BERSAHABAT DAN PARTISIPATIF DALAM CINTA KASIH

Yohanes 16 : 12 – 15

Minggu ini adalah Minggu Trinitas. Minggu, di mana kita bersama-sama belajar kembali memahami kemuliaan Allah yang Esa yang dinyatakan sebagai Bapa Anak dan Roh Kudus (Tritunggal). Melalui perikop bacaan kita saat ini, dinyatakan bahwa penerimaan Yesus Kristus sebagai Tuhan akan menghantarkan kita pada hidup yang dipimpin oleh Roh Kebenaran dan itulah yang akan memimpin kita memasuki kebenaran Firman Allah (ayat 12-15). Tanda khas relasi Allah Tritunggal tampak dalam ayatnya yang ke-15, segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya daripada-Ku. Memahami Allah Tritunggal bukanlah hal yang mudah. Allah Tritunggal menjadi misteri sejak awal gereja hidup, bahkan lebih jauh dari itu, sejak adanya kehidupan manusia. Dalam perjalanan panjang gereja, upaya mengajar tentang Allah Tritunggal terus dilakukan.

Konstruksi perikoresis, merupakan konstruksi teologi yang akhir-akhir ini sedang digumuli. Tiga pribadi yang menyatu dan terikat dalam sebuah tarian indah bersama. Ketiga pribadi itu berelasi dengan saling memberi ruang. Allah di dalam Yesus dan Yesus dalam Allah. Roh Kudus dalam Yesus dan Yesus dalam Roh Kudus. Allah di dalam Roh Kudus. Allah dalam Roh Kudus dan Roh Kudus dalam Allah. Memahami ketiga-Nya berarti memahami relasi. Dalam diri Yesus kita mengenal Bapa dan Roh Kudus. Dalam Kristus manusia mampu memahami kasih Allah pada ciptaan-Nya. Melalui Yesus, Roh Kudus dipahami peran-Nya. Mereka berelasi dengan saling melengkapi. Ketiga-Nya selalu ada bersama, saling mengisi dan saling melengkapi. Mereka pun saling mengasihi Satu kepada Yang Lain.

Dengan demikian, hakikat relasi Allah Tritunggal yang penuh persahabatan dan partisipatif dalam cinta, kasih karunia dan damai sejahtera. Maka mari kita pun menghayati dan menghidupinya dalam iklim persahabatan yang partisipatif dengan hidup bersama. Sebagai gereja-Nya, kita memahami diri menjadi bagian dari karya Allah, bagian dari kehidupan bersama untuk bersedia bersahat dengan ciptaan Allah lain dan partisipatif dalam cinta kasih. Pun dalam hidup bermasyarakat, bagaimana kita dengan umat lain yang membangun iklim persahabatan yang pastisipatif di gereja dan keluarga. Jika kita melakukan apa yang sudah kita pahami, maka itu berarti kita ikut masuk dalam tarian Agung Allah.. Salam persahabatan. Amin (WIT)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.