(1 Petrus 5:5)

Seorang rabbi tua sedang sakit keras, terbaring di ranjangnya. Dia masih sadar sekalipun kondisinya makin menurun. Murid-muridnya berkumpul di sekeliling ranjang tempat dia berbaring. Mereka mulai memberikan testimoni tentang kebajikan-kebajikan rabbi tua ini. Yang pertama berkata: “Rabbi adalah orang yang sangat bijak. Setelah jaman Salomo, tidak ada orang lain yang sebijaksana Rabbi.” Yang kedua melanjutkan: “Imannya kawan…. Ingat imannya….luar biasa. Iman Rabbi setara dengan iman Abraham bapa kita”. “Dan kesabarannya….Cuma Ayub yang bisa menandingi”, ujar yang ketiga. ”Jangan lupa keberaniannya, mengingatkan kita akan keberanian Elia ketika melawan nabi-nabi baal.”

Begitu selanjutnya para murid, memuja-muji sang rabbi, menyetarakan kebajikannya dengan kebajikan para nabi. Tapi istri Rabbi itu memperhatikan bahwa suaminya kelihatan gelisah, seperti tidak puas. Setelah para murid pulang, sang istri berkata kepada suaminya: “Suamiku, kau sudah mendengar bagaimana murid-muridmu begitu bangga dengan dirimu. Mereka memuja-muji berbagai kebajikanmu. Kau senang khan mendengarnya? Lalu mengapa kau kelihatan gelisah dan sepertinya tidak puas?”

Dengan terengah-engah dan jelas nampak emosional, rabbi tua itu berkata: “Kerendahan hatiku, kenapa mereka tidak menyebut-nyebut kerendahan hatiku? Tak seorangpun menyebutkan kerendahan hatiku.” Lalu matilah rabbi tua itu. Itulah orang yang mau menyombongkan kerendahan hatinya. Kerendahan hati adalah kebajikan yang penting untuk dipraktikkan dalam kehidupan ini. Begitu pentingnya sikap rendah hati, kerendahan hati. Kita jumpai tidak kurang 50 kali kata rendah hati dan 5 kali kata kerendahan hati muncul dalam kesaksian Alkitab. Kerendahan hati yang sejati lahir dari kesadaran akan ketidaklayakanku di hadapan Allah. Bahwa tidak ada sesuatu apa pun yang dapat kubanggakan di hadapan Allah.

Maka hatiku penuh dengan syukur ketika Allah Tuhanku berkenan menyertakanku dalam karya-Nya menghadirkan Syalom, damai sejahtera dalam kehidupan ini. Baik dalam keluarga, di tengah Jemaat, dalam kehidupan di tengah masyarakat Dan aku mau melakukan semua itu dengan kerendahan hati yang tulus karena aku sadar bahwa yang kuperbuat itu hanyalah oleh rahmat Allah. Hanya ketika orang memiliki kerendahan hati seperti itulah maka ia bisa menjadi pelayan, menjadi hamba untuk semuanya. Dari mana kita mulai? Mulailah mempraktikkannya dalam ruang lingkup terkecil, dalam keluarga.

Keluarga yang menghamba adalah keluarga yang para anggotanya mau merawat kerendahan hati yang sejati. Ingatlah: “Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang yang rendah hati dengan keselamatan.” (Maz 149:4) dan “…Allah menentang orang yang congkak, tetapi memberi anugerah kepada orang yang rendah hati.”. Tuhan menolong kita. AMIN

20 Oktober 2024
Pdt. Em. Ronny Nathanael
*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only

gkbikl
Author: gkbikl

Gereja Kristen Berbahasa Indonesia Kuala Lumpur

Leave a Reply

Discover more from Gereja Kristen Berbahasa Indonesia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading