“Mengasihi Dengan Perkataan Dan Perbuatan”

Lukas 10 : 10 – 18

TUGAS gembala ialah memelihara domba. Penulis Yohanes 10:11-18 menyatakan bahwa Yesus adalah Gembala yang Baik. Selain memelihara, Ia juga rela menyerahkan nyawa-Nya untuk para domba-Nya. Pernyataan tentang gembala yang mengorbankan nyawa-Nya itu diulang sebanyak tiga kali (11, 15 17). Sifat dan karakter seorang Yesus sebagai Gembala yang Baik berbeda dengan gembala yang tidak bertanggung jawab dan menelantarkan domba-dombanya (12-13).
Gembala yang Baik juga mengenal dombanya dan dombanya pun mengenal suara-Nya. Pola hubungan tersebut menggambarkan relasi segitiga antara Yesus dengan Allah Bapa dan kita selaku umat beriman. Yesus memiliki kemesraan hubungan dengan Allah Bapa. Perelasian yang mesra itu, membuat Yesus rela berkorban demi keselamatan umat-Nya. Sang Bapa pun menyatakan kasih kepada-Nya dan siapapun tak bisa merebut kasih Bapa kepada Yesus. Namun Yesus sendiri membagikan kasih Bapa kepada umat-Nya. Melaluinya, Ia membangun relasi antara kita dengan Allah Bapa dalam iman kepada-Nya. (14-15)
Sifat dan karakter lain dari Gembala Baik yang dikisahkan dalam perikop ini ialah keterbukaan-Nya untuk mengasihi domba lain yang bukan dari kandang. Mereka dituntun, hingga mendengarkan Sang Gembala dan menjadi satu kawanan (16). Patut dicatat bahwa Gembala yang Baik juga telah rela mengorbankan nyawa-Nya bagi semua domba, termasuk domba dari luar kandang. Apa artinya? Jika maksud Yesus adalah bangsa-bangsa di luar umat Allah, maka kita pun menjadi bagian dari domba yang dikasihi-Nya.
Ketika kita menghayati panggilan untuk mengasihi Tuhan melalui kasih kita kepada sesama, maka sesungguhnya kita patut menyatakan kasih kepada semua orang. Artinya, Injil Tuhan harus diupayakan sedemikian rupa agar menjangkau semua orang di segala tempat dan waktu (18b). Memang kita dipanggil untuk mengasihi tanpa membedakan asal usul atau latarbelakang. Di Indonesia yang penduduknya beragam suku bangsa atau di Malaysia yang penduduknya terdiri dari campuran berbagai bangsa, kita seakan diberi ladang kesempatan untuk mengasihi tanpa batas perbedaan.
Kita mengalami keselamatan oleh karya Yesus, maka pantas jika kita mengasihi sesama dengan kata dan perbuatan. Dua cara mensyukuri anugerah Tuhan itu perlu dilaksanakan dengan baik. Ada orang menganggap mengasihi dengan perkataan itu lebih mudah daripada dengan perbuatan. Namun bagi sebagian orang mengasihi dengan perkataan jauh lebih sulit, karena harus mengubah kebiasaan bicara seenaknya. Kata-kata memiliki kekuatan sangat luarbiasa. Ia bisa mempengaruhi bukan hanya pendengar tapi juga si pembicara. Maka sebelum berkata, kita patut mempertimbangkan dampaknya.
Begitu pula sebaliknya, banyak orang menganggap mudah mengasihi dengan perbuatan, misalnya berbagi, tapi bagi sebagian orang hal itu justru sulit karena terbiasa meprioritaskan diri sendiri. Marilah Oleh karena itu, marilah kita belajar untuk melakukannya secara bertahap. Tuhan memberkati. (ut) 22April2018

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.