(Matius 22:34-46)
Ibu Teresa punya mimpi bahwa sebelum semua manusia mati, mereka akan mengalami bahwa mereka dikasihi, maka Ia mempersembahkan seluruh hidupnya untuk membuat mimpinya itu menjadi kenyataan. Ia menceritakan pengalamannya berjalan di daerah yang kering dan sekilas matanya memandang sesuatu yang sedang bergerak disekitar. Ia menyelidiki dan menemukan seorang yang terkapar hampir mati disitu. Dia langsung membawa ke rumah biaranya dan di sana orang itu mengalami kematian dalam damai dan tenang. Dan sebelum kematiannya ada yang dikatakannya bagi ibu Teresa. “Saya hidup seperti binatang di jalanan, sekarang saya boleh mati seperti seorang malaikat.”
Terus terang tidak banyak orang yang mempunyai keinginan seperti Ibu Teresa. Tidak banyak orang yang mau mempersembahkan seluruh hidupnya hanya untuk membuat orang lain merasakan kasih. Tidak banyak orang yang mau meninggalkan segala yg dia miliki hanya untuk melayani orang lain dan menunjukkan kasihnya pada mereka. Yang ada sekarang dari kebanyakan orang adalah orang yang terus menerus melihat ke dirinya sendiri yang disadari atau tidak menjadikan dirinya sendiri sebagai pusat dari kehidupannya. Apakah hal ini menguntungkan atau merugikan dirinya, apakah hal itu menyenangkan atau menyakitkan dirinya.
Orang lebih senang diperhatikan ketimbang memperhatikan, orang lebih memilih dikasihi dulu baru dia mau mengasihi.
Saudara berbicara tentang mengasihi diri sendiri dan sesama, ada suatu pertanyaan yang mendasar: Mengapa orang begitu sulit untuk mengasihi ? Ada beberapa hal real yang membuat kita sulit untuk mengasihi atau kasih kita tidak benar: Terlanjur terluka, ada tuntutan ke orang lain (menetapkan harapan menurut ukuran diri), ada keinginan untuk pemuasan diri, ada pamrih, mengasihi diri lebih dari orang lain, kurang rela untuk memberi/berkorban bagi orang lain, tidak memberi kesempatan pada diri sendiri untuk mau mengampuni (menutup diri), tidak berdamai dengan diri sendiri. Bukankah semua perilaku ini terangkum dalam apa yang dinamakan Ego.
Oleh sebab itu untuk keluar dari belenggu ego Yesus mengajarkan kepada orang percaya untuk masuk dalam hukum pola kehidupan Matius 22:37+39. Mengapa hukum ini menjadi titik tolak ? Mengapa mengasihi Allah ditempatkan menjadi hukum yang pertama dan terutama. Jawabnya adalah karena sumber kasih adalah Allah. Orang yang mengasihi Allah mengambil bagian dalam hidup Allah. Kalau kasih lebih dipahami sebagai bahasa hati, maka orang yang mengasihi haruslah hidup di dalam hati Tuhan. Realitas demikian ini membuat hidup seseorang bukan lagi dirinya sendiri yg hidup melainkan Allah-lah yg hidup dalam dirinya. Orang yg dikuasai kasih berarti juga dikuasai oleh pribadi Allah.
Mengapa mengasihi sesamamu manusia seperti dirimu sendiri ditempatkan berdampingan dengan hukum yg pertama dan terutama? Karena mengasihi sesama manusia adalah bukti dari mengasihi Allah dengan mewujudkannya terhadap sesama. Bagaimana seseorang dapat menyatakan bahwa dia mengasihi Allah yang tidak kelihatan tetapi dia tidak mengasihi seseorang yang dia lihat.
Kasih terhadap sesama berarti mau mengenal manusia lain sebagai karakter yang berbeda dengan dirinya dan harus memperlakukan orang lain sesuai dengan watak, kemampuan, keterbatasannya, kepercayaan, dan cita-cita hidup. Pengenalan itu perlu agar kita dapat ikut menolong dan membantu dia ke arah pertumbuhan dan perkembangan dirinya secara wajar.
Mengasihi orang lain berarti peduli pada kepentingan orang lain yang dikasihi
29 Oktober 2023
Pdt. Jerdi Stevan
*Untuk Kalangan Sendiri – for Non-Moslem Only
