“YESUS BAIT ALLAH YANG SEJATI”

Yohanes 2 : 13 – 22

Apa yang terjadi di pelataran Bait Allah, mengapa Tuhan Yesus mengobrak-abrik orang yang berjualan di sana? mengapa bisa terjadi tindakan se-ekstrim ini? Jika kita perhatikan, setidaknya ada 3 hal: penyimpangan, pembatasan sarana ibadah, dan pemerasan, yang menjadi penghambat dalam ibadah. Inilah yang direspon cepat oleh Tuhan Yesus.
Penyimpangan. Bait Allah yang seharusnya menjadi tanda kehadiran dan penyataan Allah di tengah umat, telah beralih fungsi menjadi sarana memperkaya diri dan upaya pembodohan umat. Kehadiran umat yang telah mempersiapkan diri dengan tulus, tercederai dengan suasana pasar yang membakar emosi umat. Dalam suasana seperti ini, keteduhan hati bisa berubah menjadi kemarahan atau bahkan tawar hati. Lalu bagaimana umat bisa beribadah dengan khusuk? Penyimpangan ini juga membuahkan pembodohan, karena orientasi pertobatan umat dialihkan dari pertobatan hati kepada upaya membayar dosa dengan pengorbanan material. Hewan serta uang yang dibawa seolah selalu ada cacat atau kekurang-layakannya, sehingga dianggap tidak memenuhi syarat korban penghapus dosa, dengan demikian harus diganti dengan cara membeli di sana. Padahal hewan yang sama (yang semula dianggap tidak layak) menjadi komoditi transaksi berikutnya (orang yang datang kemudian).
Pembatasan sarana ibadah. Dari segi tata ruang, pelataran luar adalah satu-satunya tempat (di Bait Allah) bagi orang non-Yahudi. Di sana orang Yahudi bisa bersaksi kepada kaum non Yahudi serta memberitakan tentang Allah yang hidup dan Esa. Karena menjadi satu-satunya tepat, maka di mana lagi kaum non Yahudi dapat mendengar kesaksian serta bimbingan rohani tentang Allah? Kini ruang dan kesempatan itu telang hilang, alih-alih menjadi tempat bersaksi atau beribadah, tempat itu malah menjadi tempat transaksi dan kandang bagi hewan kurban. Bait Allah yang seharusnya terbuka bagi setiap jiwa yang terpanggil dalam ibadah, yang mengalami pertobatan dan pemulihan, justru mengalami penolakan, kekecewaan dan tawar hati.
Pemerasan. Selain menjadi tempat penjualan hewan kurban, pelataran Bait Allah juga menjadi tempat penukaran mata uang asing dengan mata uang syikal untuk dipersembahkan. Jual-beli dan penukaran uang sebenarnya merupakan urusan “di luar Bait Allah”, apalagi dengan komersialisasi disertai upaya menarik keuntungan kepada mereka yang terjepit (terpaksa harus menukar tanpa bisa menawar). Di sinilah pemerasan terjadi. Kejahatan dan penyelewengan menyusup ke Bait Allah melalui perbuatan orang-orang yang mengambil untung dengan memanfaatkan ketidak-tahuan, bahkan bisa diwarnai intimidasi. Keterjepitan membuat umat mau tidak mau harus membayar mahal.
Meski sudah lama terjadi, namun praktek-praktek yang mengotori makna Bait Allah ini terus terjadi. Hal ini sesuai catatan Yeremia 7:11, “Sudahkah menjadi sarang penyamun di matamu rumah yang atasnya nama-Ku diserukan ini?”. Inilah sebabnya Tuhan Yesus melakukan tindakan radikal dengan mengembalikan makna Bait Allah yang sebenarnya. Bukan kebetulan kalau kejadian ini berdekatan dengan kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus, sehingga Dia mengatakan: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Bait Allah yang sejati ada di dalam diri Tuhan Yesus, bahkan ketika kita tidak memiliki gedung secara fisik, jemaat sebagai tubuh Kristus menjadi sebuah wadah persekutuan agar umat mengalami pertobatan, doa dan ibadah sejati.
Sebagai Bait Allah yang sejati, Tuhan Yesus: mengemukakan prinsip kebenaran dengan penuh keberanian dan wibawa, sehingga membawa umat kepada penggenapan janji.
Prinsip kebenaran yang dikemukakan Tuhan Yesus adalah pemulihan makna Bait Allah sebagai rumah pertobatan, tempat ibadah dan rumah doa. Bahkan Matius 21:14 mencatat “Maka datanglah orang-orang buta dan orang-orang timpang kepada-Nya dalam Bait Allah itu dan mereka disembuhkan-Nya.” Bait Allah bukan hanya rumah bagi orang kudus dan tak bercacat, melainkan rumah pemulihan bagi mereka yang berdosa dan sakit.
Keberanian Tuhan Yesus sangat luar biasa, Dia telah membongkar praktek pengotoran Bait Allah yang sudah lama dan tak tersentuh. Bagaimana mungkin tindakan ekstrim satu orang ini bisa tanpa perlawanan yang berarti? Ini menunjukkan bahwa keberanian Tuhan Yesus lebih dari sekedar unjuk kekuatan fisik, melainkan wibawa yang membungkam para pelaku.
Penggenapan janji Allah terjadi ketika umat mengalami pertobatan dan pemulihan. Namun mencapai puncaknya, ketika Tuhan Yesus disalib, mati, dan bangkit. Bait Allah yang sejati di dalam diri Tuhan Yesus menunjukkan bahwa kurban yang dilambangkan dengan penyembelihan hewan dan percikan darah, telah digenapi dengan kurban seorang manusia yang tak bercacat. Hanya dengan penggenapan inilah, semua kurban yang lalu menjadi berarti. Semua symbol di masa lalu hanya benar-benar diterima sebagai pendamai ketika penggenapan symbol digenapi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.