Belarasa Yesus

(Matius 25 :31 – 46)
Oleh: Pdt.Omo Hasim
Sesuai kalender gerejawi, Minggu ini tanggal 26 November 2017 merupakan Minggu Kristus Raja, Minggu sebelum memasuki masa raya Adven. Minggu Kristus Raja mewartakan kabar kedatangan Anak Manusia dengan kemuliaanNya untuk mengadili manusia. Penghakiman terakhir adalah penghakiman yang bersifat universal. Semua orang akan berdiri di hadapan Hakim dan tidak seorangpun dikecualikan dari penghakiman Kristus.
Pengajaran Yesus melalui perumpamaan-perumpamaan tentang akhir jaman dengan jelas menyampaikan prinsip pemisahan dan penghakiman. Pada akhir zaman, bangsa-
bangsa akan dikumpulkan di hadapan Anak Manusia yang duduk di atas takhta-Nya dalam kemuliaan Surgawi. Dan Hakim itu akan memisahkan manusia satu dengan yang lain seperti gembala yang memisahkan kawanan domba dari kambing. Gembala akan menempatkan domba di sebelah kanan dan kambing di sebelah kiri.
Perlakukan gembala kepada domba-dombanya merupakan analogi dari tindakan Yesus sebagai Hakim yang menerima semua orang terpilih sejak semula dan telah dibawa ke hadapan-Nya. Mereka adalah orang-orang benar yang bersukacita mendengar undangan
Kristus Raja :”Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan”;. Undangan ini menyatakan bahwa keselamatan bagi orang-orang benar bukan berdasarkan pada perbuatan-perbuatan baik mereka tetapi berdasarkan anugerah kebaikan hati Allah Bapa yang sejak semula telah menyediakan kemuliaan Sorgawi kepada orang-orang benar. Menerima kemuliaan sorgawi adalah pengharapan setiap orang beriman. Di dalam penantian kegenapan pengharapan sorgawi, Kristus Raja selalu mengingatkan umat beriman untuk tetap berjaga-jaga dan bertanggung
jawab menjalankan kehidupan sebagai orang-orang benar sesuai panggilanNya. Injil Matius 25:31-46 mengingatkan dan mendorong umat beriman untuk melaksanakan perintah agung Tuhan Yesus yang kedua yakni mengasihi sesama manusia (Mat. 22:39). Dengan demikian, Injil selalu berkaitan dengan berbagai implikasi sosial. Injil memberitakan bahwa Yesus tidak
hanya berkenosis (mengosongkan diri) untuk tujuan soteriologis (keselamatan) manusia melainkan juga untuk misi sosial, yaitu keberpihakan pada golongan yang diremehkan oleh dunia, “…sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari
saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Matius 25:40). Dengan jelas Yesus mengidentikkan diri-Nya dengan mereka yang hidupnya jauh berada di bawah garis kecukupan.
Hati dan jiwaNya dipenuhi oleh luapan bela rasa. Ia merasakan kelaparan dan kehausan – orang orang miskin yang menderita kekurangan makanan dan minuman untuk mempertahankan hidup mereka. Ia menjadi orang asing yang tidak memiliki tempat berteduh. Ia menggigil kedinginan di tengah mereka yang tidak mempunyai selembar baju untuk menutupi ketelanjangannya. Ia mengerang kesakitan di antara orang-orang yang sedang sekarat karena sakit yang tidak tersembuhkan. Ia juga mengalami kesendirian dan keterasingan orang-orang yang terhukum dalam penjara karena ketidakadilan. Keberadaan orang-orang yang kurang beruntung di sekitar kita merupakan sebuah ujian untuk menguji
seberapa jauh kita telah mengenal Kristus dan mengalami kasih-Nya. Sama seperti Kristus yang peduli dan melayani orang-orang yang berdosa dan tersisih, demikian pula setiap orang percaya ditantang untuk memperhatikan orang-orang kecil di sekitarnya. Tindakan memperhatikan sesama yang paling hina adalah ciri orang-orang benar yang melakukan pelayanan kemanusiaan dengan tulus hati, bukan untuk tujuan mendapatkan hak masuk kerajaan sorga, tapi sebagai ungkapan syukur atas anugerah keselamatan dan kemuliaan soragwi yang telah disediakan Allah. Tatkala Kristus nanti datang kembali, kepekaan kita
terhadap kebutuhan orang lain akan disorot, pengorbanan kita untuk orang lain akan diukur. Karena ukuran yang dipakai dalam Kerajaan Allah bukan terutama berdasarkan pada ketaatan menjalankan ritual keagamaan, dan kesalehan pribadi, tetapi pada soal kedalaman spiritualitas, dimana kesalehan ritual berjalan seiring dengan kesalehan sosial, dan kesalehan pribadi mewujud dalam tindakan yang berbelas kasihan.
Melayani Tuhan dan melayani sesama merupakan panggilan yang begitu esensial dalam kehidupan umat percaya. Apa yang kita lakuan kepada sesama pada hakikatnya kita lakukan untuk Kristus. Sesama manusia bukan sekedar “orang-orang di sekitar” kita, namun
sesama adalah manifestasi dari wajah Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
Injil Kristus sebagai kabar baik harus menjadi suatu kabar yang meneguhkan harkat dan martabat kemanusiaan. Tugas memberitakan Injil berarti membuka setiap sekat dan belenggu, sehingga tercipta suatu ruang kasih yang berbela-rasa. Karena itu kita wajib memperlakukan setiap orang sebagai sahabat-sahabat Kristus.
Marilah kita berjuang sebagai anak-anak kerajaan untuk memperluas kehadiran nilai-nilai Kerajaan Allah melalui profesi, harta, tenaga, pikiran, waktu, dan segala sumber daya lain yang kita miliki, kita bisa mengupayakan terciptanya kondisi-kondisi dimana nilai-nilai Kerajaan Allah hadir dan meluas dalam berbagai bidang kehidupan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.