“Pembaharuan Hidup”

Markus 1 : 9 – 15

Setiap tahun remaja gereja kami mengadakan camping (berkemah). Kegiatan camping ini bertujuan mengasah karakter kristiani, keakraban, solidaritas, dan kerjasama dalam tim. Kami membawa perlengkapan berkemah, alat masak, bahan baku untuk dimasak dan dimakan di tempat perkemahan. Peserta dibagi dalam kelompok dan setiap kelompok harus mendirikan kemah sendiri, masak untuk kelompoknya dan kelompok besar. Ada syarat tertentu untuk dapat menjadi peserta camping ini. Syarat itu antara lain mau berbagi dan bekerja sama dalam tim. Hanya yang memenuhi syarat boleh ikut camping.
Seperti cinta dan iman teruji saat menghadapi situasi sulit, demikianpun dengan karakter seseorang. Karakter seseorang akan teruji saat menghadapi situasi sulit. Satu ketika saat waktunya pulang setelah 4 hari 3 malam di tempat perkemahan, kami menghadapi masalah yaitu cuaca yang buruk sekali (hujan lebat luar biasa), sehingga kami tidak dapat turun dari perkemahan ke lokasi kendaraan yang akan membawa kami kembali ke Jakarta. Tentu semua peserta dalam keadaan amat lelah. Bersyukur ada satu pendopo yang dapat menampung seluruh peserta untuk berteduh. Perlengkapan berkemah sudah rapi siap dibawa pulang. Bahan makanan sudah habis semua. Hujan tak kunjung berhenti dan kelaparan mulai dirasakan seluruh peserta. Satu persatu peserta mengeluarkan perbekalan pribadi yang masih ada untuk mengusir kelaparan semua peserta. Namun lapar belum teratasi. Sebagai pembimbing saya meminta seorang peserta yang belum mengeluarkan perbekalan pribadinya untuk dinikmati bersama. Ia berkata bahwa ia tidak bersedia membagi perbekalannya karena makanan itu untuk persediaannya di bus nanti. Nah nampaklah karakter yang belum menunjukkan karakter kristiani. Ia belum sanggup berbagi dan menjadi berkat. Ia lolos persyaratan untuk ikut camping, tetapi dia masih harus diuji karakternya saat sulit dihadapi.
Setelah diadakan percakapan pribadi dengannya barulah ia merelakan semua perbekalannya untuk dinikmati semua peserta. Syukurlah dia akhirnya lulus juga uji karakter, pengendalian, penyangkalan dirinya dan jadi berkat. Ia sudah menampilkan pembaruan karakternya.
Pembaruan hidup bukan sekadar status setelah dibaptis atau selesai mengikuti program pembinaan/pendidikan, tetapi memang harus melewati batu uji, situasi sulit bahkan amat sulit. Lihatlah Yesus pun setelah diproklamasikan oleh Allah Bapa saat baptisan-Nya, bahwa Ia anak yang dikasihi Bapa dan yang kepada-Nya Allah Bapa bekenan harus melewati batu uji di padang gurun (tempat pembinasaan, penuh ancaman binatang buas) dalam keadaan lapar dan lemah fisik setelah berpuasa 40 hari 40 malam, Ia dicobai iblis berulang kali. Dan Yesus berhasil mengatasi cobaan itu. Ia berhasil menunjukkan ketaatan-Nya kepada Allah Bapa-Nya. Dan Ia siap menjadi berkat, membawa berita Injil yang berisi keselamatan bagi dunia (Markus 1: 11, 13, 14). Tentu kitapun perlu berpola kepada Tuhan Yesus agar kita boleh menampilkan pembaruan hidup yang membawa injil (kabar baik, berkat) kepada sesama kita. (dsy-18 februari 2018)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.