(Markus 9: 2 – 9)
Apa ukuran dan standar kemuliaan bagi banyak orang saat ini? Ada seorang isteri yang ditegur suaminya demikian, “Ma, kalau persembahan jangan NN, kan kita mempersembahkan kali ini nilainya besar. Kalau kecil nggak apa NN, kalau besar ya jangan.” Tidak sedikit orang yang memandang kemuliaan itu dari berapa banyak yang dimiliki, seberapa populer dia dihadapan banyak orang. Pada masa ini, masa orang semakin mudah mengekspresikan diri dan kebanggaannya melalui media sosial, siapapun bisa menjadi pesohor dan menerima berbagai fasilitas sebagai pesohor.
Menariknya dalam firman Tuhan hari ini kita justru akan belajar tentang standar kemuliaan Tuhan Yesus yang berbeda dengan apa yang terjadi pada masa kini. Dalam teks disebutkan tentang bagaimana Tuhan Yesus dan 3 orang murid-Nya naik ke sebuah gunung yang tinggi, dan tiba-tiba terjadi hal yang luar biasa. Saat itu, Yesus tiba-tiba berubah rupa di depan mata para murid-Nya. Tidak disebutkan secara detail dalam Injil Markus selain dari jubah-Nya menjadi sangat putih berkilauan. Namun, jika menilik pada Injil Matius, disebutkan wajah-Nya bercahaya seperti matahari. Sebuah gambaran betapa kemuliaan Tuhan Yesus Kristus saat itu dinyatakan di depan para murid yang menyertai-Nya.
Ditambah lagi dengan kemunculan tokoh-tokoh penting bagi bangsa Israel, yaitu Elia dan Musa, dan dilengkapi dengan suara Allah yang menyatakan perkenan-Nya kepada Tuhan Yesus, semakin menguatkan posisi dan kemuliaan Tuhan Yesus Kristus. Setelah segala peristiwa tersebut, Tuhan Yesus mengajak turun para murid sambil berpesan agar mereka tidak memberitahukan peristiwa tersebut kepada siapapun. Menarik bukan? Kalau di masa ini orang berlomba untuk diketahui sebanyak mungkin orang tentang kelebihannya (atau kekurangannya) agar mendapatkan popularitas (baca: kemuliaan), Tuhan Yesus justru tidak ingin mengekspose kemuliaan besar yang ada dalam diri-Nya. Mengapa? Sebab bagi-Nya, yang paling utama adalah melakukan misi Allah di tengah dunia. Kemuliaan bagi-Nya adalah kesetiaan menyongsong jalan terjal memikul salib dan menyatakan misi Allah untuk menyelamatkan manusia.
Lebih dari kemuliaan karena sanjungan dunia, popularitas dengan segala hak isitimewanya, berjalan menuju Yerusalem untuk menderita bahkan mati adalah kemuliaan sejati. Apakah saudara juga sudah mempersiapkan diri menyatakan jalan kemuliaan Tuhan melalui hidup yang setia pada rancangan dan kehendak-Nya? (DNK)
11 Februari 2024
Pdt. Diah Nooraini K.
*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only
