Keramahan Yang Menggembalakan

Yohanes 21 : 1 – 19

Saudara saudara yang dikasihi Tuhan, Perikop Yohanes 21: 1 – 19, adalah bagian dari serangkaian peristiwa Yesus menampakkan diri kepada para murid. Ketika berada di tepi danau Tiberias, Yesus mengajarkan tentang keramahan.

Pada saat itu Yesus menunjukkan contoh, dengan menyapa para murid yang sedang putus asa karena tidak berhasil mendapatkan ikan. Yesus tetap bersikap ramah kepada mereka yang pernah meninggalkanNya di masa yang berat dalam mengalami sengsara sampai kematian. Yesus yang bangkit, menang atas maut juga secara khusus memperlihatkan keramahan kepada Petrus yang sudah menyangkalNya tiga kali.

Keramahan Yesus adalah keramahan yang menggembalakan, artinya dengan penuh kasih, menuntun kepada kesadaran diri, atas kesalahan yang sudah dilakukan. Keramahan yang menggembalakan, dapat memulihkan relasi dan membuka kesempatan untuk berkembang ke arah yang lebih baik. Sebagai pengikut Tuhan Yesus, mari mempraktekkan keramahan yang menggembalakan dalam perjumpaan dengan sesama, siapapun dia. Amin

1 Mei 2022

Pdt. Samuel Adi Perdana

*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only

Kemenangan Untuk Kehidupan

Lukas 24: 1-12

Dalam sebuah buku tertulis “Surga itu ‘nggak penting. Fokuskan dirimu pada Tuhan”. Saya juga teringat seorang dokter gigi yang berusia 82 tahun saat ditanya tim perkunjungan, “Om mau didoakan suapaya masuk surga ya?” dan dokter gigi itu berkata spontan, “Saya tidak mau masuk surga, saya mau bersama Tuhan Yesus Kristus.” Terbersit dalam pemikiran saya kalimat singkat ini benar adanya. Kalau ditanya: berani nggak saya katakan bahwa surga itu tidaklah penting? Saya sendiri berani menjawab emang surga ‘nggak penting. Idealnya, hidup manusia di dunia ini adalah fokus kepada Tuhan. Tetapi realitanya kebanyakan manusia zaman ini hanya kepincut atau tertarik pada surganya saja. Akhirnya, mereka tidak fokus pada Tuhan dalam hidup keseharian; malah fokus mau masuk surga terus. Apa yang terjadi kalau bawaannya ke surga terus? Ya pastilah hidup yang dijalani di dunia ini terasa sumpek dan merasa persoalan hidup tidak ada habisnya.

Lihat pengalaman di hari Paskah yang dialami oleh Maria dari Magdala, Yohana, dan Maria ibu Yakobus (bdk. Luk. 24: 9,10). Mereka mencari Tuhan yang sudah wafat dan dimakamkan. Mereka hendak berziarah ke makam. Orientasi hidup mereka jelas yakni Tuhan Yesus. Dan setelah mereka diberitahu oleh dua orang dengan berpakaian berkilau-kilau bahwa Yesus telah bangkit,merekapun percaya; mereka menemukan Tuhan dengan iman mereka. Kemudian mereka menceritakan berita kebangkitan Yesus itu kepada para murid Yesus.

Saudaraku, kalau kita mencari surga, belum tentu mendapatkan Tuhan. Tapi, kalau kita mencari Tuhan, otomatis kita mendapatkan surga seperti perempuan-perempuan yang dikisahkan dalam Injil hari ini. Oleh karena itu, peristiwa kebangkitan Tuhan di Hari Raya Paskah sesungguhnya merupakan ajakan bagi kita agar terus memfokuskan hidup untuk mencari Tuhan dalam keseharian hidup. Saat kita mampu menemukan Tuhan dalam keseharian, itulah kemenangan untuk kehidupan. Selamat Paskah.

17 April 2022

Pdt. Samuel Adi Perdana

*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only

Hamba Yang Menderita

Lukas 23 : 1 – 49

Kita memasuki Minggu Palma, Minggu mengenangkan Sengsara Tuhan Yesus Kristus. Kisah sengsara yang dibacakan dalam Injil Lukas di Minggu ini cukup Panjang. Mengapa bagian hidup Yesus yang terlihat gagal dan lemah ini tidak disembunyikan saja? Jawabannya sederhana: bagi para murid dulu dan murid-murid Yesus jaman sekarang, sengsara dan kematian Yesus tidak pernah dimengerti sebagai gagal atau peristiwa kelemahan. Seba liknya kisah sengsara dan kematian Yesus ini adalah bukti kasih Allah yang tanpa batas itu diperjuangkan sampai titik darah penghabisan. Semua itu karena begitu besar ka sih Allah kepada dunia ini, kepada Saudara dan saya. Mari kita hayati dalam suasana hening pujian dari komunitas Taize yang membawa kita pada permenungan minggu sengsara ini yang berjudul “Jesus Remember Me”.

Jesus Remember Me

When You Come Into Your Kingdom

Jesus Remember Me

When You Come Into Your Kingdom

Pujian dalam suasana hening ini, terinspirasi dari permohonan seorang penjahat yang digantung di salib yang bersebelahan dengan salib Yesus, “Lalu ia berkata: Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” (Lukas 23: 42) Dari permohonan seorang penjahat ini, Yesus meresponnya, “Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau aka nada bersama -sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (Luka s 23:43) Hal ini se kali lagi menegaskan bahwa kasih Allah itu tanpa batas. Penderitaan apapun juga tak pernah menghentikan batas ka sih Allah itu. Hamba yang menderita itu mengajak kita menghayati lagi dan lagi, ka sih Allah yang tanpa batas melalui sengsara dan kematian Yesus. Diharapkan, kita pun tak memiliki batas dalam mengasihi Tuhan dan sesame; sekalipun dihalang rintang oleh berbagai persoalan hidup.

10 April 2022

Pdt. Samuel Adi Perdana

*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only

Makna Pengurapan Yesus

Yohanes 12:1-8

Apa yang dilakukan Maria dengan menuangkan setengah kati minyak narwastu murni dan yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyeka dengan rambutnya menunjukkan bahwa Maria tahu betul apa yang menjadi faktor terbesar dan mendasar dalam mengikut Yesus, yaitu merindukan Yesus dengan sebesarbesarnya. Yesus adalah sumber kehidupan yang memberi harapan dalam kehidupan; itulah keyakinan Maria. Seluruh orang dalam ruangan mencium bau harum minyak narwastu murni itu; bau harum ungkapan kerinduan Maria menyambut Yesus dalam hidupnya.

Disisi lain, yaitu bagi Yesus, pengurapan kaki-Nya dengan minyak narwastu murni yang mahal harganya oleh Maria ini dijadikan symbol untuk mengingat hari penguburan-Nya. Hari penguburan-Nya adalah waktu dimana Allah melalui Yesus Kristus mengungkapkan bau harum kematian-Nya yang memberi kehidupan bagi manusia; manusia dilepaskan dari hukuman karena dosa-dosanya. Bau harum inilah yang gagal dicium oleh Yudas.

Di Minggu Pra Paskah 5 ini, kita diajak bukan untuk melakukan pertobatan dengan merenungkan dan membuat daftar perbuatan apa yang harus kita tinggalkan, dan mendata perbuatan baik apa yang harus segara kita wujudkan sebagai murid-murid Kristus. Bukan. Melainkan kita diminta duduk dihadapan Yesus dan berkata “Aku rindu padaMu Tuhan.” Sambutlah Yesus Kristus dengan kerinduan sebesar-besarnya dan seharum-harumnya.

3 April 2022

Pdt. Samuel Adi Perdana

*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only

Meneruskan Kasih Bapa yang Menyambut

Lukas 15:1-3, 11-32

Ada sebagian orang yang ketika bergumul dengan dosa-dosanya, merasa bahwa dosadosanya sudah terlalu besar, hidupnya sudah selesai karena dosa-dosa itu, merasa “sudah terlanjur”, sehingga memutuskan meneruskan hidup dalam keberdosaan. Mari kita menengok dan bercermin pada apa yang dilakukan oleh si bungsu dalam bacaan Lukas 15:11-32. Si bungsu dalam kisah Perumpamaan tentang anak yang hilang, telah menghabiskan seluruh harta yang diberikan oleh ayahnya.

Si bungsu menghabiskan harta itu dengan cara menjual harta bagiannya dan berfoya-foya di negeri yang jauh. Lalu kelaparan hebat melanda negeri itu. Malapetaka kelaparan membuat si bungsu hidup sangat susah. Dalam kondisi kesusahannya, ia mengingat keberdosaannya. Si bungsu mengatakan “Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap soraga dan terhadap bapa,” (ay. 18). Pada pengakuan itu kita bisa melihat bagaimana si bungsu memandang kesengsaraan hidup yang dialaminya sebagai pintu masuk untuk memikirkan kembali ke rumah ayahnya. Ia menyadari bahwa tidak lagi memiliki hak meminta apa pun dari ayahnya. Ia terpikir menjadi salah seorang upahan ayahnya. Dalam kisah selanjutnya, kita mendapati bahwa ayahnya tidak memutus relasi dengan si bungsu. Sang ayah justru menyambut si bungsu pulang.

Ayahnya menyambutnya dan menciumnya (ay. 20). Melalui kisah ini kita belajar tentang kesadaran mau datang, mau kembali kepada Bapa dengan ketulusan. Kebahagiaan akan kita alami ketika kita datang mengakui kesalahan dan pelanggaran. Mazmur 32 menyatakan “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu! Karena demikian besar kasih Allah Bapa kepada kita, hendakah kita mengisi hidup dengan menyambut sesama juga dalam kasih Allah.

27 Maret 2022

Pdt. Rumenta Santyani M

*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only