Keluargaku Adalah kebun AnggurNya

(Matius 21: 33-46)

Bulan Oktober bagi sejumlah gereja Indonesia dimaknai sebagai momen Bulan Keluarga. Itu berarti keluarga mendapat tempat yang istimewa dalam kehidupan kita. Bagaimanapun, setiap orang lahir dan hadir di tengah-tengah sebuah keluarga. Karenanya, keluarga dibutuhkan dalam kehidupan manusia.

Seperti di masa lalu, ada tantangan dalam kehidupan keluarga – termasuk keluarga Kristen di dalamnya. Setidaknya ada 2 tantangan yang dihadapi oleh keluarga masa kini, yakni: pertama, penggunaan produk teknologi yang berlebihan. Alih-alih mendekatkan, penggunaan produk teknologi yang berlebihan, bisa menjauhkan relasi antarangota keluarga. Kedua, relasi yang (saling) meracuni (toxic relationship), yakni relasi – entah di antara pasangan suami-istri atau orangtua-anak atau saudara-bersaudara, yang dipenuhi oleh kekerasan (seperti: paksaan, intimidasi, dominasi atau lainnya) dan kekasaran. Tentunya masih ada tantangan lain yang dihadapi oleh keluarga masa kini.

Lalu, bagaimana kita memaknai keluarga Kristen dalam kompleksitas tantangannya? Mari kita cermati Alkitab. Dalam Alkitab, umat Tuhan kerap digambarkan sebagai kebun anggur milik-Nya (lih. Yes. 5:1-7; Mzm. 80:8-20; dan juga Mat. 21:33-46). Keluarga Kristen – sebagai umat Tuhan, tentu bisa digambarkan juga sebagai kebun anggur-Nya. Sebagai Pemilik kebun anggur, Allah sudah melakukan yang terbaik bagi kebun anggur-Nya. Setidaknya ada 3 hal yang sudah Ia berikan bagi kita:

a. Pagar di sekeliling kebun anggur yang berfungsi sebagai pelindung dan pembatas. Dalam kehidupan kita, fungsi itu sesungguhnya ada di dalam Alkitab – yang melindungi kita dari jalan yang salah dan pedoman pada apa yang benar.

b. Lobang tempat memeras anggur guna menghasilkan anggur yang berkualitas. Dalam kehidupan kita, hal tersebut menunjuk pada aneka pengalaman yang membentuk pribadi kita menjadi tangguh, dewasa, beriman dan berpengharapan.

c. Menara jaga yang berfungsi sebagai pengawas dari marabahaya. Dalam kehidupan kita, fungsi tersebut ada pada komunitas – termasuk komunitas gereja; di mana dalam komunitas, kita bisa saling berbagi, berdoa bersama dan mendapat penghiburan atau penguatan.

Sudahkah kita menyadari betapa luar biasanya Allah dalam memberkati kita, sebagai kebun anggur-Nya? Sayangnya, ada kalanya anugerah Allah itu disia-siakan dengan pola hidup yang tidak benar di hadapan Tuhan. Dalam Injil Matius, pola hidup yang tidak benar itu digambarkan oleh sikap para penggarap terhadap utusan pemilik kebun anggur (lih. Mat. 21:35-39). Tentu, pola hidup itu bukanlah pilihan bagi keluarga Kristen sebagai kebun anggur Allah. Oleh karena itu, pada momen Bulan Keluarga ini, mari kita mengupayakan pola hidup yang benar sebagai respons atas segala anugerah yang Allah telah berikan kepada kita, kebun anggur-Nya.

Pdt. Natanael Setiadi

*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only

gkbikl
Author: gkbikl

Gereja Kristen Berbahasa Indonesia Kuala Lumpur

Leave a Reply