“Pewarta Yang memulihkan”

(Yohanes 1 : 6 – 8; 19 – 28)
Oleh: Pdt. Untari Setyowati

Saudara yang dikasihi Kristus,
Ada pepatah yang mengatakan: “Kalau sudah duduk, lupa berdiri”. Hal ini biasanya ditujukan kepada orang-orang yang tidak bersedia melakukan regenerasi organisasi, tidak bersedia posisinya digantikan oleh orang lain. Entah karena posisi tersebut nyaman sehingga sulit mengakui bahwa dirinya sudah waktunya berganti, atau pun mengalami post power syndrome (mengalami masalah psikologi: ia biasa memimpin dan saat tidak menjadi pemimpin, ia menjadi penganggu). Padahal, regenerasi adalah hal yang umum, siapa pun pasti mengalaminya di tengah kehidupan ini. Ada saatnya menjadi murid, ada saatnya menjadi Guru. Ada saatnya bekerja, ada saatnya pensiun. Ada saatnya dikenal dan menjadi terkenal, namun ada saatnya tak dikenal.
Berita Firman pada minggu hari ini mengajak kita mengenal lebih dekat seorang Yohanes Pembaptis, sang pembuka jalan. Sebagai nazir Allah, ia terlahir dalam keluarga yang dipersiapkan Allah untuk menjadi ‘pesuruh khusus Allah’, dilahirkan mendahului kelahiran Sang Juru Selamat. Lihatlah sikap hidup Yohanes Pembaptis, saat ditanya mengenai ‘siapa dirinya’ (lihat ayat 19,20,27). Sebagai orang yang memiliki kuasa, power (karena Sang Juru Selamat belum waktunya menampakkan diri), ia memilih tidak aji mumpung. Yohanes memang pemimpin yang muncul saat itu membawa ‘warna’ berbeda dari pemimpin yang umum. Tetapi ia rendah hati, ia sadar bahwa tugasnya hanya sebagai pembuka jalan. Dengan tegas, saat ditanya oleh beberapa imam dan orang Lewi (lambang kehadiran pemuka agama Yahudi), ia menyatakan dirinya ‘bukan Mesias’. Yohanes memiliki peluang untuk membuat dunia mencatatkan namanya sebagai Mesias, tapi ia memilih konsisten, sadar sesadar-sadarnya, bahwa ia adalah pembuka jalan, bukan “Sang Terang”, yang bahkan membuka tali kasut – sebuah keramahan orang Yahudi terhadap tamu yang mengunjungi rumahnya – ia sadar, tak layak.
Ketika umat Yahudi kecewa kepada para pemimpin agamanya yang memilih untuk menjaga jarak serta tidak merakyat, maka Yohanes sebagai pewarta memiliki tugas untuk memulihkan kepercayaan orang banyak terhadap seorang pemimpin, yang berbeda dengan para pemuka agama saat itu, dengan sikap ‘sudah duduk, lupa berdiri’. Dan Yohanes berhasil melakukannya, karena ia memiliki integritas, rendah hati dan dapat dipercaya.
Memasuki Minggu ke-3 masa Adven ini, mari Saudara kita jaga integritas diri kita sebagai murid Kristus, yang bertugas mengabarkan berita damai sejahtera kepada dunia dalam sikap rendah hati dan dapat dipercaya. (US)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.