KAMU ADALAH SAHABATKU

Yohanes 15: 9 – 17

Adakah Saudara menemukan kasih yang mau berkorban demi orang lain? Kalaupun ada, rupanya terlalu sulit untuk menemukannya. Seperti kasih heroik yang ditunjukkan oleh seorang pria bernama Martin Markus. Ia bersedia mengorbankan dirinya, menyelamatkan tunangannya dari mobil yang akan menabraknya. Peristiwanya terjadi pada Sabtu, 12 Agustus 2017 ketika sebuah mobil jenis dodge challenger yang dikendarai oleh James Alex Fields, Jr seorang fasis yang menabrakkan kerumunan demonstran anti fasis di Charlottesvile, Virginia, Amerika Serikat.
Kasih heroik yang kalau boleh dikatakan hampir langka itu, justru itulah kasih yang diajarkan Tuhan Yesus kepada murid-muridNya. Ia mengatakan: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yoh 15:13). Siapa yang dimaksud Yesus dengan sahabat-sahabat dalam konteks ini? Yesus menjawab: “Kamu adalah sahabatku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu” (Yoh 15:14). Perintah apa yang dikatakan Yesus? “Inilah perintahKu, supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” (Yoh 15:12). Apa arti perkataan Yesus ini? Artinya, ada standar kasih yang Yesus mau supaya murid-muridNya melakukan hal tersebut, yaitu: “mengasihi sesama sebagaimana Yesus mengasihi mereka.”
Dan mengapa Yesus menyebut mereka dengan sebutan sahabat-sahabatNya? Kata Sahabat (Yun: Philos), dalam konteks jaman Yesus sebenarnya berarti hubungan antara; teman, rekan kerja, tuan-hamba. Seperti kita lihat dalam kamus bahasa Inggris, kata Sahabat (Ing; friend). Jadi artinya, hanya teman, tepatnya teman yang saling mendatangkan manfaat atau keuntungan. Yesus memberikan makna yang lebih dalam dari itu, yaitu bukan sahabat dalam arti “yang mendatangkan manfaat atau keuntungan bagi dirinya” tetapi justru “sahabat yang mau menyerahkan atau mengorbankan dirinya bagi sesamanya.”
Untuk menjadi “sahabat yang mengorbankan dirinya” mungkin kita bisa mengatakan banyak contoh bisa kita temukan dalam kehidupan keluarga kita, yaitu: orangtua yang berkorban bagi masa depan anak-anaknya; sebaliknya, anak-anak yang mau berkorban bagi orang tua yang sudah membesarkan mereka; suami-istri yang saling bersedia berkorban bagi cinta yang mereka bangun, dsb. Dari contoh-contoh tersebut coba kita perhatikan. Bukankah kita mau berkorban karena mereka adalah orang-orang yang memang “layak” kita kasihi? Mereka adalah keluarga kita sendiri, orang-orang yang mungkin juga sudah berkorban atau berjuang bersama-sama kita. Bagaimana dengan orang-orang diluar keluarga kita? Orang-orang yang tidak memberi manfaat atau keuntungan apapun bagi kita; orang-orang yang berbeda pandangan atau sulit bekerja-sama dengan kita; orang-orang yang bermusuhan dengan kita. Layakkah mereka kita kasihi dengan pengorbanan kita? Haruskah kita menyerahkan diri bagi kehidupan mereka?
Saudara, Yesus telah mengatakan kepada kita: “Kamu adalah sahabat-sahabatKu.” Kini, apa respon iman Saudara terhadap panggilan tersebut?. SS. 06April2018

gkbikl
Author: gkbikl

Gereja Kristen Berbahasa Indonesia Kuala Lumpur

Leave a Reply