(Matius 20:1–16)
Iri hati adalah buah dari ketakutan. Dan ketakutan semacam ini akan “memandulkan” setiap orang. Ia menjadi kerdil dan berpikiran sempit (baca: negatif) terhadap segala sesuatu. Henri Nouwen menyebutnya sebagai “suara kematian.” Ketakutan semacam apa yang dapat membuahkan iri hati?
Yang pasti ketakutan bahwa apa yang ia miliki tak akan cukup untuk membuatnya bahagia. Orang semacam ini biasanya akan membangun kebahagiaannya di atas kemalangan orang lain. Jika orang lain mendapatkan keberuntungan, maka itu berarti malapetaka bagi dirinya. Entah bagaimana pikiran yang aneh ini bisa timbul, namun inilah realitas yang ada.
Perumpamaan yang diungkapkan Yesus dalam Matius 20:1-16 menjelaskan kebenaran ini dengan sangat nyata. Tingginya angka pengangguran pada zaman Yesus membuat kisah ini menjadi mudah dipahami oleh para pendengarnya. Semua orang membutuhkan makanan untuk bertahan hidup.
Karena itu adalah wajar jika semua orang membutuhkan pekerjaan yang dapat memberikan pendapatan untuk memperoleh kebutuhan pokok. Masalahnya keterbatasan lapangan pekerjaan membuat kesempatan untuk bekerja tak bisa dimiliki oleh semua orang. Jika sang tuan pemilik kebun anggur kemudian memberikan upah yang sama kepada setiap orang yang bekerja, agar mereka dapat bertahan hidup, entah itu yang bekerja hanya satu jam atau bekerja seharian, salahkah ia?
Adalah sangat tepat kata si tuan, “Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” (Mat. 20:15). Spiritualitas hidup di dalam Kristus membuahkan belarasa dan persahabatan. Inilah yang seringkali telah menjadi kering dalam kehidupan sehari-hari di masa kini. Apalagi jika materi menjadi tanda atau ukuran kesuksesan.
Pragmatisme menjadi daya dorongnya. Tak terkecuali di dalam apa yang disebut komunitas gereja.
Seberapa besar keluasan hati kita menerima orang berdosa bertobat dan kembali menjadi bagian dari keluarga kita serta komunitas gereja? Panggilan hidup Kristen adalah menghidupi anugerah Allah yang tanpa batas, yang membuahkan persahabatan, kesuburan dan kegembiraan. Inilah tanda-tanda kehidupan yang sesungguhnya. (Pdt. ACS/24092023)
24 September 2023
Pdt. Aditya Christo
*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only
