Memahami Pikiran Allah

(Bacaan: Yeremia 15:15-21; Mazmur 26:1-8; Roma 12:9-21; Matius 16:21-28)

Hai, jumpa lagi dengan aku, Si Penjelajah Waktu. Sekarang Aku ingin membagi salah satu pengalaman penjelajahanku.

Aku masih ingat betapa pernyataan iman Petrus – bahwa Yesus adalah Mesias – telah membuka babak baru dalam kehidupan para murid Yesus. Menurutku, pada waktu itu Tuhan Yesus membuka mata para murid untuk menerima kenyataan bahwa kematian dan kebangkitan-Nya merupakan satu-satunya cara agar dosa manusia ditebus dan keadilan Allah ditegakkan (bdk. Mat. 16:21). Akan tetapi, aku melihat kenyataan bahwa pernyataan Tuhan Yesus ini justru mengagetkan para murid. Dan Petrus adalah orang pertama yang secara spontan terlihat tidak setuju dengan ucapan guru-Nya (Mat. 16:22).

Pada waktu itu aku melihat bahwa Petrus tidak sedang bertindak kurang sopan terhadap Yesus, melainkan ia merasa ada kejanggalan dengan status Yesus sebagai anak Allah. Aku mencoba menebak cara berpikir Petrus, mungkin dalam benaknya ia berpikir bagaimana mungkin seorang Mesias dan anak Allah dapat dibunuh? Bisa juga dalam benaknya ia berpikir juga bahwa jika Yesus mati, maka Ia tidak mungkin dapat disebut Mesias bagi orang Yahudi.

Sampai di sini aku merasa bahwa bagi Tuhan Yesus, bujukan Petrus merupakan provokasi iblis untuk memberontak kepada Allah (23; bdk. Kej. 3:3-5; Mat. 4:6). Akan tetapi aku meyakini bahwa Tuhan Yesus tidak mengecam Petrus, melainkan mengingatkan bahwa pikirannya tidak terarah pada kehendak Allah sangat menyesatkan. Tuhan mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh Petrus itu adalah perkataan Iblis. Hmm, aku tahu sekarang bahwa setan ingin menjauhkan Tuhan Yesus dari rencana Allah. Maka wajar saja, jika Tuhan Yesus yang memahami tipu daya setan itu mengatakan bahwa setan memberikan batu sandungan agar manusia hanya memikirkan dirinya saja, bukan memikirkan kehendak Tuhan.

Di dalam zaman perjanjian lama aku juga melihat bahwa nabi Yeremia juga bergumul tentang kehendak Allah di dalam dirinya (lih. Yeremia 15:15-21). Bahkan ia sampai mengatakan bahwa Tuhan itu seperti ‘sungai yang curang’. Aku melihat bahwa inilah pergumulan yang cukup mendasar sebab Yeremia telah berupaya untuk melakukan apa yang dikehendaki Allah tetapi Ia justru mendapatkan perlakuan yang membuat dirinya menderita. Namun indah bahwa Tuhan ternyata setia dengan janji-NYA. Tuhan tidak akan meninggalkan Yeremia bahkan Tuhan akan melepasannya dari orang-orang jahat (bdk.Yer. 15:19-21).

Ah, sampai di sini aku menyimpulkan bahwa kehendak Allah yang sejati adalah melakukan kasih (bdk. Roma 12:9-21), meskipun ada konsekuensi yang mesti ditanggung. Ya, betul mencintai sampai terluka. Dan aku harus berupaya untuk mewujudkan kehendak Allah itu di dalam seluruh kehidupanku.

Selamat berjuang hai jiwaku. Tuhan Yesus memberkati. Amin

Pdt. Guruh Jatmiko Septavianus

*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only

gkbikl
Author: gkbikl

Gereja Kristen Berbahasa Indonesia Kuala Lumpur

Leave a Reply