Beriman Dengan Sederhana

(Yohanes 12:12-16)

Dunia penuh dengan persaingan maka orang berlomba-lomba menjadi super, lebih hebat dari yang lain dalam banyak hal. Prestasi menjadi penentu cara untuk mendapatkan pemujaan dan pujian. Penghargaan terhadap orang lain pun dipengaruhi sejauh mana dia lebih hebat dari yang lain. Tidak mengherankan jika orang merasa gagal dan tak layak ketika ia membandingkan dirinya dengan setumpuk prestasi orang lain. Hal-hal sederhana dan kecil menjadi tidak penting dan terabaikan.

Hal-hal besar, spektakuler dicari dan didambakan. Begitu pula dalam hidup beriman, sering kali kita mengharapkan Allah bekerja dan berkarya dengan cara spektakuler untuk menunjukkan kekuasaan-Nya. Mujizat menjadi hal yang dicari seakan-akan Allah tidak bekerja dalam hal-hal sederhana dan biasa karena Ia mampu melakukan apa pun dan berkuasa atas apapun. Pengharapan orang akan Yesus sebagai Mesias sedemikian rupa.

Dia diharapkan hadir dengan kehebatan dan kekuasaan-Nya memberantas para penjajah. Ia diharapkan menjadi kepala pasukan bersenjata dengan segala kekuatannya menaklukan yang lain. Namun Yesus datang dengan seekor keledai dan bukan kuda. Penggunaan binatang ini adalah simbolisasi yang dilakukan Yesus untuk membalikkan apa yang dipikirkan orang banyak. Yesus hadir dengan kelembutan, kerendahan hati, tanpa kekerasan. Ia menegakkan kebenaran dengan keberanian tanpa pedang. Ia membela yang lemah dengan kelembutan tanpa pemaksaan. Ia membangun persahabatan tanpa penolakan. Itulah yang dilakukan Yesus untuk mengerjakan misi Allah bagi dunia.

Cara sederhana, biasa, tak terdengar, dan tak terduga namun dengan cara itulah Ia mengubah dunia, mengerjakan keselamatan secara sempurna. Marilah kita pun menjadi peka dengan cara Tuhan menyentuh dan menjawab kita dengan hal-hal yang biasa, sedehana dan keseharian.

24 Maret 2024
Pdt. Dahlia Vera Aruan
*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only

Pendosa Menjadi Pendoa

(Yohanes 3: 14 -21 )

Upah dosa adalah maut. Artinya seluruh sendi-sendi kehidupan kita mengalami kematian, kehancuran dan kebinasaan. Tidak ada masa depan di dalamnya. Di Keluaran 20:1-17 dikisahkan, Israel memberontak kepada Allah dan berhadapan dengan maut namun tangan kasih Allah terulur menyelamatkan dengan simbol ular tembaga. Kasih setia Allah yang menyelamatkan tidak berhenti sampai di situ, ketika kuasa dosa meluas maka kasih karunia Allah melimpah. Di dalam kasih-Nya yang besar, Ia menyelamatkan dunia melalui pengorbanan putra-Nya Yesus Kristus.

Kasih Allah memulihkan dan memberikan harapan baru bagi dunia, bagi kita. Harapan baru yang menjadi sebuah kesempatan untuk memperjuangkan kehendak Allah di tengah dunia. Memberitakan dan menghadirkan kabar baik (Injil Yesus Kritus) bukanlah hal mudah dan tidak dapat dikerjakan oleh 2 tangan saja. Misi ini adalah misi bersama kita sebagai persekutuan orang percaya agar setiap orang mengambil bagian di dalamnya, dan menyatu di dalam persekutuan yang saling mendoakan. Dunia dengan kehendak dosanya menarik kita untuk menyatu dengan sesama demi memperjuangkan kepentingan diri sendiri namun di dalam Kristus yang menyelamatkan Ia memulihkan relasi kita termasuk relasi kita di antara sesama manusia. Di dalam Kristus, kita terhubung dan menyatu untuk saling menguatkan menghadirkan terang Kristus. Hanya karena kasih karunia Allah, kita dimampukan untuk saling menyatu dan memperjuangkan apa yang baik sebagai tanda hidup dalam pertobatan. Pendosa menjadi pendoa adalah panggilan kita. Pertama-tama sebagai pendosa kita ditebus dalam pengampunan Kristus kemudian kita dipanggil menghidupi panggilan baru sebagai pendoa.

Doa adalah sumber kekuatan kita untuk mengalami Kristus dalam hidup. Di dalam doa, kita bukan saja menaikkan apa yang kita butuhkan namun kita menyatu dalam perjuangan bersama sebagai umat Tuhan untuk menghadirkan terang Kristus. Menyatu dalam doa adalah kekuatan kita untuk menghidupi pertobatan sebab besarlah tantangan dan godaan yang kita hadapi. Marilah kita mengarahkan hati untuk terus menghidupi hidup baru dan menyatukan hati menjadi pendoa yang saling menguatkan

10 Maret 2024
Pdt. Dahlia Vera Aruan
*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only

Yesus: Bait Allah Yang Sejati

(Yohanes 2:13-22)

Injil Yohanes mengisahkan kepada kita saat Yesus memporak-porandakan Bait Allah di dalam kemarahan dan kegeraman-Nya terhadap hal-hal yang terjadi di depan Bait Allah. Mengapa Yesus marah? Ia marah terhadap praktik ketidakadilan, penindasan, korupsi dan kejahatan. Kemarahan-Nya menandakan keberpihakan-Nya kepada mereka yang lemah dan tidak berdaya. Kemarahan-Nya menegaskan apa arti dari kehadiran Bait Allah yang sejati. Bait Allah yang seharusnya menjadi tempat pertemuan umat dengan Allah yang menghadirkan kebaikan, pemulihan dan kebenaran namun yang terjadi sebaliknya. Peribadatan menjadi kedok dari kejahatan. Ketaatan memelihara ibadah menjadi selubung keserakahan.

Orang-orang yang seharusnya berseru dengan lantang namun bertindak sebagai penindas. Yesus merombak Bait Allah sebab setiap kejahatan harus disingkirkan dan dibersihkan untuk dibangun kembali hal baik dan benar di atasnya. Tindakan Yesus di Bait Allah itu disebut sebagai tindakan penyucian sebab rumah yang kudus itu telah dicemari oleh rupa-rupa kejahatan dan keserakahan. Kini yang harus dilakukan adalah penyucian dan menempatkan kembali peran Bait Allah yang sesungguhnya. Yesus adalah Bait Allah yang sejati, Ia menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya Bait Allah itu dihadirkan di antara manusia di dunia. Di dalam Yesus ada kebenaran sejati. Ada pembelaan di dalam kasih dan keberpihakan kepada mereka yang lemah. Di dalam Yesus ada pengampunan dan pemulihan. Di dalam Yesus adalah kasih yang sejati. Demikianlah hadirnya Bait Allah yang sejati yaitu menghadirkan karya-karya penyelamatan Yesus bagi dunia. Tindakan Yesus menyucikan Bait Allah, memanggil kita untuk mengevaluasi pelayanan Gereja-Nya di masa kini. Bagaimana Gereja telah menghadirkan dirinya di tengah pergulatan dunia.

Bagaimana GerejaNya memperjuangkan kebaikan dan pemulihan bagi dunia. Bagaimana Gereja memiliki keberanian untuk berpihak kepada yang lemah dan ketaatan untuk selalu berpusat kepada Kristus. Kiranya Gereja Yesus Kristus di dunia ini terus menghadirkan kebaikan dan cinta Yesus yang sejati.

3 Maret 2024
Pdt. Dahlia Vera Aruan
*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only

Hidup Berdasar Iman

(Markus 8: 31-38)

“Be Yourself!” adalah kalimat motivasi yang seringkali dilontarkan oleh para motivator kepada para pendengarnya. Diyakini bahwa dengan menjadi diri sendiri, maka otentifitas seseorang akan muncul, dan potensi dirinya akan menjadi maksimal. Tetapi menarik jika kita melihat dan belajar dari Firman Tuhan, ternyata apa yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus justru bertolakbelakang dengan kalimat motivasi yang menjadi favorit bagi banyak orang tersebut. Lho, apakah itu berarti Tuhan mengajarkan kepada kita untuk tidak menjadi pribadi yang otentik? Menjadi bukan diri sendiri? Mari kita lihat dalam teks kita. Dalam teks yang kita baca ini, kita membaca tentang pemberitahuan pertama tentang penderitaan yang akan dialami oleh Tuhan Yesus. Pemberitahuan ini menimbulkan reaksi kuatir yang besar dari Petrus. Reaksi yang kemudian juga direaksi (sangat) keras oleh Tuhan Yesus.

Pada saat itulah, di hadapan murid-murid-Nya dan banyak orang lain, Tuhan Yesus mengajarkan, bahwa untuk menjadi pengikut-Nya, seorang harus menyangkal dirinya, memikul salib dan mengikut Tuhan Yesus. Sangat bertolakbelakang dengan kalimat favorit para motivator itu bukan? Tapi mengapa? Bukankah hidup itu perlu otentifitas agar seorang menjadi sehat? Memang benar, tetapi jika seorang terlalu mengandalkan dirinya sendiri, sama seperti Petrus berpikir dirinya tahu yang terbaik, akibatnya justru bisa fatal. Karena sesungguhnya Tuhanlah yang dapat menentukan hidup dan mati kita. Dengan mempercayakan hidup kepada Tuhan, mengikuti jalan-Nya dengan iman, sesungguhnya manusia mendapatkan yang terbaik dalam hidup. Bagi kita orang percaya, yang menyandarkan hidup dalam iman kepada Kristus, tidak cukup hanya sekedar Be Yourself.

Untuk orang percaya, kita perlu menyangkal diri dan mengikut Yesus dan mendapatkan hidup yang sejati di dalam Kristus.

25 Februari 2024
Pdt. Diah Nooraini K.
*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only

Kemuliaan Dalam Solidaritas Tanpa Batas

(Markus 9: 2 – 9)

Apa ukuran dan standar kemuliaan bagi banyak orang saat ini? Ada seorang isteri yang ditegur suaminya demikian, “Ma, kalau persembahan jangan NN, kan kita mempersembahkan kali ini nilainya besar. Kalau kecil nggak apa NN, kalau besar ya jangan.” Tidak sedikit orang yang memandang kemuliaan itu dari berapa banyak yang dimiliki, seberapa populer dia dihadapan banyak orang. Pada masa ini, masa orang semakin mudah mengekspresikan diri dan kebanggaannya melalui media sosial, siapapun bisa menjadi pesohor dan menerima berbagai fasilitas sebagai pesohor.

Menariknya dalam firman Tuhan hari ini kita justru akan belajar tentang standar kemuliaan Tuhan Yesus yang berbeda dengan apa yang terjadi pada masa kini. Dalam teks disebutkan tentang bagaimana Tuhan Yesus dan 3 orang murid-Nya naik ke sebuah gunung yang tinggi, dan tiba-tiba terjadi hal yang luar biasa. Saat itu, Yesus tiba-tiba berubah rupa di depan mata para murid-Nya. Tidak disebutkan secara detail dalam Injil Markus selain dari jubah-Nya menjadi sangat putih berkilauan. Namun, jika menilik pada Injil Matius, disebutkan wajah-Nya bercahaya seperti matahari. Sebuah gambaran betapa kemuliaan Tuhan Yesus Kristus saat itu dinyatakan di depan para murid yang menyertai-Nya.

Ditambah lagi dengan kemunculan tokoh-tokoh penting bagi bangsa Israel, yaitu Elia dan Musa, dan dilengkapi dengan suara Allah yang menyatakan perkenan-Nya kepada Tuhan Yesus, semakin menguatkan posisi dan kemuliaan Tuhan Yesus Kristus. Setelah segala peristiwa tersebut, Tuhan Yesus mengajak turun para murid sambil berpesan agar mereka tidak memberitahukan peristiwa tersebut kepada siapapun. Menarik bukan? Kalau di masa ini orang berlomba untuk diketahui sebanyak mungkin orang tentang kelebihannya (atau kekurangannya) agar mendapatkan popularitas (baca: kemuliaan), Tuhan Yesus justru tidak ingin mengekspose kemuliaan besar yang ada dalam diri-Nya. Mengapa? Sebab bagi-Nya, yang paling utama adalah melakukan misi Allah di tengah dunia. Kemuliaan bagi-Nya adalah kesetiaan menyongsong jalan terjal memikul salib dan menyatakan misi Allah untuk menyelamatkan manusia.

Lebih dari kemuliaan karena sanjungan dunia, popularitas dengan segala hak isitimewanya, berjalan menuju Yerusalem untuk menderita bahkan mati adalah kemuliaan sejati. Apakah saudara juga sudah mempersiapkan diri menyatakan jalan kemuliaan Tuhan melalui hidup yang setia pada rancangan dan kehendak-Nya? (DNK)

11 Februari 2024
Pdt. Diah Nooraini K.
*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only