Tunduk di Bawah Kedaulatan Allah

Markus 4: 26-34

Saudara-saudara yang terkasih, apa yang terlintas dalam benak saudara, ketika membaca tema di atas “Tunduk dalam kedaulatan Tuhan.” Mungkin ada di antara kita yang justru bertanya, “Mungkinkah manusia tunduk dalam kedaulatan Tuhan?”. Bukankah kecenderungan manusia lebih tunduk pada keinginan diri sendiri dan kenikmatan dunia ketimbang tunduk dalam kedaulatan Tuhan seperti yang terjadi pada manusia pertama Adam dan Hawa di taman Eden (Kejadian 3: 1-13).

Kehendak Tuhan jelas, “Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Tetapi apa yang dilakukan oleh manusia? Mereka memilih untuk tunduk pada keinginan mereka sendiri.Mungkin ada di antara kita yang mengatakan mau tidak mau, siap tidak siap, bisa tidak bisa, tunduk dalam kedaulatan Tuhan itu adalah sebuah keharusan. Tidak bisa ditawar atau tidak bisa dibantah karena kita ini hanya ciptaan-Nya.

Jika Tuhan sudah bersabda, sudah menyatakan kehendak-Nya, tidak ada satupun manusia yang dapat membantah atau melawan. Saya ingat seorang Oma pernah mengatakan kepada saya: “Setiap kali berdoa, saya selalu minta kepada Tuhan, kalau bisa, waktu saya dipanggil pulang oleh Tuhan, dengan enak yaitu pada waktu saya tidur. Selain itu, saya tidak ingin merepotkan keluarga hanya untuk merawat saya. Tapi saya ini kan hanya bisa minta, yang menentukan tetap Tuhan. Dan doa yang diajarkan oleh Tuhan, bukan kehendakku yang jadi melainkan kehendak Tuhan yang jadi.”Saudara-saudara, dalam Markus 4: 26 dikatakan, Lalu kata Yesus: “Beginilah hal Kerajaan Allah itu seumpama orang yang menabur benih di tanah.”

Mari kita perhatikan kata Kerajaan Allah dalam bahasa Yunani dipakai kata He Basileia Tou Theo, Basileia berarti kuasa atau otoritas sang Raja. Hal ini hendak mengatakan kepada kita, yang dimaksud dengan Kerajaan Allah bukan soal situasi atau tempat dimana Allah berkuasa tetapi soal kekuasaan atau otoritas Allah. Pembahasan tentang Kerajaan Allah ini dilanjutkan dengan menggunakan gambaran tentang benih yang ditabur oleh seorang penabur, benih itu bertumbuh, bumi mengeluarkan buah dan kemudian musim menuai tiba. Dari perumpaan ini, kita melihat tiga hal:

Pertama, ada yang menabur, yang menyampaikan kabar baik kepada sesamanya;

Kedua, ada komunitas yang baik untuk membuat benih itu bertumbuh,

Ketiga ada proses yang dijalani. Benih-tangkai-bulir-buah-panen.

Apa artinya? Kesediaan menempatkan kehendak dan otoritas Tuhan di atas segala-galanya adalah sebuah proses yang harus kita jalani karena disana kita belajar untuk menyalibkan keinginan daging, ego dan kemanusiaan kita. Dalam proses tersebut kita membutuhkan komunitas yang baik untuk kita bertumbuh bersama dan pemberita-pemberita kabar baik. Ini yang pertama.Kedua, di ayat 30-34, Yesus mengumpamakan Kerajaan Allah seperti biji Sesawi. Seperti apa biji sesawi itu? Biji yang kecil, tumbuh di padang pasir, bertahan hidup di cuaca yang tidak mendukung dan jika biji itu bertumbuh menjadi sebuah pohon, ia memberi kesejukan pada makhluk hidup yang lain. Mengapa Yesus mengumpamakan Kerajaan Allah dengan biji sesawi?

Yesus hendak mengatakan tunduk pada kedaulatan Allah membuat kita bertahan dalam segala cuaca hidup yang kita jalani dan memberikan kesejukan tidak hanya bagi kita tetapi juga bagi orang-orang di sekitar kita.Sauadaraku, dari bacaan kita minggu ini, Markus 4: 26-34, kita dapat melihat Tunduk dalam kedaulatan/ otoritas Allah, memampukan kita melalui hidup sebagai anak-anak Tuhan. Karena itu mari terus berproses, terus belajar untuk menempatkan kehendak Tuhan dalam hidup kita. Mari menjadi komunitas persekutuan umat Tuhan yang hidup yang memawartakan kabar baik memberi kesejukan kepada sesama. Tuhan memberkati. Amen.

13 Juni 2021

Pdt. Henny Yulianti

*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only

gkbikl
Author: gkbikl

Gereja Kristen Berbahasa Indonesia Kuala Lumpur

Leave a Reply