Menanti Tuhan Untuk Siap Ditampi

Matius 3:1-12

Teriakan Yohanes Pembaptis “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat” muncul di tengah-tengah situasi formalitas keagamaan yang merajalela, saat itu orang lebih mementingkan ciri keyahudiannya, atau sebagai keturunan Abraham, namun kehidupan dalam relasi dengan Tuhan, semua atribut keagamaan hanya topeng topeng yang menutupi kemunafikan perbuatan umat Israel. Kehidupan keagamaan hanya di permukaan saja, tidak disertai ibadah nyata dalam hidup keseharian. Di tengah tengah situasi yang hanya mementingkan diri sendiri, tidak ada keadilan dan cinta kasih, karena itu teriakan “bersiaplah” menuntut perlunya ada perubahan sikap hidup dari hanya memikirkan diri sendiri menjadi hidup yang peduli pada yang membutuhkan perhatian. Teriakan “Persiapkan jalan bagi Tuhan” mengajak kita untuk memeriksa kembali jalan jalan yang ada di sekitar kita. Bagaimana kehidupan keluarga kita ? Hubungan s uami dan istri, orang tua dan anak, mertua dan menantu, kakak dan adik. Bersiaplah untuk memperbaiki seluruh hubungan tersebut dengan perubahan sikap hidup dan sikap hati terhadap suami, anak-anak, orang tua dsb).

Kemudian juga bagaimana dengan sikap hidup kita, mari kita periksa kembali, apakah mementingkan diri sendiri, tidak peduli dengan sesama masih sangat menonjol terjadi dalam hidup keseharian kita ? Yang terakhir bagaimana dengan pekerjaan dan pelayanan kita ? apakah ada tindakan tindakan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan seperti melakukan korupsi, tidak jujur, semena mena ? Bagaimana dengan hidup keagamaan kita ? apakah hanya formalitas saja, sekedar kewajiban menjalankan ritual Kehidupan yang murni dengan kehidupan yang penuh kemunafikan sulit untuk dibedakan. Perbedaan baru tampak mencolok ketika w aktu penampian tiba.

Di dunia tidak sedikit orang percaya yang nampaknya memiliki kemurnian hati tetapi sebenarnya hatinya sudah dicemari oleh tipu daya iblis. Dari buahnyalah kita akan mengenal mereka (Mat. 7:20). Kehidupan yang berbuah memiliki bobot sehingga tidak goyah ketika waktu penampian tiba, tetapi kehidupan yang tidak berbuah terasa ringan dan mudah diombang-ambingkan angin lalu. Bersiaplah sebab alat penampi sudah di tangan-Nya. Ia akan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya (ay. 12). — Jika semua ini masih terjadi dalam kehidupan kita, maka marilah kita bersiap untuk memperbaikinya menjelang kedatangan Tuhan Yesus ke dunia ini. Bersiaplah karena kita tidak pernah mengetahui kapan Tuhan akan datang kembali ke dunia ini. Tuhan memberkati.

4 Desember 2022

Pdt. Em. Tumpal Tobing

*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only

Menanti Tuhan Dalam Kesiapsediaan

Matius 24:36-44

Teriakan Yohanes Pembaptis “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat” muncul di tengah-tengah situasi formalitas keagamaan yang merajalela, saat itu orang lebih mementingkan ciri keyahudiannya, atau sebagai keturunan Abraham, namun kehidupan dalam relasi dengan Tuhan, semua atribut keagamaan hanya topeng topeng yang menutupi kemunafikan perbuatan umat Israel. Kehidupan keagamaan hanya di permukaan saja, tidak disertai ibadah nyata dalam hidup keseharian. Di tengah tengah situasi yang hanya mementingkan diri sendiri, tidak ada keadilan dan cinta kasih, karena itu teriakan “bersiaplah” menuntut perlunya ada perubahan sikap hidup dari hanya memikirkan diri sendiri menjadi hidup yang peduli pada yang membutuhkan perhatian. Teriakan “Persiapkan jalan bagi Tuhan” mengajak kita untuk memeriksa kembali jalan jalan yang ada di sekitar kita.

Bagaimana kehidupan keluarga kita ? Hubungan s uami dan istri, orang tua dan anak, mertua dan menantu, kakak dan adik. Bersiaplah untuk memperbaiki seluruh hubungan tersebut dengan perubahan sikap hidup dan sikap hati terhadap suami, anak-anak, orang tua dsb). Kemudian juga bagaimana dengan sikap hidup kita, mari kita periksa kembali, apakah mementingkan diri sendiri, tidak peduli dengan sesama masih sangat menonjol terjadi dalam hidup keseharian kita ?

Yang terakhir bagaimana dengan pekerjaan dan pelayanan kita ? apakah ada tindakan tindakan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan seperti melakukan korupsi, tidak jujur, semena mena ? Bagaimana dengan hidup keagamaan kita ? apakah hanya formalitas saja, sekedar kewajiban menjalankan ritual Kehidupan yang murni dengan kehidupan yang penuh kemunafikan sulit untuk dibedakan. Perbedaan baru tampak mencolok ketika w aktu penampian tiba. Di dunia tidak sedikit orang percaya yang nampaknya memiliki kemurnian hati tetapi sebenarnya hatinya sudah dicemari oleh tipu daya iblis.

Dari buahnyalah kita akan mengenal mereka (Mat. 7:20). Kehidupan yang berbuah memiliki bobot sehingga tidak goyah ketika waktu penampian tiba, tetapi kehidupan yang tidak berbuah terasa ringan dan mudah diombang-ambingkan angin lalu. Bersiaplah sebab alat penampi sudah di tangan-Nya. Ia akan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya (ay. 12). — Jika semua ini masih terjadi dalam kehidupan kita, maka marilah kita bersiap untuk memperbaikinya menjelang kedatangan Tuhan Yesus ke dunia ini. Bersiaplah karena kita tidak pernah mengetahui kapan Tuhan akan datang kembali ke dunia ini. Tuhan memberkati.

27 November 2022

Pdt. Rita Dewi Lestari

*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only

Waspada Dan Bertahan

Lukas 21 : 5 – 19

Ada beberapa diskusi jika membicarakan tentang tujuh keajaiban dunia. Sejarah kehidupan manusia telah melew ati berbagai jaman dengan bermacam pencapaian yang menimbulkan decak kagum. Pencetus aw al daftar ini adalah Antipater Sidon, pelancong asal Yunani Kuno yang membuat daftar struktur dalam sebuah puisi yang ditulis sekitar tahun 140 SM. Demikian yang ditulis oleh Antipater Sidon : Aku telah menyaksikan tembok Babilonia yang perkasa yang di atasnya terbentang jalanan untuk kereta-kereta perang, dan patung Zeus di tepi sungai Alfeus, aku telah melihat taman gantung, dan Kolosus (patung kolosal) Dewa Matahari, dan gunung buatan dari piramida yang menjulang tinggi, serta makam raya Raja Mausolus; namun ketika aku melihat kuil Artemis yang menjulang ke awan-awan, yang lain itu semuanya kehilangan keindahannya, dan aku berkata, ‘Tengoklah, selain Olympus, Matahari tidak pernah lagi melihat apapun yang sedemikian agung.’ — Antipater, Greek Anthology IX.58

Meski demikian indah dan mengagumkan segala karya cipta itu, apa yang disebut-sebut sebagai keajaiban duniapun akhirnya hancur. Demikian pula halnya dengan Bait Allah. Ketika Yesus mendengar beberapa orang sedang membicarakan tentang bait Allah dan mengagumi segala keindahan bangunan yang dihiasi dengan batu yang indah-indah dan berbagai-bagai barang persembahan, Yesus mengatakan : “Apa yang kamu lihat di situ – akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang l ain; semuanya akan diruntuhkan.” Lebih lanjut Yesus menunjuk pada sejarah perjalanan manusia, bahw a akan muncul mesias palsu (ayat 8), terjadi peperangan (ayat 9-10), bencana alam (ayat 11), penganiayaan pada orang-orang Kristen (ayat 12-19). Dalam situasi yang demikian, Yesus mengajarkan para muridnya untuk mengembangkan 2 sikap berikut :


1) Waspada
Sikap w aspada berarti melihat atau bersikap hati-hati terhadap berbagai upaya untuk menyesatkan pikiran dan hidup umat. Jika Yesus memperingati para murid akan mesias palsu, maka di masa kini kita
diperingatkan untuk selektif pada berbagai berita yang mungkin saja tidak benar/berita bohong. Banyak orang tersesat karna berita/kabar bohong kemudian menyebarkan berita bohong/sesat itu pada yang lain.
Kew aspadaan perlu diw ujudkan dalam sikap tidak gegabah/tidak terburu-buru melainkan mencari data tambahan/pembanding untuk menguji kebenaran suatu berita.


2) Bertahan
Bertahan berarti setia dan tabah dalam menghadapi penderitaan. Yesus mengatakan bahw a para murid akan mengalami penganiayaan karna kepercayaan pada Yesus. Dalam keadaan demikian, jika para murid mau tetap setia dan bersaksi maka mereka akan ditolong dengan hikmat untuk dapat menghadapi situasi itu. “..tidak sehelaipun dari rambut kepalamu akan hilang.” Itulah janji penyertaan dan pemeliharaan Tuhan.
Dengan mengembangkan kedua sikap inilah, maka dalam pertolongan Tuhan, setiap umat Tuhan akan
dimampukan untuk menghadapi kesulitan dan tekanan yang terjadi dalam hidup. Biarlah kuasa Roh Allah, memeluk dan melingkupi setiap umatNya. Amin.

13 November 2022

Pdt. Rita Dewi Lestari

*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only

Dia Allah Yang Hidup

Lukas 29 : 27 – 38

Semua orang tahu bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti akan dialami oleh setiap orang. Namun, pandangan apa yang selanjutnya terjadi setelah kematian, tidak semua orang punya pandangan yang sama. Ada orang-orang yang meyakini bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya. Ibaratnya, kematian tidak sama seperti televisi yang mati, lalu hitam pekat seluruhnya, tidak ada apa-apa lagi. Bagi mereka yang meyakini ada kehidupan setelah kematian, kematian bukanlah akhir. Kematian diumpamakan seperti pintu, yang harus dilalui untuk masuk keruanglain yang berbeda dari ruang sebelumnya.

Seperti apakah ruang yang baru dimasuki ? Pandangan setiap orang tidak selalu sama. Ada yang meyakini bahwa di sana setiap orang akan memiliki rumah yang tipe dan luasnya disesuaikan dengan kebaikan yang dilakukan semasa hidupnya.Ada yang berpendapat di kehidupan selanjutnya, orang -orang akan menikmati kegembiraan hidup di tempat yang bertahta emas, permata, dan orang-orang yang elok parasnya. Pandangan semacam ini, masih sangat melekatkan kehidupan di dunia ini dengan kehidupan setelah kematian (sorga). Dalam pandangan yang masih sangat melekatkan kehidupan di dunia ini dengan kehidupan di sorga, maka orang-orang Saduki menanyakan pada Yesus tentang kehidupan setelah kematian. Dalam tradisi Yahudi, jika seorang pria Yahudi mati tanpa meninggalkan seorang anak, maka untuk membangkitkan keturunan baginya, saudaranya harus kawin dengan istri saudaranya itu.

Tujuannya, agar nama dan harta benda orang yang meninggal itu, tetap ada dalam lingkungan keluarganya. Berdasarkan tradisi inilah, maka orang -orang Saduki ini mengajukansuatupersoalan tentang kehidupan setelah kematian (kebangkitan). Jika hingga 7 saudara laki -laki itu menikahi seorang perempuan yang sama (karna tujuan membangkitkan keturunan) tapi upaya itu tidak berhasil. Tidak ada anak yang dilahirkan, dan 7 bersaudara itu mati dengan tidak meninggalkan anak, pertanyaannya: dalam kebangkitan perempuan itu bersuami siapa? Bagi Yesus, pertanyaan ini keliru. Karna pandangan tentang hidup di dunia dilekatkan pada kehidupan setelah kebangkitan.

Cara hidup di sorga berbeda. Yesus tidak menjelaskan lebihjauh bagaimana kehidupan di sorga. Yesus hanya menyebut orang akan hidup seperti malaikat. Artinya, ada kehidupan setelah kematian. Kemudian, Yesus menggarisbawahi bahwa Allah yang hidup itu telah menyertai sejak permulaan segala sesuatu, sejak Abraham, Ishak, Yakub dan hingga keturunan-keturunan selanjutnya. Artinya, ia menyertai kita saat ini, dan kita juga diingatkan bahwa Ia tetap menjadi Allah dari setiap orang yang sudah lebih dahulu meninggalan kita di dunia ini. Sebab orang -orang itu hidup, dalam kebangkitan bersama dengan Yesus Kristus.

6 November 2022

Pdt. Rita Dewi Lestari

*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only

Keluarga Yang Memiliki Hidup Yang Berdampak

(Lukas 19:1-10)

Saudara-saudara yang dikasihi Kristus, Bagaikan sayur tanpa garam, adalah gambaran ketika kehidupan seseorang terasa hampa-tidak berarti. Hal ini bisa dialami oleh siapa saja ketika dalam tahap-tahap perkembangan iman dan kepercayaan sesuai usianya menjadi ekslusif – yang seharusnya inklusif. Efeknya adalah ia akan merasa gerak hidupnya monoton, tidak berdampak bagi dirinya, dan pasti tidak berdampak bagi sesamanya. Jenuh, bosan, lari dari kenyataan dengan memilikih dekat pada alat-lat gadget atau menjadi gamers lalu menyendiri hingga tak memiliki relasi sosial, bahkan berkecendungan mudah putus asa sampai bunuh diri. Kejadian-kejadian tersebut dapat dicegah bila keluarga sejak dini mendidik diri dan anggota keluarganya untuk memiliki kebiasaan-kebiasaan/habit yang positive dan sengaja dibentuk.

Gereja melalui perpanjangan tangan Majelis Jemaat yaitu Komisi/Komite bersengaja bersama Majelis Jemaat untuk mencipta kegiatankegiatan sesuai kebutuhan umat dan berdampak bagi umat. Untuk itu, setiap orang beriman perlu mendorong dirinya sendiri untuk hadir dalam persekutuan, menjadi aktifis dengan menyediakan diri menjalankan pelayanan sesuai dengan passion-nya. Sehingga kehadiran umat di gereja bukan sekedar presensi di hadapan Tuhan namun presensi dirinya bagi Tuhan dan sesama. Karena gereja hadir bukan untuk dirinya sendiri, namun juga dari diri dan oleh dirinya memiliki kesadaran bergaul akrab dengan Allah dan sesama, sehingga hidupnya tidak monoton melainkan berw arna. Kegiatan seperti mengenalkan panti asuhan dan panti jompo kepada anggota keluarga adalah salah satu cara agar makin mengenal kehidupan sesamanya.

Eva Bachtiar, salah satu pendiri Garda Pangan di Surabaya yang mulai dilakukan pada tahun 2017, ide aw alnya adalah ingin menyelamatkan makanan yang berlebih dan dibagikan kepada keluarga pra sejahtera. Mereka bekerjasama dengan food rescue seperti resto, hotel, kafe, bakery dll. Bila ada makanan layak namun tidak terjual, maka akan diambil, disortir dan didistribusikan. Termasuk acara-acara seperti pernikahan, konferensi, dan pesta yang menghasilkan makanan berlebih. Luar biasa, karena mereka juga melakukan pendanaan mandiri dengan membuat food banking dan bercita-cita memiliki cabang di berbagai kota.

Mereka juga menjadi penyelamat pangan di tengah pandemi. Inilah salah satu contoh hidup berdampak, dan menolong kehidpan keluarga pra sejahtera. Zakheus yang rindu berjumpa dengan Yesus, melakukan perubahan besar dalam hidupnya, ketika Yesus bersedia hadir di rumahnya. Ia yang dikenal sebagai pemungut cukai – sebuah profesi yang ‘diharamkan’ oleh orang-orang Yahudi, namun memiiki sikap yang berkebalikan dengan orang-orang Yahudi sendiri. Orangorang Yahudi rajin berbicara tentang agama, namun tindakannya justru berkebalikan, seperti memusuhi orang-orang dengan pekerjaan seperti pemungut cukai. Bukannya menolong dan memberi tempat, mereka justru meminggirkan Zakheus dan teman-temannya, mereka merasa ekslusif sebagai pemimpin Yahudi dengan menindas sesama orang Yahudi.

Yesus membaw a perubahan besar, dan menunjukkan bahwa seorang Zakheus – yang dianggap berdosa, dicemooh dan dihindari orang, justru memiliki iman dan kepercayaan inklusif, hingga Yesus menyelamatkan diri dan seluruh anggota keluarganya. Ia berjuang ketika hendak berjumpa Yesus. ia tidak malu memanjat pohon karena sadar dirinya pendek. Zakheus, membawa perubahan besar, ia dan keluarga memiliki hidup yang berdampak bagi diri, keluarga dan masyarakat Yahudi saat itu. Saudara, mari mulai mengembangkan iman dan kepercayaan inklusif, sehingga setiap keluarga menjadi keluarga yang memiliki hidup yang berdampak. Tuhan memberkati.

30 Oktober 2022

Pdt. Untari Setyowati

*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only