Arahkanlah Hatimu Kepada Allah!

Yohanes 6:24-35

Yesus menyatakan bahwa Dia adalah “roti hidup”. Roti adalah makanan pokok dalam budaya Yahudi yang melambangkan kebutuhan dasar manusia. Dalam bacaan kitab Yohanes, Yesus berusaha mengembalikan fokus orang banyak yang mengikuti-Nya. Setelah menyaksikan dan mengalami sendiri peristiwa mukjizat memberi makan lima ribu orang, banyak orang mengikuti Yesus bukan karena ingin mendekatkan diri kepada-Nya, tetapi karena mereka menginginkan roti yang disediakan secara gratis.

Yesus berusaha mengembalikan focus orang banyak yang awalnya hanya pada berkat fisik atau roti, mengarah untuk lebih berfocus pada Sang Roti Hidup, yang mengawali segala peristiwa dalam kehidupan seseorang. Yesus mengingatkan orang banyak untuk bekerja, bukan untuk makanan yang binasa tetapi untuk makanan yang membawa kepada kehidupan kekal. Yesus menjelaskan kepada orang banyak, bahwa Musa seperti yang tertulis dalam kitab Keluaran, bukanlah yang memberikan manna, tetapi Allah. Dia lah berasal segala sesuatu. Di bacaan kitab Mazmur diingatkan kebaikan Tuhan yang memberi Manna kepada bangsa Israel di padang gurun.

Kata-kata seperti “Ia memerintah,” “Ia memberikan,” dan “Ia menurunkan” menekankan bahwa semua inisiatif datang dari Allah. Maka arahkanlah hatimu (kardia = seluruh keberadaanmu) kepada Allah, karena Dia lah pusat kehidupan ini. Inisiatif Allah dalam merawat umat-Nya menunjukkan kepedulian atau solidaritas Allah pada makhluk ciptaan-Nya. Pesan tentang solidaritas itulah yang juga ingin disampaikan Paulus melalui suratnya kepada jemaat di Efesus. Ia menulis surat itu agar orang-orang mau hidup sehati dan saling memedulikan (ay.2) Solidaritas itulah yang akan membuat mereka memiliki kesatuan yang kuat; satu tubuh, satu roh, satu pengharapan, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah (ay. 4-6).

Paulus juga menekankan bahwa pertumbuhan iman haruslah selalu mengarah kepada Yesus yang adalah Kepala. Rasul Paulus adalah teladan iman yang menunjukkan bahwa siapa pun yang mengarahkan hidupnya kepada Kristus, ia akan mengarahkan hidupnya kepada dunia. Amin.

4 Agustus 2024
Pdt. Em. Tumpal Tobing
*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only

Keteguhan Seorang Pembawa Pesan

(Markus 6:1-13)

Pohon cemara Bristlecone adalah pohon tertua di dunia. Beberapa di antaranya diperkirakan berumur 3.000 sampai 4.000 tahun. Pada tahun 1957, ilmuwan Edmund Schulman menemukan sebatang di antaranya, dan menamainya “Metusaleh”. Pohon cemara berbongkol dan sangat tua ini hampir berumur 5.000 tahun! Pohon ini sudah ada saat rakyat Mesir membangun piramid. Pohon Bristlecone tumbuh di atas pegunungan AS bagian barat, di ketinggian kira-kira 3.050-3.350 meter. Mereka mampu bertahan hidup, bahkan di saat kondisi lingkungan yang sangat buruk sekalipun: suhu udara yang amat dingin, angin topan, lapisan udara yang tipis, dan curah hujan yang rendah.

Sebenarnya, lingkungan dan alam ganaslah yang menjadi salah satu faktor sehingga mereka mampu bertahan hingga abad milenium ini. Penderitaan dan tekanan telah menumbuhkan kekuatan yang luar biasa. Seperti Namanya ‘ever green’ maka ‘Metusaleh’ tetap menjadi cemara yang hijau dalam segala musim. Dalam perjalanan pelayanan-Nya, Yesus mengalami penolakan dan pelecehan. Bagaimana tidak! Mereka yang mendengarkan pengajaran Yesus dan takjub berubah menjadi kecewa dan menolak-Nya karena tahu bahwa Yesus anak Maria dengan profesi tukang kayu.

Manusia memang selalu berubah (people always change). Penolakan mereka terhadap Yesus ternyata tidak membawa dampak pada pelayanan-Nya. Sebaliknya, orang banyak itu tidak mendapatkan pekerjaan Allah yang dilakukan Yesus (Markus 6:5). Bagaimana selanjutnya pelayanan Yesus dan para murid-Nya? Injil Markus menuliskan bahwa pelayanan Yesus terus berlanjut dan Kerajaan Allah makin dinyatakan bagi mereka yang menerima-Nya. Para murid diutus Yesus untuk terus memberitakan bahwa orang harus bertobat.

Keselamatan makin dinyatakan bahkan kuasa Allah makin dirasakan oleh mereka yang menyambut-Nya. Dalam hidup kita, mungkin dalam pelayanan dan pekerjaan bisa jadi ada kekecewaan dan penolakan. Kisah pohon cemara menjadi inspirasi bagaimana lingkungan dan alam yang ganas menjadikannya bertahan dan kokoh menghadapi perubahan musim. Keseharian kita bisa dijadikan situasi yang membentuk kita untuk makin bergantung dan percaya bahwa Allah sedang membentuk kita. Bukankah dalam hidup kita juga banyak musim silih berganti. Pertanyaannya, apakah dalam setiap musim itu Allah hadir? Kita tidak mungkin menjadi teguh jika tanpa kehadiran-Nya. Para murid dapat menjalankan pesan Yesus sebab keteguhan mereka dilandaskan pada percaya yang penuh bahwa Yesus selalu menyertai mereka. Bagaimana dengan kita?

7 Juli 2024
Pdt. Elizabeth Hasikin
*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only

Menyatu: Bukan Benalu, Bukan Parasit

Hal terpenting dalam kehidupan kristen adalah menyatu dengan Kristus, pokok anggur yang benar. Hanya dengan melekat erat pada Dia, kita dapat mengalami kehidupan sejati serta berbuah melimpah bagi kemuliaan Tuhan. Perumpamaan pokok anggur dan ranting-rantingnya menggambarkan relasi yang sangat erat antara Kristus dan para pengikut-Nya. Sama seperti ranting yang harus menyatu dengan pohon untuk mendapatkan kehidupan, demikian pula kita harus tinggal dalam Kristus agar memperoleh kehidupan yang dipenuhi berkat. Terputus dari Dia membuat kita tak berdaya seperti ranting kering yang hanya layak untuk dibuang dan dibakar. Sayangnya, kita sering tergoda untuk hidup seperti benalu atau parasit yang menggantkan diri pada piha lain demi keuntungan sendiri.

Bahkan kadang bergantung kepada sumber yang salah. Kita terjebak mengejar kemapanan duniawi, kekayaan, status, dan popularitas yang hanya akan menjadikan kita semakin jauh dari kehidupan yang berkenan pada Bapa. Akibatnya, kita mencederai hubungan dengan Sang Sumber Kehidupan itu sendiri. Firman Tuhan mengingatkan kita kepada hakikat sebagai pengikut Kristus. Kita dicipta bukan untuk hidup menumpang atau memeras orang lain, namun untuk menghasilkan buah.

Tinggal di dalam Dia membuat kita mendapatkan makanan yang sehat. Sehingga kita bisa menghasilkan buah-buah yang baik, seperti kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri. Dengan melekat erat pada Kristus melalui doa, perenungan firman dan ketaatan, kita akan mengalami kuasa untuk menghasilkan buah kehidupan yang berkenan bagi Bapa. Buah itu bukan hanya sikap pribadi, tetapi juga pelayanan nyata bagi sesama seperti yang Kristus teladankan.

Sebab dengan mengasihi satu sama lain, di situlah nama Bapa dimuliakan. Mari kita menjaga persekutuan dengan Kristus. Tinggallah di dalam Dia agar kehidupan kita berbuah melimpah, bukan sekedar menumpang atau merusak. Hanya dengan demikian, kita benar-benar menjadi saksi kehidupan kekal yang indah dari Bapa di Surga. Karena di luar Dia, kita tidak akan dapat berbuat apa-apa.

28 April 2024
Pdt. Samuel Christiono
*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only

Gerak Sang Gembala Menata Kehidupan

Hidup ini penuh dengan berbagai keprihatinan dan penderitaan yang dialami oleh masyarakat di sekitar kita. Kemiskinan, kelaparan, penganiayaan, korupsi, dan berbagai bentuk ketidakadilan lainnya seakan menjadi santapan harian bagi sebagian besar masyarakat. Di tengah situasi yang carut marut ini, Gereja dipanggil untuk tampil dan terlibat dalam menata kehidupan dengan berpijak pada teladan Kristus, Sang Gembala Agung.

Dalam Yohanes 10:11-18, Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai Gembala yang Baik yang rela memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya. Ia mengenal dengan baik setiap domba-Nya dan kasihNya bersifat inklusif, terbuka bagi semua domba, bahkan yang berada di luar kandang-Nya. Gambaran ini menegaskan kembali pengalaman Daud akan pemeliharaan Allah yang digambarkan dalam Mazmur 23 sebagai Gembala yang memenuhi kebutuhan dasar domba-dombanya, memberi rasa aman dan penghiburan. Melalui karya-Nya, Allah bergerak untuk menata kehidupan umat-Nya, memastikan kehidupan tetap terjamin meskipun berada dalam pergumulan berat. Dalam rengkuhan dan pemeliharaan-Nya, umat tidak perlu terjebak ketakutan dan kekhawatiran.

Bercermin pada tindakan Allah, kita dipanggil untuk hadir sebagai gembala yang baik bagi sesama, bukan sebagai gembala upahan yang memikirkan kepentingan sendiri. Kita diminta terlibat menjamin kelangsungan hidup sesama dengan penuh kasih, seperti diingatkan dalam 1 Yohanes 3:16-24. Kasih adalah kebaikan yang dikaryakan dalam tindakan nyata, hadir bagi sesama dengan rela dan senang hati, terutama bagi mereka yang menderita. Sebagai pengikut Kristus yang menggembalakan sesama, kita harus bijaksana dalam menghadapi tantangan seperti teladan Rasul Petrus. Ia tetap penuh keberanian dan kerendahan hati karena dipenuhi kuasa Roh Kudus dan otoritas Kristus dalam melayani.

Gerak Sang Gembala Agung menata kehidupan begitu nyata dalam sepanjang kehidupan kita. Dengan kekuatan kasih, Dia memastikan kehidupan di bumi, terutama umat-Nya, terpelihara dengan baik. Marilah mengarahkan hati pada gerak-Nya, menjadikan tindakan dan karya kita bermakna bagi sesama. Dengan otoritas-Nya, kita dimampukan untuk setia terlibat bersama Dia dalam menata kehidupan di dunia ini. Tuhan memberkati.

21 April 2024
Pdt. Samuel Christiono
*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only

Persekutuan Yang Dipulihkan

Sejak awal, manusia dicipta seturut gambar dan rupa Allah. Kita dirancang untuk hidup dalam persekutuan dengan Allah dan sesama. Namun, dosa telah merusak persekutuan itu hingga mengakibatkan keterpisahan dan perpecahan, baik manusia dengan Allah maupun dengan sesama. Manusia menjadi egois, saling menyakiti, bahkan menyerang satu sama lain. Realita ini juga dialami oleh para murid, setelah kematian Tuhan Yesus di kayu salib. Mereka berkumpul dengan pintu terkunci karena rasa takut kepada orang-orang Yahudi. Persekutuan mereka terganggu, bahkan ada murid Tomas yang tidak hadir, mungkin mengalami kekecewaan dan hatinya tertutup. Namun, Tuhan Yesus yang telah bangkit tidak tinggal diam. Ia tidak ingin para murid-Nya tercerai-berai, hingga Ia datang untuk memulihkan persekutuan para murid serta memberikan damai sejahtera.

Yesus menunjukkan tanda-tanda pada tubuh-Nya, untuk meyakinkan bahwa Ia sungguh bangkit. Kemudian Ia mengutus para murid serta mengembusi mereka dengan Roh Kudus. Hal ini mengingatkan kita akan saat penciptaan manusia pertama yang ditiupkan nafas kehidupan. Persekutuan yang saling menguatkan para murid ini, kelak akan menjadi berkat baik bagi mereka sendiri dan juga orang lain. Melalui kuasa Roh Kudus, persekutuan murid-murid dipulihkan. Mereka diberi keberanian untuk menghadapi berbagai tantangan yang akan muncul. Bahkan mereka diberi damai sejahtera serta kuasa untuk menyampaikan pengampunan dosa. Begitu pula dengan jemaat mula-mula di Yerusalem, mereka “sehati sejiwa” dan saling berbagi setelah dipenuhi Roh Kudus. Seperti diungkapkan pemazmur, persekutuan yang rukun adalah persekutuan yang diberkati Tuhan. Bagaikan minyak yang meleleh saat pengurapan dan embun yang menghidupi gunung-gunung di Sion. Apabila persekutuan kita dilandasi oleh persekutuan bersama Allah, maka persekutuan kita akan menjadi berkat dan memberkati sesama.

7 April 2024
Pdt. Samuel Christiono
*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only