Yohanes 1:6-8, 19-28
Tuhan tidak berputus asa melihat mahluk ciptaan-Nya, terutama manusia, tidak melaksanakan amanat yang menyertai penciptaan mereka bahkan memberontak melawan Sang Pencipta. Yang Dia tahu tanpa Tuhan Penciptanya kehidupan, dengan hidup duniawi yang sifatnya egois dan egosentris, dunia akan kacau balau, tidak sejahtera, menuju kebinasaan dan tanpa harapan.
Allah tidak membiarkan dunia ini, dan kehidupan manusia di dalamnya hancur berantakan. Ia melakukan tindakan yang radikal dan revolusioner. Dengan motif tunggal kasih – agapè – Dia mengorbankan Anak-Nya sendiri menjadi korban penebusan yang sempurna. Yesus, Anak-Nya, menggantikan manusia berdosa menerima konsekuensinya yakni hukuman mati! Kepada mereka yang menerima dan mengimani Sang Anak yang menyatakan kasih yang berkorban adalah hidup yang kekal.
Hidup kekal bukan, terutama, secara kuantitatif, unlimited – tidak ada akhirnya (!) – tetapi terutama KUALITATIF. Hidup yang berguna, bermakna, mendatangkan damai sejahtera, dan mencerminkan kehadiran dan karya Tuhan dengan motif tunggal kasih. Apakah kita sudah menerima hidup kekal ini indikatornya justru sudah bisa dilihat dari kehidupan kita masa kini. Apakah kita hidup seperti Yesus hidup. Apakah semangat Yesus ini menjadi semangat kita. Semoga hati kita sudah dimurnikan lebih dulu agar kasih Kristus itulah yang meluap keluar dari hidup kita dan dengan demikian membuat hidup lebih bermakna, serta berpengharapan.
17 Desember 2023
Pdt. Em. Samuel Santoso
*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only
