(Markus 6:1-13)

Pohon cemara Bristlecone adalah pohon tertua di dunia. Beberapa di antaranya diperkirakan berumur 3.000 sampai 4.000 tahun. Pada tahun 1957, ilmuwan Edmund Schulman menemukan sebatang di antaranya, dan menamainya “Metusaleh”. Pohon cemara berbongkol dan sangat tua ini hampir berumur 5.000 tahun! Pohon ini sudah ada saat rakyat Mesir membangun piramid. Pohon Bristlecone tumbuh di atas pegunungan AS bagian barat, di ketinggian kira-kira 3.050-3.350 meter. Mereka mampu bertahan hidup, bahkan di saat kondisi lingkungan yang sangat buruk sekalipun: suhu udara yang amat dingin, angin topan, lapisan udara yang tipis, dan curah hujan yang rendah.

Sebenarnya, lingkungan dan alam ganaslah yang menjadi salah satu faktor sehingga mereka mampu bertahan hingga abad milenium ini. Penderitaan dan tekanan telah menumbuhkan kekuatan yang luar biasa. Seperti Namanya ‘ever green’ maka ‘Metusaleh’ tetap menjadi cemara yang hijau dalam segala musim. Dalam perjalanan pelayanan-Nya, Yesus mengalami penolakan dan pelecehan. Bagaimana tidak! Mereka yang mendengarkan pengajaran Yesus dan takjub berubah menjadi kecewa dan menolak-Nya karena tahu bahwa Yesus anak Maria dengan profesi tukang kayu.

Manusia memang selalu berubah (people always change). Penolakan mereka terhadap Yesus ternyata tidak membawa dampak pada pelayanan-Nya. Sebaliknya, orang banyak itu tidak mendapatkan pekerjaan Allah yang dilakukan Yesus (Markus 6:5). Bagaimana selanjutnya pelayanan Yesus dan para murid-Nya? Injil Markus menuliskan bahwa pelayanan Yesus terus berlanjut dan Kerajaan Allah makin dinyatakan bagi mereka yang menerima-Nya. Para murid diutus Yesus untuk terus memberitakan bahwa orang harus bertobat.

Keselamatan makin dinyatakan bahkan kuasa Allah makin dirasakan oleh mereka yang menyambut-Nya. Dalam hidup kita, mungkin dalam pelayanan dan pekerjaan bisa jadi ada kekecewaan dan penolakan. Kisah pohon cemara menjadi inspirasi bagaimana lingkungan dan alam yang ganas menjadikannya bertahan dan kokoh menghadapi perubahan musim. Keseharian kita bisa dijadikan situasi yang membentuk kita untuk makin bergantung dan percaya bahwa Allah sedang membentuk kita. Bukankah dalam hidup kita juga banyak musim silih berganti. Pertanyaannya, apakah dalam setiap musim itu Allah hadir? Kita tidak mungkin menjadi teguh jika tanpa kehadiran-Nya. Para murid dapat menjalankan pesan Yesus sebab keteguhan mereka dilandaskan pada percaya yang penuh bahwa Yesus selalu menyertai mereka. Bagaimana dengan kita?

7 Juli 2024
Pdt. Elizabeth Hasikin
*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only

gkbikl
Author: gkbikl

Gereja Kristen Berbahasa Indonesia Kuala Lumpur

Leave a Reply

Discover more from Gereja Kristen Berbahasa Indonesia

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading