(Markus 10 : 17 – 31)

Ari dan Dion adalah dua orang anak kelas 6 SD yang bersahabat sejak kecil. Keduanya suka berolahraga dan berprestasi baik, khususnya lari di cabang atletik. Suatu waktu di kota itu diselenggarakan kejuaraan atletik antar SD. Ari dan Dion terpilih mewakili sekolah mereka. Keduanya akan mengikuti lomba di cabang lari 100 m dan 200 m. Hari perlombaan pun tiba. Ari dan Dion berhasil masuk final di kedua cabang itu. Dalam final Pertandingan lari 100 keduanya berlari sekuat tenaga, meninggalkan lawan-lawan mereka. Ari masuk finish pertama, diikuti Dion. Selang beberapa waktu pertandingan final lari 200 m.

Hampir sama seperti di cabang 100 m, Ari dan Dion berhasil memimpin lomba. Ari ada di paling depan dan Dion di belakangnya. Beberapa meter menjelang garis finish kelihatan Ari agak mengurangi kecepatan sehingga Dion berhasil menyusul dan melewati garis finish diikuti oleh Ari. Melihat hal itu ibu Ari bergegas mendekat. Dia menarik Ari ke pinggir lapangan dan memarahinya:“Ari, mama tahu kau mengurangi kecepatan larimu menjelang garis finish. Mengapa kau melakukan perbuatan bodoh itu.

Seharusnya kau bisa mendapatkan dua medali emas? Dasar bodoh!”. Ari tertunduk, lalu ia berkata: “Tapi mama …, Ari khan sudah dapat satu medali emas. Ari ingin Dion, sahabat Ari, juga mendapatkan satu medali emas, supaya kami berdua sama-sama mendapatkan medali emas. Egosentrisme (sifat dan kelakuan yang selalu menjadikan diri sendiri sebagai pusat segala hal) dan kembarannya, egoisme (tingkah laku yang didasarkan atas dorongan untuk keuntungan diri sendiri daripada untuk kesejahteraan orang lain) adalah akar segala dosa. Mengapa ada orang yang melakukan korupsi, menyalahgunakan jabatannya? Mengapa ada orang yang mengkhianati pasangan hidupnya? Mengapa ada orang yang menyakiti orang lain, bahkan menghabisi nyawa orang lain? Mengapa ada orang yang melakukan perbuatan yang merugikan orang lain? Mengapa terjadi perpecahan dalam sebuah komunitas, termasuk komunitas umat beragama, dalam kehidupan sebuah bangsa, bahkan di dalam kehidupan keluarga?

Menurut saya biangnya adalah egosentrisme dan egoisme. Hal itu jelas dinyatakan dalam Surat Yak 3:16, “Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.” Bukankah Allah, Bapa kita di dalam Yesus Kristus dan persekutuan Roh Kudus adalah Allah yang tidak mementingkan diri sendiri? Sebaliknya, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh 3:16) Kita dipanggil bukan hanya sekedar mengenang kasih Allah yang tidak mementingkan diri sendiri itu, tapi kita juga dipanggil untuk mempraktikkan pola hidup tidak mementingkan diri sendiri sebagaimana yang telah Allah perbuat.

Bayangkan betapa indahnya kehidupan yang kita jalani seandainya saja semua orang mau tidak mementingkan diri sendiri. Selamat mengikis serta menyingkirkan egosentrisme dan egoisme. (RN)

13 Oktober 2024
Pdt. Em. Ronny Nathanael
*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only

gkbikl
Author: gkbikl

Gereja Kristen Berbahasa Indonesia Kuala Lumpur

Leave a Reply

Discover more from Gereja Kristen Berbahasa Indonesia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading