“Mengikut Jalan Kemuliaan Yesus”

Yohanes 12: 20 – 33

Orang-orang Farisi itu berkata seorang kepada yang lain: “Kamu lihat sendiri, bahwa kamu sama sekali tidak berhasil, lihatlah, seluruh dunia datang mengikuti Dia.” (Yoh. 12:19). Perhatikan, bagaimana pengajaran digunakan untuk berebut pengaruh! Orang-orang Farisi itu sedang mencari kemuliaan dirinya. Menang-kalah mewarnai kehidupan agama, fokusnya bukan lagi Tuhan, tapi kemuliaan sang pemimpin atau golongan tertentu. Hal ini bukan hanya terjadi pada masa itu, namun juga sekarang. Kalau begitu, mengapa kita harus mengikuti jalan kemuliaan Yesus, apa bedanya?
Ada empat hal penting yang perlu kita perhatikan:
Pertama, jalan kemuliaan Yesus bukan berujung kepada dirinya, tetapi kemuliaan Allah Bapa (“Bapa, muliakanlah nama-Mu!”, 12:28). Fokus hidup dalam pelayanan Yesus, bukan pada diri-Nya sebagai manusia. Tetapi untuk melakukan kehendak Bapa. Keselarasan arah pelayanan Yesus dengan Allah jelas sekali. Perumpamaan sebagai biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati, menunjuk pada orientasi tumbuh dan berbuah. Tuhan Yesus tidak berencana untuk berada di dunia dan menjadi super star yang terus menerus hidup dan memiliki banyak pengikut. Tuhan Yesus berada di dunia ini untuk memberitakan kasih Allah, dan menyelamatkan kita. Untuk itu Dia siap mati menggantikan kita.
Ada yg menarik dengan orang-orang Yunani yang datang pada hari raya itu datang untuk bertemu Yesus (12:20-21), apa yang mendorong mereka ? Apakah keberanian Yesus mengusir para pedagang di pelataran Bait Allah, memberi makan 5000 orang, atau membangkitkan Lazarus? Namun bukannya memberi angin segar untuk menarik pengikut, Kristus justru menunjukkan waktu kematiannya sudah dekat. Dan barangsiapa mau melayani Dia harus mengikut-Nya, di mana Yesus berada di situ pengikut-Nya berada (12:26).
Jadi hal kedua yang menjadi pelajaran penting adalah konsekuensi mengikut Yesus, yaitu mengikuti kemana Ia pergi. Apakah ini berarti kita akan mengalami persis seperti yang dialami Yesus? Tidak, namun orientasi kita adalah mengikuti kehendak-Nya, bukan kehendak kita pribadi. Bukan pula berbagai ambisi kita yang mengatas-namakan Tuhan. Bagaimana mengujinya? Kita akan melihat bagaimana keselarasan kehendak kita dengan pekerjaan Tuhan yang ada, apakah lebih banyak bertentangan? Apakah pelayanan kita justru semakin banyak membuat orang menjauhi Tuhan? Apakah semakin banyak orang yang tak terlayani?
Ketika menghadapi keadaan mengancam, apakah Tuhan Yesus menghindar (“Bapa, selamatkanlah aku dari saat ini?”, 12:27)? Tidak, Yesus justru menyadari untuk itulah Ia datang ke dunia ini.
Maka hal penting ketiga adalah memberi diri, bukan melarikan diri. Banyak orang yang mencari aman atau menghindar, ketika dibutuhkan. Banyak orang yang lebih mencari keuntungan pribadi, dari pada menolong sesama. Di mana saudara berada ketika Yesus membutuhkan saudara? Dia sudah mati bagi saudara, tapi anda justru pergi untuk menghindari-Nya. Di mana saudara, ketika orang-orang yang pernah dan selalu mengasihi saudara, membutuhkan saudara? Setiap kita memiliki hutang Injil (Roma 1:14-15) kepada orang-orang yang dikirim Tuhan untuk kita layani. Hidup kita setelah diselamatkan Kristus harus menjadi persembahan yang hidup, yang utuh dan menyenangkan bagi Allah. Bukan ala kadarnya atau suka-suka, tapi terbaik yang kita miliki, yang dikehendaki-Nya. Mari memberi diri dengan harga yang pantas, bukan pemberian yang murahan.
Hal terpenting keempat adalah kesiapan untuk mati. “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya” (12:25). Apakah ini berarti kita menjadi nekat, siap bunuh diri, tidak perlu menghargai hidup? Tentu tidak, Markus 8:35 menuliskan: “barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya”. Kesiapan untuk mati menujuk pada prioritas hidup kita serta tuntasnya tugas yang Tuhan berikan pada kita. Banyak orang siap mati untuk menumpuk kekayaan, mencari kedudukan, mengganjal/mempersulit orang lain yang menghalangi ambisinya. Kristus siap mati, karena inilah klimaks pengutusan penebusan-Nya. Persembahan hidup dan pelayanan yang total dan tuntas, yang Tuhan terima dan menjadi berkat. Mengikut Kristus bukan sekedar permainan, namun sebuah persembahan untuk memuliakan Allah. 18Maret2018

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.