“Komunitas yang Dipulihkan dan Diutus”

Yohanes 20: 19 – 31

APAKAH “dipulihkan” dan “diutus” punya arti berbeda? Sesungguhnya, dua kata itu memang berbeda arti, namun memiliki kesatuan makna. Kita bisa membayangkan seperti hendak bepergian jauh menggunakan kendaraan, tentu kita akan terlebih ke bengkel untuk melakukan “perbaikan”. Setelah kondisi kendaraan benar-benar oke, tidak ada komponen yang rusak, barulah kita “menggunakan” tanpa kuatir. Begitu pula, bila raja hendak mengutus panglima ke medan laga, tentu harus memilih orang yang bisa diandalkan. Jika panglima sedang cidera, ia harus lebih dulu diobati agar layak diutus berperang.
Yesus hendak mengutus para murid-Nya melanjutkan misi pemberitaan Injil ke seluruh penjuru dunia. Hal itu sudah Ia sampaikan sebelum peristiwa penyaliban dan kebangkitan-Nya. Namun sekalipun Yesus telah bangkit, peristiwa penyaliban yang berdarah-darah itu masih menyisakan trauma dalam diri para murid. Selain itu, keberingasan para pemimpin agama Yahudi, para Imam dan ahli-ahli Taurat pun belum reda. Mereka masih penasaran dengan peristiwa kebangkitan Yesus, dan kegeraman hati mereka dilampiaskan dengan mengancam para pengikut Yesus.
Memperhatikan kondisi tersebut, Yesus terlebih dulu memulihkan sikap mental para murid-Nya, sebelum Ia mengutus mereka. Bagaimana cara Yesus memulihkan para murid? Injil Yohanes mengisahkan bahwa sejumlah hal sebagai berikut:

  • Yesus hadir pada moment yang tepat, saat para murid berada pada kondisi yang mencekam.
  • Yesus juga hadir pada waktu yang tepat.
  • Yesus hadir di tengah para murid agar semua bisa melihat dan berada dekat dengan Dia.
  • Yesus menunjukkan luka bekas siksa, yakni tangan dan lambung yang berlubang.
  • Yesus juga menyapa para murid dengan salam damai sejahtera yang menyejukkan.

Melalui lima hal di atas, secara bertahap para murid dipulihkan dan respons mereka ialah bersukacita karena melihat Tuhan. Sayangnya, dalam moment yang penting itu, Tomas tidak hadir. Setelah mereka dipulihkan, barulah Yesus menyampaikan tugas pengutusan-Nya.
Berbagai persoalan hidup yang berat kerap membuat kita mengalami kondisi yang kurang siap untuk diutus Tuhan melakukan misi-Nya bagi umat manusia. Banyak orang Kristen yang sejatinya sudah hidup dalam anugerah Allah bahkan mengalami berkat yang tak terhingga, namun masih diliputi oleh ketakutan. Pada umumnya mereka kuatir akan kenyamanan hidup, keutuhan keluarga, posisi pekerjaan, status sosial yang mapan dan nyaman terganggu bila membuka diri untuk melayani. Dan masih banyak lagi bentuk kekuatiran yang mencekam kehidupan orang percaya sehingga menolak untuk terlibat dalam pelayanan.
Apakah yang harus dipulihkan dari diri kita?
Apakah yang harus dipulihkan dari komunitas kita sehingga siap diutus oleh Tuhan membawa kabar baik kepada dunia?
Tuhan Yesus yang bangkit, memulihkan dan mengutus kita semua. Amin. (ut) 8April2018

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.