Memperjumpakan Allah

Bacaan: Lukas 6: 17- 26

luke6

Pada masa kampanye terkait pemilihan presiden 2019, para calon nampak sekali sangat sering datang menjumpai masyarakat dari lapisan atas hingga bawah. Tentu perjumpaan yang mereka lakukan sebagai sebuah upaya agar mereka dikenal oleh rakyat dan tentunya bermotivasi agar rakyat kelak memilih dia dalam pemilu. Dalam bagian bacaan kita, nampak juga bahwa Yesus adalah tipikal seorang yang senang berjumpa dengan banyak orang. Kata “turun” menjadi menarik dalam bagian pertama. “Turun” adalah gerakan dari atas ke bawah. Pada sisi lain, turun juga berarti “menunjukkan diri”.

Semula Yesus secara eksklusif memanggil dan memiih 12 murid di atas bukit. Pemilihan itu untuk kalangan terbatas dan tertutup bagi khalayak ramai. Dari keadaan tersembunyi, Yesus turun (menampakkan diri, epifania) di hadapan orang banyak. Ia memperjumpakan diri pada orang yang ingin mendengar-Nya, pada orang sakit, dan orang kerasukan. Perjumpaan itu penuh dengan pengalaman indrawi. Bukan hanya telinga yang mendengar suara Yesus, tetapi juga mata yang melihat, tangan yang terjabat, dan bahkan semua orang berusaha menjamah-Nya. Yesus menjadi tokoh yang begitu guyub dengan masyarakat kecil, dan bahkan tidak berjarak.

Bagi masyarakat, perjumpaan itu mengobati rasa lapar dan haus, serta memberi pengharapan bagi mereka yang sehari-hari hidup dalam kemiskinan. Bagi mereka yang haus akan ketenangan hidup, saat berjumpa Yesus, mereka menerima penghiburan dari tutur kata yang terlontar dari mulut-Nya. Ucapan bahagia Yesus berisi kata-kata pengharapan dan penghiburan bagi mereka, dan bagi siapa saja yang menerima pelayanan Yesus. Mereka semua dirangkul dan dipulihkan, jasmani dan rohani. Melalui kehadiran-Nya, Yesus memperjumpakan kasih Allah dengan orang banyak, dan membuktikan bahwa kasih Allah sungguh datang. Dalam kesehariannya, Yesus terus mencoba untuk mewujud-nyatakan kasih Allah. Lalu bagaimana dengan kita, sudahkah kita menjadi sosok yang senantiasa memperjumpakan Allah dengan orang lain? Sudahkah kasih Allah itu terwujud-nyatakan melalui kehadiran kita? Selamat bergumul. Amin.

 

Kata – Kata Yang Indah

Bacaan Alkitab: Lukas 4: 21- 30

4-TO-C

Bacaan kita menceritakan kisah tentang Yesus yang pulang mudik ke kampung halaman-Nya, Nazareth. Pada umumnya jika kita pulang kampung akan mendapat ucapan “welcome home” dari saudara atau bahkan kerabat kita. Tetapi yang menarik, hal tersebut tidak didapatkan oleh Yesus. Ketika Ia kembali ke kampung halaman-Nya, reaksi orang-orang terhadap Yesus justru berakhir dengan penolakan. Mengapa Yesus ditolak? Yesus ditolak oleh orang-orang sekampungnya di Nazareth bukan karena Dia sedang mencari keuntungan bagi dirinya sendiri, melainkan karena Dia telah mengganggu kenyamanan orang-orang sekampungnya dengan mengatakan sesuatu hal yang sebetulnya benar dan juga indah. Dengan menyatakan bahwa Allah memulihkan janda Sarfat dan Naaman (melalui nabi-nabi-Nya), maka Yesus sedang mengajarkan bahwa kasih Allah juga menjangkau bangsa lain (non-Israel/ kafir). Indah bukan?! Bahwa ternyata kasih Allah tidak eksklusif.

Tetapi karena perkataan inilah orang-orang Nazareth kecewa dengan Yesus, karena orang-orang Yahudi begitu yakin bahwa mereka adalah umat pilihan Allah dan menganggap rendah orang-orang lain. Mereka percaya bahwa Allah menciptakan orang-orang kafir untuk menjadi seperti kayu bakar di Api Neraka. Karena Yesus menyampaikan apa yang mereka tidak suka, maka mereka tidak percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Kekaguman mereka sontak hilang! Apalagi Dia adalah Anak Maria dan Yusuf si tukang kayu yang mereka kenal baik selama 30 tahun. Latar belakang keluarga Yusuf yang sederhana dan rakyat jelata menghalangi mereka untuk percaya bahwa Yesus adalah Mesias.

Tak jarang, kita mengaminkan Firman Tuhan secara pilih-pilih. Firman Tuhan yang menurut kita cocok dengan pemikiran kita, sesuai dengan rencana kita, atau yang kita sukai, itulah yang kita pegang. Ketika ada firman Tuhan yang menegur, menyatakan kesalahan, atau membongkar pemikiran kita, maka kita menghindari atau mengacuhkannya. Dengan demikian, tanpa sadar kita memilah-milah firman. Firman Tuhan bukan lagi sebagai sebuah pedoman iman yang mendidik kita dalam kebenaran, melainkan sekadar pembenaran atas kita. Tentu ini sesuatu hal yang memprihatinkan. Nah lalu bagaimana respons kita terhadap firman Tuhan? Apakah keindahan firman Tuhan itu bisa kita nikmati ketika itu menghibur kita maupun menegur kita? Atau firman Tuhan hanya terasa indah jika firman itu selalu menghibur dan membenarkan perilaku kita saja? Selamat bergumul. Amin. (Pdt.YA)