Menjadi Penjaga Bagi Saudara

Gereja didirikan oleh Tuhan di dunia ini agar setiap orang yang percaya kepada-Nya dapat terpelihara iman serta kehidupannya. Dengan demikian Allah bekerja di dalam dan melalui persekutuan orang beriman untuk memelihara umatNya. Salah satu tugas yang dipercayakan kepada gereja Tuhan adalah menjaga kawanan domba-Nya agar tidak ada yang terhilang ataupun tersesat di dalam dunia ini. Apalagi kehidupan di dalam dunia seringkali memperhadapkan umat beriman dengan berbagai pergumulan atau godaan yang tidak jarang sangat menggiurkan.

Bagaimana kita dapat melaksanakan tugas ini dengan baik? Ada 4 (empat) hal penting yang dapat kita pelajari dan renungkan dari Matius 18:15-20 ini.

Yang pertama, tidak mempermalukan orang yang hidup dalam dosa. Bagaimanapun juga seorang yang berdosa tetaplah seorang manusia yang memiliki perasaan dan harga diri. Itu sebabnya Tuhan Yesus mengajarkan agar peneguran awal dilakukan secara empat mata, tertutup dan bersifat sangat pribadi. Bila orang itu mengeraskan hati, maka bisa melibatkan 2 atau 3 orang lagi. Nasihat ini menggaris-bawahi kehati-hatian. Dan tindakan yang berhati-hati menunjukkan bahwa tindakan tersebut dilandasi oleh kasih yang mendalam. Tentu saja diharapkan sentuhan kasih tersebut akan menumbuhkan kesadaran orang itu untuk bertobat.

Yang kedua, kita datang dengan motivasi yang benar, yaitu sebagai gembala, bukan sebagai hakim. Motivasi ini akan memengaruhi sikap kita ketika kita mendatangi orang yang berdosa itu. Bila motivasi kita sebagai hakim, maka tanpa kita sadari, kita akan bersikap arogan. Tetapi bila kita datang sebagai gembala maka kita akan datang dengan sikap penuh kasih, kelemah-lembutan dan kesabaran.

Yang ketiga, kalaupun pada akhirnya penghakiman harus dijatuhkan, karena orang itu mengeraskan hati, maka penghakiman itu tidak boleh diputuskan oleh pribadi/individu. Penghakiman merupakan keputusan dari sebuah persekutuan. Karena, pertama, yang mendapatkan mandat dari Tuhan adalah persekutuan, bukan individu. Dan kedua, keputusan individu bisa sangat subyektif dan terbuka kemungkinan menghasilkan keputusan yang tidak adil. Tetapi bila persekutuan yang memutuskan, maka hal itu mestinya sudah didasarkan atas berbagai pertimbangan yang matang serta dibawa dalam doa.

Yang keempat, seperti yang telah disinggung di depan, Allah selalu bekerja dalam persekutuan. Itu berarti bahwa persekutuan atau gereja Tuhan ini mengemban mandat dan wibawa illahi. Pada satu sisi, sebagai gereja kita mesti berhati-hati dalam menjalankan wibawa dan mandat illahi ini. Jangan sampai kita menyalah-gunakan wibawa illahi (abuse of power). Pada sisi lain, sebagai anggota jemaat kita dipanggil untuk menghormati wibawa illahi dari gereja Tuhan, sehingga kita juga dipanggil untuk menghormati keputusan-keputusan yang baik dan benar dari gereja Tuhan. Dan kita dipanggil untuk menerimanya sebagai kehendak Tuhan juga bagi umat-Nya.

Pdt. Mungki Sasmita

*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only

gkbikl
Author: gkbikl

Gereja Kristen Berbahasa Indonesia Kuala Lumpur

Leave a Reply