“MENYEMBAH DALAM ROH DAN KEBENARAN”

Oleh Pdt. Em. Agus Susanto
Baca : Yohanes 4 : 5 – 42

Mendengar kata ‘sembah’ maka asosiasi kita langsung tertuju kepada sebuah kegiatan ‘ibadah’ yang sifatnya melakukan kegiatan ritual (menyanyi, berdoa, baca firman, dengar kotbah, memberi persembahan dsb). Tentu hal ini sama sekali tidak salah, karena memang itulah yang kita lakukan dalam menjalankan ibadah seperti sekarang ini, namun demikian juga bisa dikatakan ‘tidak sepenuhnya benar’, mengapa? Karena ibadah itu sesungguhnya bukan hanya melakukan kegiatan ritual semata, tetapi jauh lebih luas dan menyeluruh, bahkan menyangkut seluruh keberadaan kita dimana saja, kapan saja dan dalam segala keadaan. Mau tidak mau, suka tidak suka pemahaman seperti inilah kita menghayati ibadah. Kita tidak bisa membatasi kegiatan ibadah itu hanya didalam gereja semata, tetapi kegiatan ibadah yang sepenuhnya itu justru kita lakukan ‘diluar gereja’, dalam perjumpaan kita dengan ‘dunia’ itulah kita dituntut untuk menyatakan ibadah yang sesungguhnya, dalam perjumpaan kita dengan ketidak adilan, perseteruan, permusuhan, dsb justru disanalah kita ditantang untuk menyatakan ekspresi dan penyembahan kita kepada Tuhan yang penuh cinta.

Dalam pemahaman seperti inilah Yesus berujar: “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran” (Yoh. 4:24) Kehadiran Allah itu tidak terikat oleh ruang dan waktu sehingga tidak bisa dibatasi oleh ruang dan waktu itu sendiri, tetapi dimana saja, kapan saja, kita diminta untuk menyatakan penyembahan kita kepada Tuhan ‘Maha Hadir’. Ekspresi penyembahan kitapun tidak bisa kita lakukan dengan sikap ‘apa yang aku mau’ tetapi harus mengacu pada ‘apa yang Tuhan mau’ yaitu kebenaran Allah.

Itulah sebabnya Paulus sangat memberi impresi terhadap ibadah semacam itu: “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasehatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah; itu adalah ibadahmu yang sejati” (Roma 12:1) Yang hidup, berarti ibadah itu seluas kehidupan itu sendiri. Yang kudus dan berkenan, berarti bukan ‘semau gue’ tetapi sebagaimana yang Tuhan kehendaki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.