan atau tidak terduga. Mereka menjalankan peran, yang mana minyak menjadi benda yang penting harus dipersiapkan sebab keadaan tidak terduganya adalah hal waktu kedatangan mempelai pria. Gadis-gadis bijaksana telah mempersiapkan diri dengan situasi tidak terduga, sebaliknya gadis-gadis bodoh sama sekali tidak mempersiapkan diri. Akibatnya mereka kehilangan kesempatan untuk mengalami sukacita pesta yang telah mereka nantikan.


Kedatangan Tuhan kembali merupakan hal yang pasti, tetapi yang tidak pernah diketahui dengan pasti adalah waktunya. Dan yang lebih tidak pasti adalah di masa menanti itu bisa banyak hal terjadi dan menggoyahkan iman kita. Tugas kita yang terpenting adalah menyiapkan “minyak”, yakni kesediaan hidup di dalam kehendak Tuhan. Dengan hidup dalam kehendak Tuhan, kita akan senantiasa mengalami pertolongan, kekuatan, juga keindahan-keindahan berhadapan dengan situasi tidak terduga dan di luar harapan di dalam masa menanti kedatangan Tuhan kembali yang kita tidak tahu dengan pasti waktunya. Kiranya Tuhan menolong kita. Amin


12 November 2023
Pdt. Sari Haswaraningtyas
*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only

Pribadi Yang Memiliki Integritas

(Matius 23 : 1 -12)
Pada era digital ini, penggunaan filter pada saat mengambil foto selfie ataupun video dengan tujuan memperbaiki penampilan merupakan hal yang tidak asing. Sayangnya, seseorang bisa jauh berbeda dari aslinya jika dibandingkan dengan penampilannya dengan menggunakan filter tersebut. Dalam kehidupan beriman, “spiritualitas kemasan” bisa menjadi sesuatu yang perlu diwaspadai. Kemasannya nampak saleh dan baik, tapi aslinya bisa jauh berbeda dari kemasan tersebut. Tentulah kewaspadaan ini bukan untuk mencari tahu siapa orang di sekitar kita yang semacam ini, tapi adakah diri kita terjebak dalam “spiritualitas kemasan” ini?


Tuhan Yesus mengecam kelompok Farisi dan Ahli Taurat yang sesungguhnya diberikan wewenang yang sangat besar untuk menduduki kursi Musa yang berarti mereka punya wewenang untuk mengajar dan menafsirakan hukum Musa. Sayangnya mereka hanya mengajarkan namun tidak melakukan. Yesus juga mengecam oleh karena mereka kerap memamerkan kesalehan yang hanyalah kemasan atau nampak di luar semata serta sibuk untuk mencari hormat orang lain. Sungguh perilaku yang bertentangan dengan panggilan mereka yang sangat istimewa itu.


Perenungan Firman Tuhan pada Minggu Biasa ini mengundang kita untuk mewaspadai kehidupan peribadahan kita supaya tidak hanya menampilkan kemasan saja yang hanya nampak bagus di luar namun tidak sungguhsungguh berangkat dari kemurnian sembari mewaspadai sikap gila hormat yang melupakan kerendahan hati sebagaimana diteladankan Kristus. Dengan mewaspadai hal tadi, maka kita akan memperjuangkan integritas dalam kehidupan beriman kita, kehidupan beriman yang bukan kemasan, yang bukan seolah-olah. Hidup beriman yang nampak dari menyatunya antara hati dan kata serta perbuatan kita. Kiranya Tuhan menolong kita. Amin.


5 November 2023
Pdt. Sari Haswaraningtyas
*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only

Mengasihi Diri Sendiri Dan Sesama

(Matius 22:34-46)
Ibu Teresa punya mimpi bahwa sebelum semua manusia mati, mereka akan mengalami bahwa mereka dikasihi, maka Ia mempersembahkan seluruh hidupnya untuk membuat mimpinya itu menjadi kenyataan. Ia menceritakan pengalamannya berjalan di daerah yang kering dan sekilas matanya memandang sesuatu yang sedang bergerak disekitar. Ia menyelidiki dan menemukan seorang yang terkapar hampir mati disitu. Dia langsung membawa ke rumah biaranya dan di sana orang itu mengalami kematian dalam damai dan tenang. Dan sebelum kematiannya ada yang dikatakannya bagi ibu Teresa. “Saya hidup seperti binatang di jalanan, sekarang saya boleh mati seperti seorang malaikat.”


Terus terang tidak banyak orang yang mempunyai keinginan seperti Ibu Teresa. Tidak banyak orang yang mau mempersembahkan seluruh hidupnya hanya untuk membuat orang lain merasakan kasih. Tidak banyak orang yang mau meninggalkan segala yg dia miliki hanya untuk melayani orang lain dan menunjukkan kasihnya pada mereka. Yang ada sekarang dari kebanyakan orang adalah orang yang terus menerus melihat ke dirinya sendiri yang disadari atau tidak menjadikan dirinya sendiri sebagai pusat dari kehidupannya. Apakah hal ini menguntungkan atau merugikan dirinya, apakah hal itu menyenangkan atau menyakitkan dirinya.


Orang lebih senang diperhatikan ketimbang memperhatikan, orang lebih memilih dikasihi dulu baru dia mau mengasihi.
Saudara berbicara tentang mengasihi diri sendiri dan sesama, ada suatu pertanyaan yang mendasar: Mengapa orang begitu sulit untuk mengasihi ? Ada beberapa hal real yang membuat kita sulit untuk mengasihi atau kasih kita tidak benar: Terlanjur terluka, ada tuntutan ke orang lain (menetapkan harapan menurut ukuran diri), ada keinginan untuk pemuasan diri, ada pamrih, mengasihi diri lebih dari orang lain, kurang rela untuk memberi/berkorban bagi orang lain, tidak memberi kesempatan pada diri sendiri untuk mau mengampuni (menutup diri), tidak berdamai dengan diri sendiri. Bukankah semua perilaku ini terangkum dalam apa yang dinamakan Ego.


Oleh sebab itu untuk keluar dari belenggu ego Yesus mengajarkan kepada orang percaya untuk masuk dalam hukum pola kehidupan Matius 22:37+39. Mengapa hukum ini menjadi titik tolak ? Mengapa mengasihi Allah ditempatkan menjadi hukum yang pertama dan terutama. Jawabnya adalah karena sumber kasih adalah Allah. Orang yang mengasihi Allah mengambil bagian dalam hidup Allah. Kalau kasih lebih dipahami sebagai bahasa hati, maka orang yang mengasihi haruslah hidup di dalam hati Tuhan. Realitas demikian ini membuat hidup seseorang bukan lagi dirinya sendiri yg hidup melainkan Allah-lah yg hidup dalam dirinya. Orang yg dikuasai kasih berarti juga dikuasai oleh pribadi Allah.


Mengapa mengasihi sesamamu manusia seperti dirimu sendiri ditempatkan berdampingan dengan hukum yg pertama dan terutama? Karena mengasihi sesama manusia adalah bukti dari mengasihi Allah dengan mewujudkannya terhadap sesama. Bagaimana seseorang dapat menyatakan bahwa dia mengasihi Allah yang tidak kelihatan tetapi dia tidak mengasihi seseorang yang dia lihat.
Kasih terhadap sesama berarti mau mengenal manusia lain sebagai karakter yang berbeda dengan dirinya dan harus memperlakukan orang lain sesuai dengan watak, kemampuan, keterbatasannya, kepercayaan, dan cita-cita hidup. Pengenalan itu perlu agar kita dapat ikut menolong dan membantu dia ke arah pertumbuhan dan perkembangan dirinya secara wajar.
Mengasihi orang lain berarti peduli pada kepentingan orang lain yang dikasihi

29 Oktober 2023
Pdt. Jerdi Stevan
*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only

Berikanlah Kepada Allah

(Matius 22:15-22)
Berbicara tentang berikanlah kepada Allah dengan demikian apakah Allah menuntut kepada ciptaanNya untuk selalu dapat mempersembahkan sesuatu dari manusia kepada Allah ? Kalau saudara mengenal betul siapakah Allah kita, maka saudara akan tahu dan paham benar bagaimana sikap manusia sebagai ciptaaNya kepada Dia. Allah Maha Kuasa dan Maha Kaya, Maha pengasih. Dia tidak membutuhkan apapun dari ciptaan-Nya.
Allah menciptakan manusia untuk menyatakan diriNya bahwa Dia adalah kasih yang ingin mencurahkan kasih itu bagi manusia agar manusia bisa merasakan kasih Allah yang sesungguhnya. Allah bukanlah illah yang membutuhkan sesaji untuk menyatakan eksistensiNya.


Ketika Yesus mengatakan: “……….. berikanlah kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah,” bukan berarti bahwa Allah itu pribadi yang selalu menuntut sebagai timbal balik apa yang sudah Dia berikan pada manusia. Allah tidak pernah menuntut apa-apa dari manusia, bahkan ketika Dia mengorbankan tubuhNya, darahNya bahkan nyawaNya bagi manusia, Dia sama sekali tidak menuntut dan memperhitungkan semua anugerah pengorbananNya kepada manusia. Allah justru bersukacita ketika manusia mau menerima pemberian kasihNya yang begitu besar untuk keselamatan manusia itu sendiri. Persoalannya adalah apakah sebagai orang yang telah menerima pemberian Allah itu, hati dan perasaan kita tidak berbicara, apakah kita tidak berterimakasih pada Allah ? Saudara tentu ingat 10 orang kusta yang disembuhkan, lalu hanya satu yang datang bersujud berterimakasih dan mempermuliakan nama Tuhan. Orang itu adalah orang Samaria. Dia sadar bahwa kemuliaan itu adalah milik Allah makanya dia datang dan memberikan kembali kemuliaan itu bagi Allah.


Kalau kita sadar bahwa segala yang kita miliki sebenarnya propertinya Allah, maka sudah sepantas dan selayaklah kita berikan apa yang menjadi milik Allah dan kita mengucapkan syukur sudah menikmati apa yang Tuhan berikan kepada kita. Mari kita renungan dan sadari itu, dan puisi terakhir karya Rendra dapat membimbing kita menuju pencerahan.


22 Oktober 2023
Pdt. Jerdi Stevan
*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only

Diundang Untuk Bersukacita

(Matius 22:1 -14)
Ketika saudara mendapatkan undangan pesta di istana kepresidenan oleh presiden Jokowidodo, apakah saudara akan datang atau menolak untuk datang? Yach…. Saudara pasti akan menyambut undangan itu dengan penuh sukacita dan mempersiapkan diri dengan baik untuk datang di pesta tersebut. Rasanya tidak ada orang yang akan menolak apabila mereka diundang untuk hadir dalam sebuah pesta dan menikmati kegembiraan dalam hidup.


Apakah ada orang yang menolak untuk datang dalam pesta yang tanpa persyaratan apaapa dan hanya menikmati kegembiraan dan sukacita belaka? Ternyata ada yakni didalam kisah yang diceritakan oleh Tuhan Yesus. Raja yang suatu kali mengadakan jamuan pesta pernikahan dan mengundang orangorang yang sudah diprioritaskan Ternyata undangan sang raja tidak direspon dengan baik.
Mereka yang mendapat prioritas undangan mengabaikan undangan itu. Raja pun mengulangi kembali undangan itu dengan menegaskan bahwa perjamuan istimewa telah disiapkan, namun lagi-lagi mereka memprioritaskan yang lain ada yang mengurus ladangnya dan ada juga yang pergi mengurus bisnisnya. Mereka tidak melihat undangan raja sebagai prioritas utama. Bahkan ada di antara orang yang diundang itu justeru menangkap dan membunuh suruhan raja ini.


Sungguh tragis!
Bagaimana reaksi raja? Karena penolakan para undangan itu, sang raja memerintahkan agar undangan itu diberikan kepada semua orang yang dijumpai di persimpangan-persimpangan jalan. Para utusan itu menyapa, mengundang mereka; orang jahat maupun orang baik sehingga penuhlah ruang pesta itu.


Kiasan perjamuan kawin dengan indah mengungkapkan kebersamaan, kegembiraan, dan damai sejahtera dalam Kerajaan Allah atau tepatnya suka cita Keluarga Besar Kerajaan Allah. Maka cukup mengherankan bahwa ada banyak orang yang diundang justru menolak undangan itu. Orang-orang yang sudah lama disiapkan, pada saat yang menentukan kehilangan perhatian karena tenggelam dalam urusan-urusannya sendiri, yang tentu saja menurut mereka urusanurusan itu jauh lebih penting ketimbang memenuhi undangan sang raja. Inilah sebuah penggambaran bahwa sering kali kesenangan pribadi membuat orang lupa akan panggilannya untuk merayakan kehidupan bersama yang membahagiakan; bahkan menyebabkan orang akhirnya memusuhi utusan-utusan Allah.


15 Oktober 2023
Pdt. Jerdi Stevan
*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only